Malam ini, malam jauh sesudah terjadi perang dan kematian Voldemort. Malam ini, tugas Hermione dan Draco untuk patroli berkeliling Hogwarts.
Hermione memilih untuk tidak berpatroli bersama Draco. Hermione memilih untuk pergi sendiri.
***
Hermione keluar dari Asrama Ketua Murid lebih dulu. Hermione mengambil tongkat dari dalam jubahnya lalu mengangkatnya tepat di depan dadanya. "Lumos" ucap Hermione kemudian, cahaya putih muncul dari ujung tongkatnya.
Hermione melangkahkan kakinya dengan pelan dan santai. Mata cokelatnya memandang sekeliling memastikan tidak ada murid yang masih berkeliaran di atas jam malam.
Matanya tidak fokus, tidak seperti tujuan awalnya. Pikirannya melayang, kini pikirannya menerawang pada malam dimana ia dan Draco ... . Jauh sebelum perang terjadi.
***
Kedua Ketua Murid berjalan berdampingan tetapi, jarak di antara mereka lebih dari satu meter.
'Aku harus putuskan' batin Draco. 'Aku harus bicara dengan Malfoy sekarang' batin Hermione berbicara dengan yakin. 'Ini waktu yang tepat' Draco bicara dalam hati.
"Bisa kita ..." Hermione dan Draco berkata hampir bersamaan dan juga memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Kau duluan saja, Draco"
"Tidak, kau saja" ujar Draco kikuk.
"Kau saja"
"Kau saja, Hermione" suara Draco agak keras.
"Kau"
"Kau"
"Kau"
"Baiklah, aku saja" ujar kedua Ketua Murid bersamaan.
"Ng... aku..." Hermione mencoba mencari kata-kata untuk memulai, tetapi sudah tidak perlu karena Draco sudah memulai berbicara seolah ia tahu apa yang ingin dibicarakan Hermione.
"Aku harus bicara denganmu, Hermione" ucap Draco mendahului Hermione.
"Aku juga" ujar Hermione. "Ikut aku" Draco meraih tangan Hermione, membawanya menuju kelas terdekat. Hermione mengikuti langkah Draco.
"Aku ingin bicara denganmu" ucap Draco. Ia menggenggam tangan Hermione yang satu lagi.
Mata cokelat Hermione bertemu pandang dengan mata biru-kelabu Draco. "Aku sudah memutuskan" ujar Draco pelan. "Tapi aku tidak mau itu terjadi" Hermione mendekat ke tubuh Draco dan memeluknya. "Aku percaya kau di pihak kami" bisik Hermione. Draco memeluk balik Hermione, bahkan lebih erat. "Tapi aku harus, Hermione" ucap Draco pelan. Ia melepas pelukannya.
"Tapi Draco, aku.." bibir Hermione langsung tertutup karena Draco menempelkan telunjuknya di bibir Hermione. "Aku juga, Hermione."
Kini Hermione tidak bisa lagi menahan air matanya lagi. Air matanya jatuh di pipinya yang halus. Tangan Draco mengusap air mata Hermione.
Hermione menunduk, berusaha menutupi raut wajahnya yang sedih tetapi suara tangis kecilnya masih terdengar.
Kedua tangan Draco kini berada di pipi Hermione dan mencoba mengangkat wajah Hermione dengan lembut. Hermione mengangkat wajahnya. Ibu jari Draco mengelus pipi Hermione dengan sayang.
Draco menunduk dan detik berikutnya Draco mencium bibir Hermione.
Draco menjauhkan bibirnya dari bibir Hermione dan berkata "Ini keputusanku, Hermione." Tidak ada suara yang keluar dari bibir Hermione. Hanya anggukan kecil yang menandakan mengerti.
"Tapi... aku ingin kau melakukan satu hal untukku, Draco" pinta Hermione.
"Baiklah, Hermione. Apa ?" tanya Draco.
"Aku ingin kau mengucapkan..." belum selesai Hermione berbicara, Draco sudah berbicara terlebih dulu. Ia tahu apa yang Hermione ingin katakan.
"Aku mencintaimu, Hermione Granger" ucap Draco diiringi senyuman.
Hermione tersenyum. Ia meraih pipi Draco. Ia berjinjit agar bibirnya dapat mencapai bibir Draco.
***
Langkah Hermione terhenti karena indera pendengarannya mendengar suara langkah kaki. Dengan sigap, Hermione mengarahkan tongkatnya ke arah sumber suara.
Suara langkah kaki itu makin mendekat. Detak jantung Hermione berdetak semakin cepat.
Suara langkah kaki itu makin jelas terdengar. Setitik cahaya putih terlihat dari arah depan Hermione.
Makin dekat makin jelas terlihat bahwa itu adalah seorang pria. Makin jelas terlihat wajahnya karena terkena sinar dari tongkat pria itu.
Kening Hermione berkerut "Dra--Malfoy". "Hermione" ucap Draco pelan.
"Bisa bicara denganmu sebentar, Hermione" Draco menurunkan tongkatnya dan cahaya di tongkatnya pun mati.
Ragu, Hermione mengangguk. "Kita bicara di tempat lain" ujar Draco.
Draco mengulurkan tangan kirinya, matanya menatap Hermione.
Tangan kanan Hermione meraih tangan Draco.
Mereka berjalan menuju taman. Mereka berjalan bersisian dengan langkah kaki seirama.
Langit malam yang hitam berhiaskan bintik-bintik bintang bersama bulan yang berbentuk lingkaran sempurna, memancarkan sinar yang indah. Malam bulan purnama.
Mata biru-kelabu bertemu pandang dengan mata cokelat indah itu. Pria berambut pirang kini berdiri berhadapan dengan gadis berambut cokelat yang cantik.
"Apa yang ingin kau bicarakan ?" tanya gadis berambut cokelat.
"Aku ingin bicara tentang kita, Hermione" tegas pria berambut pirang.
"Apa maksudmu ?" Hermione tidak mengerti.
"Begini..Hermione..Hermione aku..aku ingin..mencabut perkataanku."
Dengan gerakan cepat, Draco memeluk Hermione. "Aku mencintaimu, Hermione" bisik Draco halus di telinga Hermione. Hermione tersenyum mendengar ucapan Draco dan memeluk balik Draco. "Aku juga mencintaimu, Draco" balas Hermione.
Draco melepaskan pelukkannya. Draco mencium kening Hermione. Lalu, matanya kembali menatap mata Hermione.
"Kini semua telah berakhir. Kemenangan berada di pihak kita. Kegelapan telah berakhir"
"Pangeran kegelapan telah tiada" sambung Hermione.
"Ya. Dan kini tidak ada lagi yang menghalangi. Aku mencintaimu. Aku milikmu dan kau milikku. Aku tidak ingin berada jauh darimu"
"Aku ingin selalu berada di sisimu" ucap Hermione.
Draco menjauh sedikit dari Hermione, lalu berlutut di depannya. Ia menyodorkan sebuah cincin berlian dan berkata "will you marry me, Hermione Jane Granger ?"
Hermione tersenyum mendengar kalimat yang baru saja Draco katakan. "Ya, tentu saja aku mau" jawab Hermione. Draco tersenyum, meraih tangan Hermione dan menyematkan cincin itu di jari manis Hermione lalu bangkit berdiri.
Draco menunduk dan menyerongkan kepalanya.
FIN
Kamis, 10 Desember 2009
Kamis, 03 Desember 2009
Sabtu, 28 November 2009
Saturday
Hari Sabtu tanggal 28 November 2009. Gue dan semua murid 75 dateng ke sekolah mau liat pemotongan kambing dan sapi.
Pas malemnya gue smsin yang lain nanya pake baju apa tapi nggak ada yang bales. Cuma Ines yang bales tapi dia malah balik nanya. Sampe abis pulsa gue smsan sama Ines cuma masalahin baju sama resume. Dan akhirnya kita atau Ines gitu mutusin pake baju muslim bawahan celana jins tapi bawa baju bebas.
Besoknya gue bangun setengah 5 tapi gue bangun dari tempat tidur satu jam kemudian. Terus gue mandi, pas lagi makan Ines nelfon ya gitu nanya masalah malemnya.
Jam 7 kurang 15 gue jalan, pas di sekolah cuma nonton doang nggak ngapa ngapain. Nyampah doang. Mending nggak usah dateng, nitip absen ajah.
Pas malemnya gue smsin yang lain nanya pake baju apa tapi nggak ada yang bales. Cuma Ines yang bales tapi dia malah balik nanya. Sampe abis pulsa gue smsan sama Ines cuma masalahin baju sama resume. Dan akhirnya kita atau Ines gitu mutusin pake baju muslim bawahan celana jins tapi bawa baju bebas.
Besoknya gue bangun setengah 5 tapi gue bangun dari tempat tidur satu jam kemudian. Terus gue mandi, pas lagi makan Ines nelfon ya gitu nanya masalah malemnya.
Jam 7 kurang 15 gue jalan, pas di sekolah cuma nonton doang nggak ngapa ngapain. Nyampah doang. Mending nggak usah dateng, nitip absen ajah.
Senin, 23 November 2009
Sunday
Hari Minggu tanggal 22 November 2009. Niatnya sih gue mau ikut Try Out di 112.
Jam 4 tiba tiba gue bangun tapi tidur lagi. Kira kira jam 5 kurang 15, gue bangun lagi karna alarm di hp gue bunyi. Yaudah gue bangun terus solat *wudhu dulu*.
