Sabtu, 21 Februari 2026

Mungkinkah Besok akan Sama?

 

Hari ini tidak begitu dingin, juga tidak begitu panas. Seharian ini matahari tidak terlalu memamerkan dirinya, jadi hari terasa cukup tenang. Dan menyenangkan, kuharap. Paling tidak di sisa sore hari ini. Aku bangkit dari tempat dudukku di samping jendela setelah memastikan seluruh barang-barangku telah masuk ke dalam ransel biruku dengan sempurna. Aku merasakan ada gerakan di belakangku yang kuasumsikan seseorang tersebut juga sedang bersiap untuk pulang. Sekilas kulirik jam tanganku, pukul 5 sore, hmm pantas saja.

    Kulihat sekali lagi meja di hadapanku, memastikan tidak ada barang yang tertinggal, baru kulanjutkan langkah menuju beberapa orang yang sedang menikmati cemilan sore hari. “Aku pulang duluan, ya,” ujarku sambil memperlambat langkahku. “Iya. Hati-hati, ya,” balas mereka hampir bersamaan.

    Sudah tak ada lagi pegawai yang tersisa selain orang-orang tadi, jadi kulanjutkan langkahku dengan mantap menuju pintu keluar di ujung ruangan. Langsung kutempelkan kartu akses pintu yang menggantung di leherku begitu sampai, sepersekian detik pintu kaca di depanku terbuka dan sepersekian detik juga pintu kaca di seberang terbuka. Kemudian kedua mata kami bertemu. Cukup singkat, tapi cukup buatku untuk mengenali orang itu. Seorang pegawai laki-laki mengenakan jaket merah gelap, yang kemudian berjalan menuju lift yang terbuka—lift yang ada di hadapanku. Di dalam lift, kutatap ujung sepatuku, “Apakah dia ingat juga?” tanyaku dalam hati.

    Seperti yang kubilang tadi, hari ini terasa cukup tenang. Ternyata, bahkan angin pun tidak berbisik. Sial, fakta bahwa kemungkinan aku akan berkeringat sudah membuat perjalanan pulang kali ini tidak menyenangkan… atau tidak. Langkahku melambat seketika mendapati orang itu berjalan mendahuluiku dan sekarang sudah beberapa langkah jauh di depanku. Ada 4 akses keluar-masuk untuk pejalan kaki di area tempatku bekerja, saat ini kami—ya, aku dan laki-laki berjaket merah itu—sedang menuju pintu 1 dan 2. Ia terus melangkah lurus menuju pintu 1 dan aku belok kiri menuju pintu 2, tanpa sadar aku bergumam kecil, “Jadi dia pulang naik bis.”

    Cukup, Laura.

  Drrttt… drrttt…

    Pesan dari bapakku yang mengatakan akan berangkat untuk menjemputku di stasiun MRT tujuanku. Kubalas singkat mengiyakan sebelum melangkahkan kaki keluar dari area kantorku. Belum cukup panjang perjalanan ini, di hadapanku masih ada jalan panjang lain menuju pintu masuk stasiun MRT yang harus kutempuh. Tunggu, di hadapanku bukan hanya ada jalan panjang yang akan menghadiahiku beribu keringat. Ada jaket merah gelap yang tadi sempat kulihat. Aku tertawa kecil, apa yang ada di pikirannya sampai memilih jalur yang lebih jauh?

    Cukup, Laura. Kau memang malas.

    Dan ya, mata kami bertemu kembali. Hanya itu, tak ada gestur lain.

    Kubiarkan pikiranku berjalan sendiri, aku ingin cepat pulang dan mandi. Langkahku kembali mantap menuju stasiun MRT dan akhirnya aku pun sampai di peron tempat MRT tujuanku setelah eskalator panjang dan tangga yang juga panjang. Aku mendongak untuk melihat informasi waktu kedatangan pada papan informasi digital di atasku, 17.28. Baiklah, lima menit lagi. Belum kembali pandanganku pada pintu pembatas peron dan area rel kereta, pandanganku bertemu kembali pada laki-laki itu yang sedang berjalan menuju peron yang sama denganku.