Abis solat gue tiduran lagi tapi nggak tidur, gue sms banyak orang mau nanya 'pada jadi ikut TO nggak'. Yang bales cuma Ines eh terus Qisma sms 'jadi ikut TO nggak'. Kalo gue ngikutin yang lain sih, batin gue. Setelah menghabiskan beberapa rupiah pulsa untuk sms masalah jadi ikut TO apa enggak, akhirnya diputuskan nggak jadi ikut. Ah padahal gue udah mandi tuh. Kan gue bilang kalo gue nggak jadi ikut TO ke nyokap bokap eh malah 'ngapain ikut ikutan temen sih' ah males gue. Tapi waktu itu otak gue masih fresh jadi lancar dapet alesan. Akhirnya gue nggak jadi ikut.
Jam 6 gue sarapan *disuapin haha*. Abis makan gue nonton Spongebob Squarepants. Karna gue dapet bonus jadi gue smsan sama Ines yang juga dapet bonus. Abis nonton Spongebob Squarepants, gue nonton Avatar the legend of aang. Selama nonton gue sama Ines smsan. Mulai dari sini ajah :
Ines : Bah kok gitu dah ah ntar gua buka ah abis nonton avatar dan doraemon wakaka lu lagi ngapain dah kok baru bales ?
Gue : Lagi tiduran males ngambil hp. Tuh kan bener avatar jam 7
Ines : Iya haha tau ga kenapa gua tiba tiba suka avatar
Gue : Nggak tau. Kenapa ?
Ines : Ga tau juga, tapi aangnya keren kalo ga botak huahaha
Gue : Gua malah suka zuko, ang mah masih kecil
Ines : Ah biarin zuko yang mane bang?
Gue : Yang jahat yang dari api. Dan gue paling nggak suka sama yang namanya saka, bego idiot
Ines : Oh iye iye yang raja api itu ye? gua juga suka tapi suka pas rambutnya kaga di iket gitu, trus si saka iya tuh orang bloon idiot tapi sok tau
Gue : Emang, zuko kan pernah rambutnya kaya ang yang sekarang. Gua ada cdnya dari episode 1 sampe 12
Ines : Kok lu punya sih mau dong pinjem gua jadi tergila gila ama avatar juga karena liat zuko yang rambutnya ga di iket itu kok keren sih haha
Gue : Cd bukan dvd, itu ajah gue dikasih sama adiknya tante gue, emang avatar ada berapa episode ?
Ines : Nah makanya itu gua juga kaga tau gua aja baru suka sekarang ya mana gua tau
Gue : Eh gue nggak suka sama tanda panah biru nggak jelas yang nampang di kulit ang
Ines : Iye iye ga jelas sumpah deh gua nonton daritadi ngakak ama ade gua
Gue : Iya tadi juga, si momo, apa, domba, batu pada nggak jelas. Jayus
Ines : Haha iya apalagi yang di mimpi aangnya rambutnya panjang raja api ga pake celana
ah abis sial
Gue : Masa angnya rambutnya panjang dah. Ngomongin nggak pake celana lagi
Ines : Haha iya ah mana abis sial ah sial
Udah ah segitu ajah. Abis nonton avatar gue nonton doraemon. Dan selama nonton itu juga gue sama Ines smsan. Menyela perbuatan nobita lah ngikutin iklan lah. GILA DAH POKOKNYA.
Pas sore, gue mandi kan tuh. Eh pas sikat gigi, gusi gue kesodok sikat gigi. Sampe kaga bisa ketawa gue sakit..
fin
Jam 4 tiba tiba gue bangun tapi tidur lagi. Kira kira jam 5 kurang 15, gue bangun lagi karna alarm di hp gue bunyi. Yaudah gue bangun terus solat *wudhu dulu*.
Abis solat gue tiduran lagi tapi nggak tidur, gue sms banyak orang mau nanya 'pada jadi ikut TO nggak'. Yang bales cuma Ines eh terus Qisma sms 'jadi ikut TO nggak'. Kalo gue ngikutin yang lain sih, batin gue. Setelah menghabiskan beberapa rupiah pulsa untuk sms masalah jadi ikut TO apa enggak, akhirnya diputuskan nggak jadi ikut. Ah padahal gue udah mandi tuh. Kan gue bilang kalo gue nggak jadi ikut TO ke nyokap bokap eh malah 'ngapain ikut ikutan temen sih' ah males gue. Tapi waktu itu otak gue masih fresh jadi lancar dapet alesan. Akhirnya gue nggak jadi ikut.
Jam 6 gue sarapan *disuapin haha*. Abis makan gue nonton Spongebob Squarepants. Karna gue dapet bonus jadi gue smsan sama Ines yang juga dapet bonus. Abis nonton Spongebob Squarepants, gue nonton Avatar the legend of aang. Selama nonton gue sama Ines smsan. Mulai dari sini ajah :
Ines : Bah kok gitu dah ah ntar gua buka ah abis nonton avatar dan doraemon wakaka lu lagi ngapain dah kok baru bales ?
Gue : Lagi tiduran males ngambil hp. Tuh kan bener avatar jam 7
Ines : Iya haha tau ga kenapa gua tiba tiba suka avatar
Gue : Nggak tau. Kenapa ?
Ines : Ga tau juga, tapi aangnya keren kalo ga botak huahaha
Gue : Gua malah suka zuko, ang mah masih kecil
Ines : Ah biarin zuko yang mane bang?
Gue : Yang jahat yang dari api. Dan gue paling nggak suka sama yang namanya saka, bego idiot
Ines : Oh iye iye yang raja api itu ye? gua juga suka tapi suka pas rambutnya kaga di iket gitu, trus si saka iya tuh orang bloon idiot tapi sok tau
Gue : Emang, zuko kan pernah rambutnya kaya ang yang sekarang. Gua ada cdnya dari episode 1 sampe 12
Ines : Kok lu punya sih mau dong pinjem gua jadi tergila gila ama avatar juga karena liat zuko yang rambutnya ga di iket itu kok keren sih haha
Gue : Cd bukan dvd, itu ajah gue dikasih sama adiknya tante gue, emang avatar ada berapa episode ?
Ines : Nah makanya itu gua juga kaga tau gua aja baru suka sekarang ya mana gua tau
Gue : Eh gue nggak suka sama tanda panah biru nggak jelas yang nampang di kulit ang
Ines : Iye iye ga jelas sumpah deh gua nonton daritadi ngakak ama ade gua
Gue : Iya tadi juga, si momo, apa, domba, batu pada nggak jelas. Jayus
Ines : Haha iya apalagi yang di mimpi aangnya rambutnya panjang raja api ga pake celana
ah abis sial
Gue : Masa angnya rambutnya panjang dah. Ngomongin nggak pake celana lagi
Ines : Haha iya ah mana abis sial ah sial
Udah ah segitu ajah. Abis nonton avatar gue nonton doraemon. Dan selama nonton itu juga gue sama Ines smsan. Menyela perbuatan nobita lah ngikutin iklan lah. GILA DAH POKOKNYA.
Pas sore, gue mandi kan tuh. Eh pas sikat gigi, gusi gue kesodok sikat gigi. Sampe kaga bisa ketawa gue sakit..
fin
Sabtu, 21 November 2009
2012
Waktu hari Rabu tanggal 18 November 2009, gue *seperti biasa* sama Ines nonton *dan seperti biasa lagi* di Puri XXI Mall Puri Indah. Kita mau nonton 2012. Kita emang udah niat dari hari Selasa mau nonton hari Rabu dan akhirnya hari Rabu kita jadi nonton.
Pulang sekolah, karna hari Rabu ya gue piket dulu lah. Abis piket, kita langsung keluar sekolah nyari B04 di depan sekolah. Nggak nyampe setengah jam, B04 datang dan kita masuk. Di dalem udah ada 2 anak 75 cewek sama cowok tapi kayanya mereka nggak saling kenal. Yang cowok gue nggak tau namanya tapi gue pernah liat *namanya juga satu sekolah, haha*. Kalo yang cewek gue juga nggak tau namanya tapi gue, Ines, Qisma pernah satu angkot waktu pengen nonton TSOM, tuh cewek waktu itu masa kegirangan sendiri padahal nggak ada temenya, gila kan tuh orang.
Pas kita naik, Titi dan 2 orang temanya ikut naik. Mereka turun di Gramedia.
Di jalan panjang yang mau ke Puri, gila macet banget ada kali satu jam.
Setelah kita berhasil melewati macet yang begitu membosankan akhirnya kita sampai di Puri. Yaudah kita langsung masuk dan nyampe di Puri XXI, gila antrian buat 2012 penuh. Sebelum ngantri, kita ke toilet dulu. Di toilet, cuma ada 2 orang ditambah kita paling pada ngantri. Abis dari toilet, kita langsung ngantri, di paling ujung. Waktu kita udah ngelewatin 3 barisan, ada bapak bapak ngomong kalo yang jam 15.15 masih sisa tiket tapi duduk di depan, kita nggak mau tapi ada beberapa anak cewek yang keluar antrian paling di pengen tuh.
Setengah jam atau lebih gitu, akhirnya gue sama Ines selesai ngantri dan kita milih yang jam 16.45.
Karna masih satu jam lagi, kita keluar mau makan. Abis makan, kita ke Gramedia.
Kalo nggak salah jam setengah 5 kita ke Puri XXI terus kita nunggu dulu, akhirnya kita masuk ke studio 7 dan gue duduk di row F seat 3. Akhirnya kita menikmati filmnya.
Gue ikut ikutan tegang tau, takut sendiri pengen nangis tapi nggak bisa, yaudah lah.
Jam di hp gue jam 07.39, kita keluar dari bioskop. Kita nunggu di pangkalan C03. Si Ines nelfon... nggak tau siapa, tapi katanya dia udah ditungguin di depan carefour. Gue juga sms bokap gue *mau nelfon takut batre gue abis*. Katanya gue mau dijemput sama om gue terus gue bilang gue nunggu di dalem deket KFC. Terus kita misah, Ines ke carefour, gue balik ke dalem. Baru ajah gue duduk eh bokap nelfon katanya suruh nunggu di luar, yaudah gue keluar lagi. Berkali kali bokap gue nelfon, berkali kali om gue sms.
Tadinya gue mau naik angkot, tapi nggak ada yang lewat.
Gue mondar mandir nunggu om gue. Eh terus gue ngeliat om gue, gue kejar. Tapi apalah daya, gue nggak bisa ngejar. Terus gue sms nunggu di Oh La La eh katanya gue suruh nyamperin di depan carefour, yaudah gue samperin. Terus gue ketemu om gue dan langsung pergi pulang ke rumah gue. Pas nyampe, gue langsung mandi terus tidur.
FIN
Pulang sekolah, karna hari Rabu ya gue piket dulu lah. Abis piket, kita langsung keluar sekolah nyari B04 di depan sekolah. Nggak nyampe setengah jam, B04 datang dan kita masuk. Di dalem udah ada 2 anak 75 cewek sama cowok tapi kayanya mereka nggak saling kenal. Yang cowok gue nggak tau namanya tapi gue pernah liat *namanya juga satu sekolah, haha*. Kalo yang cewek gue juga nggak tau namanya tapi gue, Ines, Qisma pernah satu angkot waktu pengen nonton TSOM, tuh cewek waktu itu masa kegirangan sendiri padahal nggak ada temenya, gila kan tuh orang.
Pas kita naik, Titi dan 2 orang temanya ikut naik. Mereka turun di Gramedia.
Di jalan panjang yang mau ke Puri, gila macet banget ada kali satu jam.
Setelah kita berhasil melewati macet yang begitu membosankan akhirnya kita sampai di Puri. Yaudah kita langsung masuk dan nyampe di Puri XXI, gila antrian buat 2012 penuh. Sebelum ngantri, kita ke toilet dulu. Di toilet, cuma ada 2 orang ditambah kita paling pada ngantri. Abis dari toilet, kita langsung ngantri, di paling ujung. Waktu kita udah ngelewatin 3 barisan, ada bapak bapak ngomong kalo yang jam 15.15 masih sisa tiket tapi duduk di depan, kita nggak mau tapi ada beberapa anak cewek yang keluar antrian paling di pengen tuh.
Setengah jam atau lebih gitu, akhirnya gue sama Ines selesai ngantri dan kita milih yang jam 16.45.
Karna masih satu jam lagi, kita keluar mau makan. Abis makan, kita ke Gramedia.
Kalo nggak salah jam setengah 5 kita ke Puri XXI terus kita nunggu dulu, akhirnya kita masuk ke studio 7 dan gue duduk di row F seat 3. Akhirnya kita menikmati filmnya.
Gue ikut ikutan tegang tau, takut sendiri pengen nangis tapi nggak bisa, yaudah lah.
Jam di hp gue jam 07.39, kita keluar dari bioskop. Kita nunggu di pangkalan C03. Si Ines nelfon... nggak tau siapa, tapi katanya dia udah ditungguin di depan carefour. Gue juga sms bokap gue *mau nelfon takut batre gue abis*. Katanya gue mau dijemput sama om gue terus gue bilang gue nunggu di dalem deket KFC. Terus kita misah, Ines ke carefour, gue balik ke dalem. Baru ajah gue duduk eh bokap nelfon katanya suruh nunggu di luar, yaudah gue keluar lagi. Berkali kali bokap gue nelfon, berkali kali om gue sms.
Tadinya gue mau naik angkot, tapi nggak ada yang lewat.
Gue mondar mandir nunggu om gue. Eh terus gue ngeliat om gue, gue kejar. Tapi apalah daya, gue nggak bisa ngejar. Terus gue sms nunggu di Oh La La eh katanya gue suruh nyamperin di depan carefour, yaudah gue samperin. Terus gue ketemu om gue dan langsung pergi pulang ke rumah gue. Pas nyampe, gue langsung mandi terus tidur.
FIN
Senin, 16 November 2009
Harus
UAN bulan Mareeeeeet. Gila, gue belom ada persiapan sama sekali, lebay. Kenapa sih UAN nya bulan Maret kan kasian sama gue dan anak sekolah lain. Belajar jadi lebih sering, disuruhnya sih selalu tapi kan boseeeeen ngeliat, nyentuh, baca, dan juga mempelajari buku buku yang bikin pusing. Bisa bisa gue frustasi nanti bikin stres dan akhirnya gue jadi gila.
*dimarahin ines*
*kabur..*
Lanjut. Berbagai macam ulangan harian, TO, ulangan semester dan UAN, ah males dah gue.
Ini semua gara gara R. A. Kartini *parah banget*. Coba ajah dia nggak ngotot, pasti para perempuan nggak usah sekolah.
Tapi ya tetep ajah gue harus belajar, kalo enggak bisa diapain gue sama nyokap gue. Bener, harus belajar, nanti kalo gue bego gue masuk sekolah abal lagi, ogaaaaaaahh.... .
Harus belajar, harus. HARUS !
Oke, udah ah bye...
*dimarahin ines*
*kabur..*
Lanjut. Berbagai macam ulangan harian, TO, ulangan semester dan UAN, ah males dah gue.
Ini semua gara gara R. A. Kartini *parah banget*. Coba ajah dia nggak ngotot, pasti para perempuan nggak usah sekolah.
Tapi ya tetep ajah gue harus belajar, kalo enggak bisa diapain gue sama nyokap gue. Bener, harus belajar, nanti kalo gue bego gue masuk sekolah abal lagi, ogaaaaaaahh.... .
Harus belajar, harus. HARUS !
Oke, udah ah bye...
Selasa, 10 November 2009
Di Tonijack's
Langsung ajah.
Waktu itu hari Sabtu tanggal 7 November 2009. Gue, Ines, Qisma, Dita, Dina, Angel, Dinda ke Tonijack's. Kita mau ngerjain tugas. Tadinya gue kira cuma gue, Ines, Nina, Dini, Dita yang mau ngerjain HL nggak taunya ada yang lain juga. Udah nggak usah dibahas.
Pas gue nyampe (sebelumnya gue turun dari angkot) gue kan masuk tuh tapi pas mau masuk ada kucing jadi gue nungguin tuh kucing pergi. Akhirnya gue masuk juga setelah kucing pergi. Di dalem udah ada Dita, Dina, Qisma dan Ines. Dita, Dina, Qisma lagi foto foto pake leptop (bah) nya Dita. Dan gue beserta Ines hanya duduk terdiam hanya memandangi mereka bertiga berfoto ria. Nyampe di sana gue cuma dibilangin suruh nyari bahan yang kurang doang, tau gitu mendingan nggak usah dateng. Huh.
Terus Angel dateng. Tambah rame lah meja kita. Lalu, Dinda datang dan bercerita tentang dia yang tidak jadi ke gereja karena hujan, banjir, mogok (kayanya, lupa lupa inget). Di luar didominasi anak 75. Di dalam kitalah yang paling berisik. Eeeeeh si Odi dan yang lainnya minta duit gitu ke kita. Terus siapa gitu yang ngambil duit kembalian gue yang masih di nampan. Huh dasar. Mereka bolak balik minta duit ke kita, tapi yaudahlah lupakan itu sudah berlalu. Karna melihat Qisma dan Angel makan burger dengan lahap dan seperti orang kelaparan *dimarahin karna lebay* gue juga beli. Terus gue mesen kan tuh tapi kata mbak mbaknya nanti dianter yaudah gue balik ke meja. Detik berganti detik, menit berganti menit, saat berganti saat, obrolan berganti obrolan, tetapi burger gue belom dateng. Yaudah karna gue haus jadi gue beli minum eh pas nyampe di sana kata mbak mbaknya "ah iya LUPA dianterin, KASIAN banget" udah nggak bilang maaf lagi. Kurang ajar !. Kan gue laper. Nyampe di meja, ada Odi dan lain lain datang lagi meminta uang lagi tetapi malah burgernya ines diminta (sedikit apa banyak ya) dan minum gue diminum sampe tinggal setengah.
Abis itu satu per satu pada pulang. Tinggal gue, Ines dan Qisma yang tersisa, hanya untuk menunggu Dita di jemput. Abis Dita dijemput, kita pulang.
Ini semua hanya buang waktu, uang dan tenaga.
-SELESAI-
Waktu itu hari Sabtu tanggal 7 November 2009. Gue, Ines, Qisma, Dita, Dina, Angel, Dinda ke Tonijack's. Kita mau ngerjain tugas. Tadinya gue kira cuma gue, Ines, Nina, Dini, Dita yang mau ngerjain HL nggak taunya ada yang lain juga. Udah nggak usah dibahas.
Pas gue nyampe (sebelumnya gue turun dari angkot) gue kan masuk tuh tapi pas mau masuk ada kucing jadi gue nungguin tuh kucing pergi. Akhirnya gue masuk juga setelah kucing pergi. Di dalem udah ada Dita, Dina, Qisma dan Ines. Dita, Dina, Qisma lagi foto foto pake leptop (bah) nya Dita. Dan gue beserta Ines hanya duduk terdiam hanya memandangi mereka bertiga berfoto ria. Nyampe di sana gue cuma dibilangin suruh nyari bahan yang kurang doang, tau gitu mendingan nggak usah dateng. Huh.