    Bahkan angin tak muncul untuk ikut tertawa bersamaku. Kutatap lagi ujung sepatuku sambil tertawa dalam diamku sendiri, menahan keinginanku untuk melirik kearahnya. “Mungkinkah besok akan sama?”

Sabtu, 23 Oktober 2021

Kejahatan

Bukankah suatu kejahatan jika menarikku keluar hanya untuk menyiksaku dengan kebahagiaan yang bukan milikku?

Aku semakin tersiksa karena sadar aku tak tahu siapa yang menarikku keluar.

Semakin menyedihkannya aku, merangkak kembali pun aku tak mampu.

Diam pun aku tak mau.

Tidak dengan isi kepalaku penuh dengan jikalau dan kenapa.

Sungguh, bahkan meminta pertolongan pun aku tak tahu di mana aku akan memulai.

Atau…

Sepertinya aku butuh pertolongan dari diriku sendiri.

Aku terlanjur ada di luar.

Tolong…

Jumat, 16 Juli 2021

Pensil

Aku suka pensil. Sebuah alat berujung karbon yang sanggup mengubah sepi menjadi ramai. Paling tidak bagiku, sebuah pensil cukup buatku mengisi kosong hidupku. Pensil juga cukup memberiku semangat saatku lelah. Oh, percayalah aku serius.

Ya, semua membuatku lelah. Bahkan diriku sendiri.

Aku meruncingkan pensilku pagi itu, entah sudah yang keberapa kali. Aku selalu membuat pensilku runcing sekali; tajam. Aku suka benda tajam. Hmm, sekarang mungkin kau sudah bisa menilai aku orang seperti apa, kan? Baik, tak apa.

Ngomong-ngomong koridor sangat sepi, suara serutan pensilku bahkan ramai sekali rasanya. Oh, aku tidak peduli memang, tapi entah mengapa terlintas di pikiranku begitu saja. Lihat kan bagaimana diriku membuatku lelah. Aku menggelengkan kepala, heran.

Siap sudah pensilku.

“Hoi, cewek jagung!”

Seketika langkahku terhenti. Satu langkah lagi aku mencapai perpustakaan. Aku kenal jelas suara itu. Perempuan salon yang tiada hentinya memanggilku cewek jagung sejak SD.

“Minggir! Pandanganku terhalang rambut kusutmu, tahu!” teriaknya lagi, diiringi tawa mencemooh dari koloninya yang memiliki rambut teratur, sama persis seperti milik bosnya.

Aku mendengus kesal kemudian menoleh dan mendapati dirinya bersama kaki-kaki jenjangnya melangkah semakin mendekat. Aku mengepalkan tangan kiriku dan kurasakan pensil yang kugenggam mengeluarkan suara gemeretak.

Aku muak.

Sedetik kemudian suara pilu tusukan terdengar keras sekali di telingaku. Lagi-lagi aku mampu membuat kebisingan hanya dengan sebuah pensil. Hanya aku yang bisa. Kuseka darah yang mengenai wajahku dengan lengan seragamku sambil tersenyum. Senyum sinis adalah bentuk simpatiku. Aku menang.

Katrina roboh, duduk terjongkok sambil memegangi luka lehernya yang terus mengeluarkan darah. Kedua temannya panik mengerubungi Katrina sambil dengan hati-hati menyelamatkan rambutnya dari aliran darah yang terus mengalir. Sedangkan aku, tawa menggantikan senyumku yang tadi. Tawa kemenangan mutlak.

Salah satu anak buah Katrina lalu berdiri, menatapku dengan tatapan membunuh meskipun ketakutannya tak berhasil tertutupi. Tawaku reda seketika, tergantikan seringai yang membuatnya membelalak. Tergagap, suaranya mencicit dan menakutiku—menurutnya. “Kulaporkan, kau!”