Terus Angel dateng. Tambah rame lah meja kita. Lalu, Dinda datang dan bercerita tentang dia yang tidak jadi ke gereja karena hujan, banjir, mogok (kayanya, lupa lupa inget). Di luar didominasi anak 75. Di dalam kitalah yang paling berisik. Eeeeeh si Odi dan yang lainnya minta duit gitu ke kita. Terus siapa gitu yang ngambil duit kembalian gue yang masih di nampan. Huh dasar. Mereka bolak balik minta duit ke kita, tapi yaudahlah lupakan itu sudah berlalu. Karna melihat Qisma dan Angel makan burger dengan lahap dan seperti orang kelaparan *dimarahin karna lebay* gue juga beli. Terus gue mesen kan tuh tapi kata mbak mbaknya nanti dianter yaudah gue balik ke meja. Detik berganti detik, menit berganti menit, saat berganti saat, obrolan berganti obrolan, tetapi burger gue belom dateng. Yaudah karna gue haus jadi gue beli minum eh pas nyampe di sana kata mbak mbaknya "ah iya LUPA dianterin, KASIAN banget" udah nggak bilang maaf lagi. Kurang ajar !. Kan gue laper. Nyampe di meja, ada Odi dan lain lain datang lagi meminta uang lagi tetapi malah burgernya ines diminta (sedikit apa banyak ya) dan minum gue diminum sampe tinggal setengah.
Abis itu satu per satu pada pulang. Tinggal gue, Ines dan Qisma yang tersisa, hanya untuk menunggu Dita di jemput. Abis Dita dijemput, kita pulang.
Ini semua hanya buang waktu, uang dan tenaga.
-SELESAI-
Minggu, 08 November 2009
...
Hai semua,
Gue mau posting lagi, tapi gue juga mau mengakhiri posting gue.
Ga jelas kan ? (nggak usah ditanya lagi)
Gue mau posting lagi, tapi gue juga mau mengakhiri posting gue.
Ga jelas kan ? (nggak usah ditanya lagi)
Selasa, 03 November 2009
NGGAK PENTING
Hi, everybody...
Gue mau posting lagi tapi postingan gue kali ini pendek banget dan nggak penting. Ralat, sangat sangat tidak penting. Jadi itu sih terserah mau baca apa enggak, ya.. gue nggak peduli. Jadi, gue akhiri postingan gue.
Daaaa, see you next posting
Gue mau posting lagi tapi postingan gue kali ini pendek banget dan nggak penting. Ralat, sangat sangat tidak penting. Jadi itu sih terserah mau baca apa enggak, ya.. gue nggak peduli. Jadi, gue akhiri postingan gue.
Daaaa, see you next posting
Selasa, 27 Oktober 2009
Hari Melesal
Hai semuaaaaaaaaa gue kembali ingin posting lagi. Postingan gue sudah pasti selalu nggak jelas judul, isi, plot, latar dan sebagainya. Tapi gue tetep ajah posting. Yaudah sih blog gue ini, ya terserah gue. Postingan gue kali ini mungkin pendek karna memang tidak panjang (apadah gue).
Hari ini hari Selasa tanggal 27 Oktober 2009. Hari ini ada orang yang ngeselin banget. Sumpah, ngeselin tuh orang (lebay gue). Tapi emang ngeselin. Padahal cuma gara-gara satu kata, cuma kata 'please' doang dan yang dipermasalahkan itu ada apa enggaknya kata itu doang yang sebenernya nggak ada, dianya ajah yang lebay tapi jadi ribet sama dia. So, forget it !
He said, "Hu ini hari apa? Ini hari melesal". Awalnya gue nggak tau, emang nggak tau. Pertamanya gue nanya artinya apa eh malah balesanya ngeselin, yaudah. Terus gue pasang status. Eh dia sms yang isinya kayanya apaapaan tuh di fb ngatain gue. Yaudah ujung ujungnya dia bilang lagi kalo hari ini hari melesal. Gue nanya kan tuh terus dia bales 'hari membuat leni kesal'. Yaudah gue pasang status itu ajah.
O iya his name is TRIVANO RADITYA PUTRA. Orang yang paling ngeselin. Udah ah nggak usah bahas panjang lebar tentang melesal.
Dan bener kan postingan gue nggak penting.
Hari ini hari Selasa tanggal 27 Oktober 2009. Hari ini ada orang yang ngeselin banget. Sumpah, ngeselin tuh orang (lebay gue). Tapi emang ngeselin. Padahal cuma gara-gara satu kata, cuma kata 'please' doang dan yang dipermasalahkan itu ada apa enggaknya kata itu doang yang sebenernya nggak ada, dianya ajah yang lebay tapi jadi ribet sama dia. So, forget it !
He said, "Hu ini hari apa? Ini hari melesal". Awalnya gue nggak tau, emang nggak tau. Pertamanya gue nanya artinya apa eh malah balesanya ngeselin, yaudah. Terus gue pasang status. Eh dia sms yang isinya kayanya apaapaan tuh di fb ngatain gue. Yaudah ujung ujungnya dia bilang lagi kalo hari ini hari melesal. Gue nanya kan tuh terus dia bales 'hari membuat leni kesal'. Yaudah gue pasang status itu ajah.
O iya his name is TRIVANO RADITYA PUTRA. Orang yang paling ngeselin. Udah ah nggak usah bahas panjang lebar tentang melesal.
Dan bener kan postingan gue nggak penting.
Senin, 26 Oktober 2009
Untitle
Haloooooooo semua, gue balik lagi (bah balik, bingung sendiri gue) udahlah, eh gue mau posting lagi, haha
Waktu itu (waktu itu ? kaya udah lama ajah padahal semalem). Kemaren hari Minggu tanggal 25 Oktober 2009 waktu gue lagi ol ada friend request, nggak taunya temen sd gue yang ngeadd, terus gue confirm. Namanya 'Trivano Raditya Putra' (penting ya gue sebutin namanya, yaudahlah biar famous dikit). Pas gue tanya dia alumni sd gue apa bukan katanya "sorry ya tapi anda benar" (gaje). Yaudah tuh kita komen komenan tapi nggak tau apa yang dibahas. Terus kata dia minta nomor gue katanya enakan sms dari pada di fb (sok banyak pulsa dia) yaudah gue kasih tapi lewat message. Nggak lama dia nelfon gue cuma bilang kalo itu nomor dia dan nanya nanya yang nggak begitu penting. Terus abis itu kita smsan, nggak jelas (ngabisin pulsa). Yang dibahas macem macem dah, terus pas udah mau akhir akhir, gue kan nanya "lo pasti suka harry potter kan " terus Vano bales "Yaiya lah apa lagi emma watsonnya tapi sayang sih udah meninggal padahal masih muda cocok lg buat gue padahal gue sama dia udah janji pengen nikah waktu umur 25" (narsis gila). Nah gue bingung tuh kok si Emma bisa meninggal, katanya kecelakaan mobil. Terus gue liat di google (nggak jauh dari google dah gue) ternyata bener tapi masih rumor (di google tulisanya rumor padahal gue nggak tau artinya apa) nggak jelas. Besoknya gue kasih tau Ines, eh malah tanggepanya biasa ajah (huh dasar lu nes). Jadi inti dari postingan gue kali ini, nothing.
See you,
Waktu itu (waktu itu ? kaya udah lama ajah padahal semalem). Kemaren hari Minggu tanggal 25 Oktober 2009 waktu gue lagi ol ada friend request, nggak taunya temen sd gue yang ngeadd, terus gue confirm. Namanya 'Trivano Raditya Putra' (penting ya gue sebutin namanya, yaudahlah biar famous dikit). Pas gue tanya dia alumni sd gue apa bukan katanya "sorry ya tapi anda benar" (gaje). Yaudah tuh kita komen komenan tapi nggak tau apa yang dibahas. Terus kata dia minta nomor gue katanya enakan sms dari pada di fb (sok banyak pulsa dia) yaudah gue kasih tapi lewat message. Nggak lama dia nelfon gue cuma bilang kalo itu nomor dia dan nanya nanya yang nggak begitu penting. Terus abis itu kita smsan, nggak jelas (ngabisin pulsa). Yang dibahas macem macem dah, terus pas udah mau akhir akhir, gue kan nanya "lo pasti suka harry potter kan " terus Vano bales "Yaiya lah apa lagi emma watsonnya tapi sayang sih udah meninggal padahal masih muda cocok lg buat gue padahal gue sama dia udah janji pengen nikah waktu umur 25" (narsis gila). Nah gue bingung tuh kok si Emma bisa meninggal, katanya kecelakaan mobil. Terus gue liat di google (nggak jauh dari google dah gue) ternyata bener tapi masih rumor (di google tulisanya rumor padahal gue nggak tau artinya apa) nggak jelas. Besoknya gue kasih tau Ines, eh malah tanggepanya biasa ajah (huh dasar lu nes). Jadi inti dari postingan gue kali ini, nothing.
See you,
Jumat, 23 Oktober 2009
Cloudy With a Chance of Meatballs
Hai hai hai semua.. gue mau posting lagi. This is my story (halah ribet)
Waktu itu hari Rabu tanggal 21 Oktober 2009. Gue sama Ines (sama dia mulu dah, yaudah lah biarin ajah lagian mau gimana lagi) mau nonton di Puri. Kita mau nonton CLOUDY WITH A CHANCE OF MEATBALLS. Kan filmnya ada yang 3D sama yang biasa. Dan tadinya gue sama Ines mau nonton yang 3D tapi nggak jadi soalnya nggak ada subtitlenya, akhirnya kita milih yang biasa ajah.
Kan gue piket jadi gue piket dulu (biasalah anak rajin). Gue selesai piket sekitar jam dua lewat gitu. Abis piket gue kan cuci tangan dulu (sok bersih dah gue, yaudah sih terserah gue) jadi si Ines liat koran dulu, cuma mau liat jam diputernya film doang. Terus abis itu kita langsung keluar nyari B04, ke pangkalan C13. Pas di gang samping 75 Ines ngasih tau kalo filmya adanya yang jam setengah satuan, 14:45 sama yang 16:10. Yaudah karna filmnya cuma 80 menit, jadi kita berniat (jiah berniat, abis gue nggak tau lagi kata selain itu) nonton yang jam ketiga, jam 16:10. Pas masih di jalan, belom nyampe di pangkalan C13, B04 lewat tapi kita ketinggalan. Terus pas nyampe di pangkalan C13 kita nunggu B04, sambil nunggu gue hanya menatap sekeliling menunggu angkot berwarna merah dan bertuliskan 'B04' tapi ines malah ngobrol sama Sarah yang ada di C13 sambil pegangan tangan gitu lewat jendela. Pas C13 nya jalan, mereka kaya nggak mau dipisahin gitu (sok sok sinetron). Pas C13 nya Sarah jalan, B04 dateng tapi si Ines pas gue ajak kaya nggak mau naik gitu, tapi kata Ines "yaudah yuk ngejar lewat gang ajah" (kayanya gitu, lupa gue). Terus kita balik lagi ke sekolah lewat gang samping sekolah mau ngejar B04 yang tadi, tapi pas sampe sana B04 nya udah jauh. Terus si Ines ngajak ke kantin, yaudah gue turutin abis kasian. Abis dari kantin, kita nunggu B04 di depan sekolah tapi nggak dateng dateng udah panas, gerah, nunggu lama lagi. Eh si Ines ngajak ke kantin lagi mau beli minum katanya (katanya, tapi emang bener sih). Abis beli minum, kita ke pangkalan C13 lagi terus mau nunggu di sana, pas mau masuk gang, gue ngeliat ada Mam Rofikoh dan guru guru lain di Pierre tapi gue nggak tau mereka mau ngapain yaudah kita lanjut ajah jalan. Pas di pangkalan C13, kita nunggu lama banget. Pas B04 dateng, kita langsung naik, eh pas di depan rumah makan Puas, Mam Rofikoh, Bu Pri, Bu Tia, Bu Sri, Mam Nurma, Bu Yuni sama anaknya masuk ke angkot kita. Yaaah jadi nggak bebas lah kita. Pas di angkot Bu Pri nanya kita mau kemana, yaudah gue bilang mau ke Gramedia di Puri. Tapi mereka agak agak nggak percaya. Yaah emang gue peduli, terserah mereka, itu hak mereka. Kita duduk empet empetan, sumpek, panas, gerah banget di dalem. Udah, lupakan kejadian di dalem angkot. Kan guru guru turun duluan katanya nggak mau muter tapi kita nggak mau bareng. Pas di Puri kita langsung ke XXI beli tiket, terus ke Gramedia biar nggak boong boong amat, tapi emang niatnya dari sekolah kita mau ke Gramedia juga. Pas di Gramedia kita baca baca buku di sana sambil nunggu jam empat. Udah mau jam empat kita ke XXI tapi Ines beli label dulu. Waktu kita lagi ngantri mau bayar, mati lampu terur ada yang teriak teriak nggak jelas, lebay !. Terus kita ke XXI dan langsung ke bangku yang ada di depan pintu studio 5. Nggak lama kita duduk, eh ada anak anak kampung + norak abis dateng. Sumpah, benci gue sama mereka. Terus kita masuk ke studio dan menikmati filmnya. Kan filmnya belom mulai jadi kita ngobrol ngobrol dulu (tapi nggak tau apa yang kita obrolin, paling kita ngata ngatain anak anak yang tadi, abis mereka ngomongnya kenceng banget, norak kan). Film udah dimulai terus kita nonton. Dan inilah akhir dari posting gue kali ini.
Daaaaaaaaaaaaaaaa tunggu postingan gue lagi ya..
Waktu itu hari Rabu tanggal 21 Oktober 2009. Gue sama Ines (sama dia mulu dah, yaudah lah biarin ajah lagian mau gimana lagi) mau nonton di Puri. Kita mau nonton CLOUDY WITH A CHANCE OF MEATBALLS. Kan filmnya ada yang 3D sama yang biasa. Dan tadinya gue sama Ines mau nonton yang 3D tapi nggak jadi soalnya nggak ada subtitlenya, akhirnya kita milih yang biasa ajah.
Kan gue piket jadi gue piket dulu (biasalah anak rajin). Gue selesai piket sekitar jam dua lewat gitu. Abis piket gue kan cuci tangan dulu (sok bersih dah gue, yaudah sih terserah gue) jadi si Ines liat koran dulu, cuma mau liat jam diputernya film doang. Terus abis itu kita langsung keluar nyari B04, ke pangkalan C13. Pas di gang samping 75 Ines ngasih tau kalo filmya adanya yang jam setengah satuan, 14:45 sama yang 16:10. Yaudah karna filmnya cuma 80 menit, jadi kita berniat (jiah berniat, abis gue nggak tau lagi kata selain itu) nonton yang jam ketiga, jam 16:10. Pas masih di jalan, belom nyampe di pangkalan C13, B04 lewat tapi kita ketinggalan. Terus pas nyampe di pangkalan C13 kita nunggu B04, sambil nunggu gue hanya menatap sekeliling menunggu angkot berwarna merah dan bertuliskan 'B04' tapi ines malah ngobrol sama Sarah yang ada di C13 sambil pegangan tangan gitu lewat jendela. Pas C13 nya jalan, mereka kaya nggak mau dipisahin gitu (sok sok sinetron). Pas C13 nya Sarah jalan, B04 dateng tapi si Ines pas gue ajak kaya nggak mau naik gitu, tapi kata Ines "yaudah yuk ngejar lewat gang ajah" (kayanya gitu, lupa gue). Terus kita balik lagi ke sekolah lewat gang samping sekolah mau ngejar B04 yang tadi, tapi pas sampe sana B04 nya udah jauh. Terus si Ines ngajak ke kantin, yaudah gue turutin abis kasian. Abis dari kantin, kita nunggu B04 di depan sekolah tapi nggak dateng dateng udah panas, gerah, nunggu lama lagi. Eh si Ines ngajak ke kantin lagi mau beli minum katanya (katanya, tapi emang bener sih). Abis beli minum, kita ke pangkalan C13 lagi terus mau nunggu di sana, pas mau masuk gang, gue ngeliat ada Mam Rofikoh dan guru guru lain di Pierre tapi gue nggak tau mereka mau ngapain yaudah kita lanjut ajah jalan. Pas di pangkalan C13, kita nunggu lama banget. Pas B04 dateng, kita langsung naik, eh pas di depan rumah makan Puas, Mam Rofikoh, Bu Pri, Bu Tia, Bu Sri, Mam Nurma, Bu Yuni sama anaknya masuk ke angkot kita. Yaaah jadi nggak bebas lah kita. Pas di angkot Bu Pri nanya kita mau kemana, yaudah gue bilang mau ke Gramedia di Puri. Tapi mereka agak agak nggak percaya. Yaah emang gue peduli, terserah mereka, itu hak mereka. Kita duduk empet empetan, sumpek, panas, gerah banget di dalem. Udah, lupakan kejadian di dalem angkot. Kan guru guru turun duluan katanya nggak mau muter tapi kita nggak mau bareng. Pas di Puri kita langsung ke XXI beli tiket, terus ke Gramedia biar nggak boong boong amat, tapi emang niatnya dari sekolah kita mau ke Gramedia juga. Pas di Gramedia kita baca baca buku di sana sambil nunggu jam empat. Udah mau jam empat kita ke XXI tapi Ines beli label dulu. Waktu kita lagi ngantri mau bayar, mati lampu terur ada yang teriak teriak nggak jelas, lebay !. Terus kita ke XXI dan langsung ke bangku yang ada di depan pintu studio 5. Nggak lama kita duduk, eh ada anak anak kampung + norak abis dateng. Sumpah, benci gue sama mereka. Terus kita masuk ke studio dan menikmati filmnya. Kan filmnya belom mulai jadi kita ngobrol ngobrol dulu (tapi nggak tau apa yang kita obrolin, paling kita ngata ngatain anak anak yang tadi, abis mereka ngomongnya kenceng banget, norak kan). Film udah dimulai terus kita nonton. Dan inilah akhir dari posting gue kali ini.
Daaaaaaaaaaaaaaaa tunggu postingan gue lagi ya..
Sabtu, 10 Oktober 2009
sakit gigi
Hai semua, udah lama nih gue nggak posting. Sekarang berhubung gue lagi pengen ngetik jadi gue mau posting.
Aduuuh...gue bingung nih mau nulis apa. Otak gue lagi nggak jalan dan gue nggak punya sesuatu yang menarik akhir-akhir ini jadi gue bingung mau nulis apa.