Kepalanku semakin keras. Serutan yang ada di genggaman kananku bergemeretak, retak. Dan kurasakan sedikit telapak tanganku tergores. Aku mendengus menantang, “Oh, ya?”

Dan dengan satu gerakan tangan sekaligus jeritan membungkam udara sekeliling.

Kurasakan tanganku menggantung lemas di samping tubuhku. Hidungku mendadak lupa caranya bernapas. Jeritan mendobrak masuk ke telingaku. Tanpa ampun mengeroyokku.

Seketika ingatan itu bermunculan. Dengan tegang kedua tanganku menutup daun telingaku sendiri, dan sekejap suara jeritan melengking itu berubah menjadi suara jeritanku sendiri yang kemudian hilang. Dapat kurasakan darah segar mengalir memenuhi rongga mulutku, membungkamku. Jeritan berganti isakan lemah. Aku lelah. Lalu tawa keras tumpah mengguyurku, kepalaku. Menambah perih luka yang tak tertahan lagi. Tawa itu semakin penuh dan keras. Makin keras. Keras sekali.

Sampai pada akhirnya suara mengerikan itu hilang terserap oksigen yang kemudian kembali kuhirup. Tubuhku menuntut oksigen lebih banyak. Mulutku terbuka, bukan untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, tapi untuk berteriak sekeras-kerasnya.

Tiba-tiba sebuah tangan berat memukul wajahku. Tubuhku limbung, ambruk ke lantai yang dingin. Kepalaku terbentur. Kulihat samar pensil menggelinding meninggalkan genggamanku, aku mendengus lemah sekali lagi menertawakan diriku sendiri. Sudah kubilang, aku lelah. Terlalu lelah.

Beberapa suara mencoba menjemputku, tapi gagal.

Hitam.

Gelap.

Sunyi.

Minggu, 02 Mei 2021

Aku Tak Mengerti

 Air mataku deras, namun tak ada teriakan

Aku meringkuk, namun aku merasakan semuanya

Aku tertidur, namun aku melihat dengan jelas

Aku tak mengerti

 

Aku diam di tempat, namun aku lelah

Aku merasakan sinar matahari, namun aku beku

Aku menapaki rumput berembun, namun aku tenggelam

Aku tak mengerti

 

Sudah lama menjadi satu, namun ingatan masih mengalun

Sudah lama menjadi kelabu, namun memori itu masih harum

Sudah lama selesai, namun aku tak mengerti

Rabu, 03 Maret 2021

Ah... A...

Aku lelah.

Aku pun lupa bahagia.


Ada suara, tapi tak pecah.

Banyak telinga, tapi tak ada.


Ingin aku pasrah.

Ternyata masih Selasa.


Sudahlah, begini adanya.

Minggu, 02 Agustus 2020

Pintu

Bagaimana aku bisa keluar jika tak ada pintu?
Ataukah sebenarnya ada tapi tak terlihat?

Bukan, aku yang tak ingin melihatnya
Bahkan aku tak ingin mencarinya

Karena aku memilih tetap di sini
Meski tak ada yang lainnya lagi

Karena aku memilih tidak pergi
Meski aku rindu bau embun pagi

Karena aku membiarkan diriku terkurung
Meski teringat senja membuatku hangat

Karena aku membiarkan malam memelukku
Erat dengan semua memori yang ada

Senin, 27 April 2020

Ada Di Sini


Ada pahit di kopi yang dibiarkan dingin
Ada air mata yang mengering karena dingin
Ada aku yang kokoh di sini, namun rapuh di cermin
Ada doa yang terucap sebelum padamnya lilin
Ada pelangi terlukis di kenangan kemarin
Ada rindu yang terlalu riang bermain

Di sini, aku masih hidup di hari kemarin
Di sini, terlihat jelas aku sedang merindu
Di sini, hatiku berharap namun mulutku membisu
Di sini, mataku terpejam sendu
Kemarin, ketika mataku terpejam sendu selagi berharap dengan mulut yang membisu, jelas aku rindu

Di sini, aku rindu kemarin