Gue ceritain sakit gigi gue ajah deh. Jadi waktu itu hari Senin, nggak tau dari pelajaran apa tapi tiba-tiba gigi gue sakit. Udah mana di kelas berisik, terus gue diketawain sama ines (iya nggak sih, lupa gue). Sumpah deh, hari itu fuck banget. Pas di rumah, gue langsung tiduran di kamar. Terus gue di omelin nyokap gue gara-gara belom lepas sepatu, kaos kaki, sama belom ganti baju. Udahlah gigi gue makin nyut-nyutan karna suara nyokap gue yang gede banget. Yaudah akhirnya gue ganti baju terus tiduran lagi sambil megangin pipi gue (maksudnya gigi). Eh tiba-tiba air mata gue keluar, yaudah gue terusin dan akhirnya gue nangis, soalnya nggak tahan. Denger gue nangis, nyokap gue ngomel lagi "udah gede cengeng banget sih ! udah sana makan terus minum obat ! " (kayanya sih gitu). Yaudah gue makan terus minum obat. Malemnya gue tidur terus pas jam setengah 5 an gue bangun tapi badan gue panas yaudah gue nggak masuk. Dan seharian itu gue minta apa ajah dikasih dan sakit gigi gue ilang, haha.
Udah ah capek gue.
Aduuuh...gue bingung nih mau nulis apa. Otak gue lagi nggak jalan dan gue nggak punya sesuatu yang menarik akhir-akhir ini jadi gue bingung mau nulis apa.
Gue ceritain sakit gigi gue ajah deh. Jadi waktu itu hari Senin, nggak tau dari pelajaran apa tapi tiba-tiba gigi gue sakit. Udah mana di kelas berisik, terus gue diketawain sama ines (iya nggak sih, lupa gue). Sumpah deh, hari itu fuck banget. Pas di rumah, gue langsung tiduran di kamar. Terus gue di omelin nyokap gue gara-gara belom lepas sepatu, kaos kaki, sama belom ganti baju. Udahlah gigi gue makin nyut-nyutan karna suara nyokap gue yang gede banget. Yaudah akhirnya gue ganti baju terus tiduran lagi sambil megangin pipi gue (maksudnya gigi). Eh tiba-tiba air mata gue keluar, yaudah gue terusin dan akhirnya gue nangis, soalnya nggak tahan. Denger gue nangis, nyokap gue ngomel lagi "udah gede cengeng banget sih ! udah sana makan terus minum obat ! " (kayanya sih gitu). Yaudah gue makan terus minum obat. Malemnya gue tidur terus pas jam setengah 5 an gue bangun tapi badan gue panas yaudah gue nggak masuk. Dan seharian itu gue minta apa ajah dikasih dan sakit gigi gue ilang, haha.
Udah ah capek gue.
Kamis, 10 September 2009
Harry Potter and Half-Blood Prince
Waktu itu hari Kamis tanggal 23 Juli 2009, gue sama Ines nonton Harry Potter 6 (Harry Potter And The Half-Blood Prince). Di hari itu gue lagi puasa, gue pengen nonton hari itu soalnya gue pengen banget nonton film itu. Tadinya gue pengen nonton bareng Qisma sama Dita, tapi mereka lagi nggak bawa uang, ya..karna gue pengen banget nonton film itu jadi gue cuma nonton sama Ines doang.
Waktu hari itu Ines lagi ***** dan lagi pake rok putih, waktu pulang sekolah ternyata Ines ******. Tapi gue maksa-maksa (lebay dah) Ines biar nonton dan akhirnya kita tetep jadi nonton.
Akhirnya kita keluar dari sekolah terus nyari angkot, tapi kita nggak nunggu angkot di depan sekolah. Terus kita akhirnya nunggu angkot, lama banget nungguinnya kayanya hampir setengah jam kita berdiri panas-panas dalam kondisi gue lagi puasa, terus angkotnya dateng tapi penuh dan akhirnya yang naik anak kelas 8 dan alhasil kita nunggu lagi, sumpah lama banget. Akhirnya kita dapet angkot yang lumayan kosong lah.
Sampe di Puri, gue sama Ines langsung ke Puri XXI, tadinya kita mau nonton yang jam 2 an gitu, tapi malah dapet yang jam 15:35 dan itu selesainya jam 6 an.
Di dalem studionya, gue sama Ines langsung duduk di bangku kita. Waktu kita udah duduk, orang yang pesen bangku di pojok baru dateng dan waktu mereka lewat, kakinya ines ke injek. Waktu filmnya udah di mulai kita semua nonton, tapi di tengah-tengah film, gue sama Ines ketawa-ketawa nggak jelas gara-gara yang ada di belakang kita ketawanya telat, terus cowok yang duduk di samping Ines bersin-bersin tapi nggak berhenti-berhenti yaudah kita ketawa. Yang duduk di samping Ines tuh bukanya nonton tapi malah main hp (bodo amat, I don't care).
Selesai nonton kira-kira jam 6 lewat, kita langsung pulang dan gue nggak buka dulu karna udah sore. Terus kita langsung keluar dari Puri terus naik angkot buat pulang.
Kita pisah angkot di deket gramedia, Ines langsung pulang (gue nggak tau apa yang terjadi sama Ines setelah itu). Terus gue juga pulang. Awalnya sih lancar-lancar ajah tapi di relasi sumpah macet abis, gue sampe kena lampu merah 3 kali, lo tau lampu merah di relasi lama banget. Dan akhirnya gue nyampe rumah jam 7 malem dan gue yang hari itu lagi puasa, buka jam 7. Sampe rumah gue langsung buka dan gue langsung mandi terus tidur.
-udah ah sampe di sini ajah, gue males ngetik lagi-
Waktu hari itu Ines lagi ***** dan lagi pake rok putih, waktu pulang sekolah ternyata Ines ******. Tapi gue maksa-maksa (lebay dah) Ines biar nonton dan akhirnya kita tetep jadi nonton.
Akhirnya kita keluar dari sekolah terus nyari angkot, tapi kita nggak nunggu angkot di depan sekolah. Terus kita akhirnya nunggu angkot, lama banget nungguinnya kayanya hampir setengah jam kita berdiri panas-panas dalam kondisi gue lagi puasa, terus angkotnya dateng tapi penuh dan akhirnya yang naik anak kelas 8 dan alhasil kita nunggu lagi, sumpah lama banget. Akhirnya kita dapet angkot yang lumayan kosong lah.
Sampe di Puri, gue sama Ines langsung ke Puri XXI, tadinya kita mau nonton yang jam 2 an gitu, tapi malah dapet yang jam 15:35 dan itu selesainya jam 6 an.
Di dalem studionya, gue sama Ines langsung duduk di bangku kita. Waktu kita udah duduk, orang yang pesen bangku di pojok baru dateng dan waktu mereka lewat, kakinya ines ke injek. Waktu filmnya udah di mulai kita semua nonton, tapi di tengah-tengah film, gue sama Ines ketawa-ketawa nggak jelas gara-gara yang ada di belakang kita ketawanya telat, terus cowok yang duduk di samping Ines bersin-bersin tapi nggak berhenti-berhenti yaudah kita ketawa. Yang duduk di samping Ines tuh bukanya nonton tapi malah main hp (bodo amat, I don't care).
Selesai nonton kira-kira jam 6 lewat, kita langsung pulang dan gue nggak buka dulu karna udah sore. Terus kita langsung keluar dari Puri terus naik angkot buat pulang.
Kita pisah angkot di deket gramedia, Ines langsung pulang (gue nggak tau apa yang terjadi sama Ines setelah itu). Terus gue juga pulang. Awalnya sih lancar-lancar ajah tapi di relasi sumpah macet abis, gue sampe kena lampu merah 3 kali, lo tau lampu merah di relasi lama banget. Dan akhirnya gue nyampe rumah jam 7 malem dan gue yang hari itu lagi puasa, buka jam 7. Sampe rumah gue langsung buka dan gue langsung mandi terus tidur.
-udah ah sampe di sini ajah, gue males ngetik lagi-
Rabu, 02 September 2009
Orphan
Waktu hari Selasa tanggal 1 September 2009, gue, Ines, Qisma, Dita nonton Orphan di Puri. Sumpah nunggunya lama banget. Gue sama Ines cuma keliling bioskop terus hampir nyasar ke pintu keluar darurat. Tapi Qisma sama Dita cuma foto-foto doang, terus gue yang jadi tukang foto sesaat. Di sana gue tersiksa ngeliat orang-orang makan.
Waktu nonton kita berempat paling berisik. Setiap ada adegan yang tragis pasti banyak yang jerit-jerit terus banyak yang nyebut nama Allah (tumben).
Waktu pulang, gue naik angkot sendiri, nunggu lama, jalanya lelet, macet total. Udah gue bukanya telat, malemnya di suruh ngumpul nggak jelas, di ceng cengin, dasar Mr. Crazy emang gila.
Waktu nonton kita berempat paling berisik. Setiap ada adegan yang tragis pasti banyak yang jerit-jerit terus banyak yang nyebut nama Allah (tumben).
Waktu pulang, gue naik angkot sendiri, nunggu lama, jalanya lelet, macet total. Udah gue bukanya telat, malemnya di suruh ngumpul nggak jelas, di ceng cengin, dasar Mr. Crazy emang gila.
Rabu, 19 Agustus 2009
Mrs. Malfoy
Tik… Tik… Tik…Jam besar itu terdengar jelas ditelingaku. Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan cermin ini.“Beberapa jam lagi, kau akan menjadi Mrs. Malfoy,” bisikku setiap kali detik berganti menit.Aku masih tidak mau berhenti memandang gaun indah yang terpasang di tubuhku. Gaun berwarna lembayung muda bertangan panjang dan berenda lembut dengan garis berwarna hitam yang dibuat berlekuk indah di bagian pinggangnya. Ditambah lagi dengan mahkota mungil yang terbuat dari bunga lavender asli, terpasang dirambutku yang tertata rapi. Aku tersenyum sumringah kala menatap gadis di dalam cermin yang balas tersenyum padaku. Aku tahu hari pernikahan masih beberapa jam lagi, tapi aku sudah berdandan sesempurna mungkin. Dan—ajaibnya—aku berdandan sendiri. Memakai pakaian sendiri, menata rambut sendiri, dan menguntai bunga lavender sendiri. Ulangi: sendiri. Aku tidak mau didandani oleh para penata rias profesional yang didatangkan langsung dari luar negeri. Narcissa sendiri yang memanggil mereka. Aku memang tidak enak hati memprotes calon ibu mertuaku sendiri, untungnya, aku punya pangeranku yang mengerti keadaanku, dan membicarakannya dengan ibu mertua. Untungnya lagi, Narcissa belum membayar para penata rias itu—walaupun mereka sudah mendandaniku separuh jadi. Toh, akhirnya, dandanan mereka kuubah lagi—menjadi lebih baik dari yang kuduga.Hatiku terkadang merasa tergelitik, dan tidak sanggup untuk tidak menyunggingkan senyuman jika mengingat semuanya; bahwa Narcissa Malfoy—Lady Malfoy yang terhormat—akan menjadi ibu mertuaku, dan Draco Malfoy—pewaris kekuasaan Malfoy yang sangat dipuja-puja oleh para gadis—akan menjadi suamiku beberapa jam lagi. Aku tahu itu tidak lucu. Tapi, entah mengapa, aku selalu menganggapnya lucu. Dan aku pun tidak habis pikir, bagaimana cara mereka merubah pola pemikiran mereka yang sudah tertanam sejak dulu? Mengingat hal itu, senyumku pun semakin melebar. Ini seperti mimpi.“Beberapa jam lagi, kau akan menjadi Mrs. Malfoy.”Aku tidak pernah bosan mengatakan hal itu, karena itu adalah impianku sejak dulu. Bahkan—sejujurnya—saat aku baru berumur 11 tahun. Waktu berlalu begitu cepat. 11 tahun dan 22 tahun. Ajaib. Sudah 11 tahun aku menunggu-nunggu datangnya ‘gelar’ ini. Karena, menurutku ‘gelar’ ini adalah gelar yang sangat berarti. Dan yang mendapatkan ‘gelar’ ini adalah wanita yang paling beruntung sedunia. Aku adalah wanita yang PALING beruntung sedunia.“Lihat dirimu, Nak,” kata seorang wanita berpakaian rapi di ambang pintu, tersenyum.Aku berbalik, dan tersenyum bahagia. Mum.“Beberapa jam lagi, aku akan menjadi Mrs. Malfoy, Mum!” aku bersorak girang, dan menghambur ke dalam pelukan ibuku yang langsung disambut dengan isakkan.“Ya, sayang. Mum akan merindukanmu.”“Mum,” kataku lembut. “Aku tetap anakmu, yang selalu ada di hatimu.”“Mum tahu,” kata Mum. “Draco bilang, ia sudah menyiapkan sebuah rumah khusus untuk kalian tinggal di Paris. Dan sebuah rumah lagi, untuk bulan madu. Persis di depan danau kecil yang sangat indah, Mum sudah lihat fotonya.”Aku tersenyum bahagia, dan mulai meneteskan air mata. “Aku sangat beruntung, kan, Mum?” tanyaku terisak.“Sangat beruntung sekali, Nak,” kata Mum, dan beberapa menit kemudian, ia melepas pelukannya. “Kau akan bahagia dengannya.”Aku mengangguk, tak mampu berkata-kata lagi—terlalu bahagia. “Mum harus membantu Narcissa untuk mempersiapkan pestanya,” kata Mum sambil mengusap air matanya, seperti yang kulakukan sekarang. “Jangan lupa untuk selalu tersenyum, sayang.”Aku mengangguk. “Mum!” kataku tiba-tiba. “Katakan pada Draco kalau aku akan menjadi Mrs. Malfoy-nya.”Mum tersenyum, dan mengangguk. Lalu berjalan pergi, dan menghilang di balik dinding. Aku kembali ke depan cermin, dan tersenyum, lagi. Hari-hari sulit dan menyakitkan yang sudah 11 tahun kulewati, kini hanya tinggal kenangan. Kini, tak ada lagi pertengkaran konyol diantara kami, yang digantikan oleh senyuman yang selalu terhias dibibir kami. Benci tak dapat lagi memisahkan aku dan dia. Karena benci itu telah kalah. Ya, kalah, tentu saja.Aku mengerling jam besar di belakangku. Pukul 6.00 pm. Tiga jam lagi, dan aku akan menjadi Mrs. Malfoy yang bahagia. Rasanya sudah tak sabar menunggu datangnya malam. Aku pun tertawa kecil. Tawa kecil yang bahagia.“Kau cantik sekali!” kata seorang pria tampan berpiyama.Aku berbalik, dan tertawa.“Kau baru bangun tidur?” tanyaku.Draco tersenyum malu, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.“Well, aku lelah sekali dengan semua persiapan ini,” katanya sambil berjalan ke arahku.“Tiga jam lagi, aku akan menjadi Mrs. Malfoy, Draco! Bayangkan semua itu!”Draco tersenyum. “Kau memang pantas menjadi Mrs. Malfoy. Sangat pantas—bahkan lebih dari pantas,”Aku menggenggam tangan pangeranku, dan menatapnya dengan bahagia. Tak lupa, kuhiaskan senyum tersempurnaku hanya untuknya seorang.“Apa yang kau lakukan hingga membuatku sebahagia ini?”Draco memelukku erat, dan berbisik. “Amortentia,”Aku terbelalak. “Amortentia?!’ seruku kaget. “Kau bercanda?!”Draco tertawa, dan mengusap rambutku dengan sayang. Layaknya seorang kakak yang sedang menenangkan adik kecilnya yang menangis ingin dibelikan boneka.“Mana mungkin aku melakukan itu padamu?” kata Draco. “Aku hanya bercanda. Semua yang kulakukan padamu benar-benar murni.”“Semurni darahmukah?” godaku.Draco langsung memberengut. “Sudah kubilang, jangan bicarakan tentang itu lagi. Kita sudah selesai dengan semua itu, oke?”Aku tertawa kecil. Ingat beberapa tahun lalu? Ia menyebutku dengan panggilan sayangnya; Mudblood, tentu saja. Dan kini, hal itu membuatku tertawa. Bukan menangis lagi.“Pureblood Prince, harus kuakui, kau sensitif.”Draco memutar bola matanya. Dulu, sebutan untuk darahnya itu selalu membuatnya bangga—bahkan sombong. Tapi, sekarang, dia tidak mau membanggakannya lagi di depanku. Koreksi: hanya di depanku.“Jangan bahas itu lagi, Princess, kau tahu aku bahkan tidak mau menyebut-nyebutnya lagi.”Aku tersenyum, dan kembali menyamankannya dengan genggaman tanganku.“Hidung Merlin, Draco Malfoy! Lihat penampilanmu di depan calon istrimu!” pekik Narcissa Malfoy. Ia berjalan mendekati Draco dengan kesal. “Kau seorang Malfoy, ingat? Dan—Hermione, kau—““Cantik sekali,” potong Draco. “Dan bukankah Mum sudah berjanji untuk tidak membahas tentang ‘tata tertib seorang pewaris Malfoy’ lagi, ingat?”Aku tersenyum—Narcissa tidak menanggapi perkataan anaknya, dan sibuk memandangiku dengan kagum(“Mum, jangan melihatnya seperti itu,” kata Draco gusar.)—membuat pipiku memerah.“Aku ingin pestanya segera dimulai!” pekik Narcissa tak sabar, dan berbalik dengan girang. Tapi tak lupa memperingatkan anaknya. “Dan, Draco, kau tidak mau tampil bodoh di depan calon istrimu, kan?”Draco memutar bola matanya, dan mengecup keningku. Ia pun berjalan mengikuti ibunya.Sungguh, aku sangat beruntung!-x-x-Ya ampun! Setengah jam lagi!Oke, oke, itu berlebihan. Ingat gelar apa yang akan kau sandang? Mrs. Malfoy. Dan Malfoy adalah keluarga yang terhormat—dan tidak berlebihan. Aku tertawa sendiri mengingat betapa berlebihannya diriku sekarang. Gelar Mrs. Malfoy membuatku sangat girang. Oh, betapa aku sudah tak sabar! Ingin rasanya menggunakan Jam Pemutar Waktu-ku untuk mengetahui saat-saat penting itu. Waktu terasa begitu lambat. Satu, dua, tiga, empat, lima… Entah harus berapa menit lagi aku menunggu—aku sudah tak sabar, ingat? Oh, jangan bahas itu lagi.Tap… Tap… Tap…Aku berbalik. Terdengar langkah-langkah kaki berat di lorong tempatku berdiri sekarang. Draco-kah itu ? Sebuah lukisan pendahulu Draco—seorang Malfoy juga—tengah diam di kursi besarnya dengan terengah-engah. Seperti habis berlari dari lukisan satu ke lukisan lainnya.“Miss Granger!” pekiknya. “Cepat pergi dari sini! Beritahu para penghuni rumah ini, dan segeralah pergi!”“A—apa yang terjadi, Mr. Malfoy?”“Tidak ada waktu lagi, Miss. Cepat beritahu yang lain dan pergi!”Aku pun berlari—sebelum seseorang menabrakku dan membuatku terjatuh. Draco? Oh! Aku membekap mulutku dengan tanganku yang berkeringat. Itu bukan Draco.“Halo, Miss Mudblood. Senang bertemu denganmu lagi.”Aku kini bisa melihatnya. Wanita berambut hitam dan berpelupuk mata tebal berdiri di depanku, dengan menyunggingkan senyum mengerikannya yang penuh dengan kegilaan. Aku langsung merinding, ketakutan mulai menjalar ke dalam tubuhku. Mataku terbelalak, dan mulutku terbuka tak percaya. Demi Merlin, dia benar-benar—Bellatrix Lestrange.“Dr—Dra—Draco,” aku berkata hampir tak terdengar.Wanita gila itu berjalan mendekatiku yang terduduk di lantai, dan berjongkok untuk melihatku.“Calon Mrs. Malfoy, rupanya?” katanya. “Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin adikku tersayang bisa merubah pola pikirannya untuk memiliki menantu seorang Mudblood sepertimu? Dan keponakanku sendiri, kau beri ramuan apa agar bisa menjadi jatuh hati padamu? Amortentia?”Aku tidak sanggup bergerak. Rasanya tubuhku lumpuh dengan mendadak.“Dr—Dra—Draco,” kataku lagi.Bellatrix tertawa mengerikan.“Dr—Dra—Draco,” ulangnya menghina. “Tutup mulut kotormu, Mudblood!”Wanita itu menatapku yang ketakutan. Seringai kejam tersungging di bibirnya.“Ba—bagaimana kau lo—lolos—““Aku sudah pernah lolos dari penjara bodoh itu, ingat?”Aku menutup mulutku rapat-rapat. Pikiranku berpusat pada satu hal: mati.“Bellatrix Lestrange! Semua yang mendengarku, Bellatrix Lestrange—“Namun Bellatrix lebih cepat. Ia merobek lukisan pendahulu Malfoy itu, dan menginjak-injaknya dengan kasar.“Diamlah lukisan bodoh!” katanya marah. Dan dia berpaling lagi padaku.“A—apa yang kau li—lihat, Le—Lestrange?” tanyaku dengan suara bergetar. Mati. Aku pasti akan mati di sini.Bellatrix mengerling gaun yang kupakai.“Gaunmu bagus, Miss Mudblood,” katanya sambil mengusap gaunku. “Dan akan lebih bagus lagi jika seperti ini!”Mataku melebar.Dia merobek gaunku! Betapa aku ingin mencakar wajah gilanya!“Kau—narapidana gila!” teriakku marah sambil mencakar wajahnya, dan menghapus seringainya.Aku baru ingat. Tongkatku ada di balik kaus kakiku! Oh, betapa bodohnya aku!“Expelliar—““Crucio!”Tubuhku tumbang, dan menggeliat kesakitan. Bellatrix tertawa gila, dan mendekatiku—masih dengan tongkat teracung.“Kau masih ingat saat aku menyiksamu beberapa tahun lalu—di tempat ini juga, Miss Filthy Mudblood ?” tanyanya dengan raut muka menyeramkan. “Dan kau masih mau melawanku, eh?!”Aku masih menggeliat. Wanita gila itu belum melepaskan kutukannya. Merlin, siapapun, tolong aku! Bellatrix menjentikkan tongkatnya, dan aku pun terdiam dengan kesakitan yang sangat.“Aku tidak takut padamu!” teriakku menantang. Aku mengerling tongkat sihirku yang berada di belakang gaunku. Bellatrix tidak melihatnya. “A—aku… Draco!”Bellatrix menoleh, tepat saat aku mengambil tongkatku dan mengarahkannya pada wanita itu.“Stupe—“Sial. Bellatrix menepis tanganku dengan keras, dan mematahkan tongkatku. Ia membawaku ke tembok, dan membenturkan kepalaku dengan keras.“Aaaa!” teriakku. Aku merasakan butir-butir darah membasahi rambutku yang sudah tidak karuan lagi. “Lepaskan tangan kotormu, Lestrange!”Bellatrix mencekik leherku kuat-kuat, dan aku mulai menggeliat kehabisan napas. Aku mencakar-cakar tangannya, tapi semua sia-sia.“Berhenti mencakar tanganku, Mudblood kotor!” teriaknya. Dan saat itu pula, muncul seseorang yang mengacungkan tongkatnya dengan siaga.“Lepaskan dia!” teriak Draco penuh kemurkaan. “Kau tidak pantas menyentuhnya!”Bellatrix berpaling—tetap mencekikku, dan tertawa.“Coba kita lihat, Draco Malfoy yang penakut sudah berubah rupanya?” cemoohnya. “Mulai berani, Draco? Amortentia itu berhasil, Granger. Kau merubah segalanya.” kata Bellatrix berpaling padaku.“Dia tidak menggunakan Ramuan Cinta bodoh!” teriak Draco. “Sekarang, lepaskan dia atau kubunuh kau!” “Tidak akan kulepaskan, Draco sayang,” kata Bellatrix. “Biar kita lihat dulu, betapa cantiknya darahnya.”“Tidak—apa kau bilang?!” teriak Draco.Bellatrix mengacungkan pisau peraknya yang pendek ke lenganku, dan tertawa gila.“Ingat ini, Draco?”Draco terkejut. Bellatrix menyayat tanganku dengan cepat, dan mengelap darahku dengan jarinya. Aku berteriak—tapi tak mampu berkutik. Bellatrix membenturkan kepalaku lagi saat aku mengerang pelan, menatap Draco dengan keputusasaan. Bellatrix mengoleskan darahku ke bibirku yang bergetar.“Cicipilah darahmu, Miss Mudblood,” katanya. “Kau mau coba, Draco?”“Kau,” geram Draco marah. “Wanita gila! Stupe—”“Expelliarmus!”Tongkat Draco terlempar jauh. Bellatrix tertawa lagi. Aku memanfaatkan kesempatan itu dengan merebut tongkatnya, dan mematahkannya hingga terbelah dua. Bellatrix murka. Ia membenturkan kepalaku lagi; kurasa ia hampir menggegarkan otakku.“Kau! Mudblood kotor tak tahu diri!” teriaknya marah. Draco yang masih berdiri segera berlari hendak memungut tongkatnya—sebelum Bellatrix berteriak lagi. “DIAM DI TEMPATMU, MALFOY ! ATAU KUBUNUH DIA !”Draco mendadak berhenti, dan berbalik.“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Hermione, kubunuh kau!” teriak Draco.Bellatrix menjepit leherku di antara lengan dan dadanya, memegangi pisau pendeknya ke leherku, dan tersenyum licik; persis seperti yang dilakukannya beberapa tahun yang lalu.“Aku ini bibimu, Draco. Kau tidak bisa membunuhku.”Aku menangis pelan. Jangan sakiti dia, Lestrange. Bunuh saja aku.“Kau wanita gila!” teriak Draco. “Lepaskan dia!”“Lihat ini Draco,” kata Bellatrix sambil menyodorkan tanganku yang berdarah ke dalam mulutku.“Aaaa!” aku berteriak. Meronta-ronta untuk menghindari tanganku sendiri. “Kau gila, Lestrange! Kau gila !”Bellatrix tertawa sambil terus berusaha memasukkan darah di lenganku ke dalam mulutku. Draco, yang berdiri tak jauh dariku, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; ia berjalan mundur, dan berbalik untuk mengambil tongkatnya—tepat saat Bellatrix melayangkan belatinya, menusuk punggung Draco.“TIDAAAKK !!!!!! DRACOOO!!!!!!”Tubuh Draco menegang. Ia jatuh di atas lututnya, dan mencabut pisau di punggungnya. Tongkatnya patah di bawah lututnya. Aku menguatkan tubuhku untuk berdiri, tapi Bellatrix membenturkan kepalaku lagi—bahkan lebih keras dari benturan-benturan sebelumnya, di saat aku mendengar mereka mengacungkan tongkat yang patah, dan meneriakkan sebuah Kutukan.“AVADA KEDAVRA !”“AVADA KEDAVRA !”Dan semuanya gelap gulita.-x-x-Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, dan mengedarkan pandangan. Mum, yang pertama melihatku, segera memelukku dengan erat, dan menangis pelan. Aku melihat Narcissa yang tengah duduk di sebelah Mum, tersenyum getir padaku dengan mata yang bengkak dan merah. Kemana seorang lagi ? Orang yang terpenting bagiku ?“Untunglah kau selamat, Hermione! Aku dan Narcissa mencemaskanmu!” isak Mum.Narcissa berjalan ke arahku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia mengusap rambutku dengan lembut.“Di mana Draco ?” tanyaku singkat. “Mum, di mana Draco ?”Tangisan Narcissa meledak dengan spontan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang tertutup sarung tangan berwarna hitam. Aku memandang ibuku dengan was-was.“Dra—Draco—““Dia di mana, Mum ?” tanyaku tak sabar. Perasaanku berubah menjadi sangat tidak menyenangkan.“Draco—dia meninggal, Hermione,” tangis Narcissa. Suaranya luar biasa bergetar. “Setelah Bella melayangkan pisaunya, mereka bertukar Kutukan dengan tongkat mereka yang patah, dan Kutukan itu pun berbalik—menghantam tubuh mereka masing-masing.”“Tidak… Draco…”Air mataku sudah tak dapat terbendung lagi, mengalir deras di pipiku. Semuanya seolah hancur. Duniaku telah berakhir sampai di sini. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Aku tidak akan pernah menjadi Mrs. Malfoy. TIDAK AKAN PERNAH. Rumah khusus di Paris, rumah di depan danau yang sangat indah, akan bagaimana jadinya? Pria tampan dengan wajah pucat yang sangat kuinginkan, ke mana perginya? Dan pikiranku tertuju pada satu hal: mati.FIN
Langganan:
Komentar (Atom)