Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke kamarku melalui celah tirai yang kututup asal semalam, memaksa mataku terbuka. Kembali akan kuhadapi rutinitas sehari-hariku yang membosankan, begitulah menurutku. Membosankan sekali, bukan mengulang kegiatan-kegiatan yang sama hampir setiap harinya?Makan-sekolah-ulangan-mengerjakan pr-belajar-tidur.
Kusingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhku, lalu bangkit dari posisi tidurku. Masih terduduk, kulirik jam yang ada di dinding. Jarum pendeknya menunjuk ke angka lima, sedangkan jarum panjangnya menunjuk ke angka satu. Aku bangkit berdiri, memulai rutinitasku hari ini.
000
Tak perlu buang-buang waktu, langsung kumenuju kelasku sesaat setelah sampai di sekolah. Sesekali menyapa atau membalas sapaan temanku yang kebetulan bertemu di perjalanan menuju kelasku. Atau bahkan hanya tersenyum atau melambaikan tangan.
Sesampainya di kelas, hanya ada empat orang yang sudah hadir. Tambah aku, jadi lima orang yang sudah hadir. Mereka sedang duduk di bangku mereka, mungkin mengerjakan pr. Hal yang sangat biasa terjadi.
"Pagi," sapaku pada mereka seraya berjalan menuju tempatku.
"Pagi," balas mereka hampir bersamaan, menoleh sekilas ke arahku lalu mulai terfokus lagi dengan kegiatan mereka.
Kuletakkan tasku di atas mejaku kemudian duduk di bangkuku. Duduk manis tanpa melakukan kegiatan apapun. Bertopang dagu, menatap satu persatu teman-temanku yang mulai berdatangan. Menatap perubahan mimik wajah mereka yang berubah, saat melihat temannya yang lain sibuk menyalin pr. Mendengar gumaman mereka yang rata-rata sama, "memangnya ada pr?" atau "pinjamkan aku pr-mu."
Bel masuk berbunyi sebentar lagi tapi masih ada beberapa yang belum hadir. Tiba-tiba, Mia datang menghampiriku. Tanpa berhenti sejenak di tempatnya untuk sekedar menaruh tasnya.
"Vivian, pinjam pr-mu. Aku belum mengerjakan sama sekali," ujarnya dalam satu tarikan nafas.
Aku menghela nafas seraya memutar bola mataku, kemudian tanganku bergerak mengambil buku pr-ku dari dalam tas, lalu memberikannya pada Mia. Belum sempat aku melepaskan genggamanku, Mia telah menariknya lebih dulu. Dengan langkah cepat ia menuju tempatnya, untuk menyalin pekerjaanku.
Aku kesal. Kau tahu kenapa? Dia tidak mengucapkan terima kasih. Sungguh tak tahu diri. Hei kau! Sadarkah kau baru saja ditolong olehku? Sulitkah mengucapkan kata 'terima kasih'?
Bel masuk berbunyi, dan ada beberapa bangku yang masih kosong. Ini memang selalu terjadi di kelasku setiap hari -hari sekolah-. Teman-temanku masih terus melanjutkan kegiatan mereka menyalin pr, tidak mendengar bunyi bel. Seakan-akan telah terpasang tanda 'No Entry' di daun telinga mereka, mencegah suara apapun masuk ke dalam. Ataukah memang mereka tidak peduli? Aku tidak tahu, aku tak bisa membaca pikiran mereka.
Guru fisika datang sepuluh menit kemudian. Mereka mulai sibuk merapikan buku mereka dan buku pinjaman mereka, menyimpannya di dalam laci atau di dalam tas. Guruku, Bu Erva mulai mengajar setelah kami memberi salam padanya.
Setelah dirasa cukup memberi penjelasan, Bu Erva memberi kami latihan untuk dikerjakan. Akupun mulai terfokus dengan soal-soal yang beliau berikan.
Aku sampai pada soal nomor empat dari lima soal yang diberikan. Merasa namaku dipanggil, aku menoleh ke arah orang yang memanggilku. Dan dia adalah Farrah.
Belum ada sedetik aku menoleh, Farrah berkata lagi, "pinjamkan aku bukumu."
Yah, itu maksud darinya memanggilku. Meminta jawaban. Tanpa berkata apa-apa, kuberikan saja bukuku padanya. Dia tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan, wajar karena sejak tadi ia hanya mengobrol bukan memperhatikan Bu Erva mengajar.
Belum sampai satu menit, namaku dipanggil lagi. Tapi, oleh Mia. Ia menyodorkan buku pr yang tadi dipinjamnya dariku. Sekali lagi, tanpa berterima kasih. Sepertinya memang sulit untuk bibirnya mengucapkan terima kasih. Sungguh tak tahu diri.
Beberapa menit kemudian, aku menoleh lagi dan mendapati Farrah sedang menyodorkan buku ke arahku. Kau tahu, tidak ada kata 'terima kasih' darinya. Hei, Farrah. Sulitkah berkata 'terima kasih'? Sungguh tak tahu diri.
Kulanjutkan mengerjakan tugasku. Cukup lama aku mengerjakan, tapi pada akhinya aku berhasil juga menyelesaikannya dengan baik, menurutku. Tak sengaja batinku berbicara, "pasti Farrah akan meminjam bukuku lagi." Dan benar saja, ia memanggilku lagi untuk meminjam buku tentunya. Lantas akupun menoleh padanya, lalu memberikan bukuku padanya.
Lima menit menuju bel pergantian pelajaran, aku memutar tubuhku menghadap tempat Farrah untuk meminta bukuku kembali. Dan kali ini ia mengucapkan 'terima kasih'. Akhirnya, kata itu keluar. Tidak sulit bukan mengucapkan kata itu?
Kami semua beranjak menuju kelas matematika. Pak Rama, guru matematikaku mulai mengajar setelah membalas salam dari kami.
Kebetulan, mejaku menempel dengan meja guru. Di saat kami sedang menyatat, Pak Rama bertanya padaku, "kau ingin serius di kelas akselerasi?"
"Ya, serius. Saya selalu diconteki dengan yang lain di kelas ini," jawabku. Terdengar poloskah? Sepertinya ya.
Kami beranjak menuju kelas Bahasa Inggris setelah bel istirahat berbunyi. Kutaruh tasku di tempatku, tanpa duduk terlebih dahulu aku menuju kelas temanku, Finta. Kuajak temanku, Misha untuk menemaniku.
Kelas X-1, kelas Finta lumayan ramai. Seperti biasa, aku ke sini hanya untuk mengobrol dan pasti kami tertawa di sela-sela obrolan kami. Atau, mengobrol di sela-sela tawa kami? sepertinya yang kedua.
Setelah cukup lama 'mengobrol', aku dan Misha kembali ke kelas kami. Kami berjalan menuju kelas kami yang berbeda lantai dengan kelas Finta. Aku lupa bekalku belum kumakan. Kupercepat langkahku, ynag otomatis Mishapun ikut mempercepat langkahnya untuk menyamai posisiku.
Sampai di kelasku, langsung kududuk di tempatku yang biasa kutempati lalu, memakan bekalku. Tepat saat Dityas, Anna, Farrah dan Iya kembali ke kelas. Benar dugaanku, mereka menghampiriku dan satu per satu meminta bekalku.
Jam istirahat berakhis, kini pelajaran Bahasa Inggris telah dimulai. Lebih tepatnya, ulangan Bahasa Inggris. Waktuku mengerjakan sedikit berkurang karena suara-suara yang memanggilku terus terucap dari bangku di belakang. Anna terus-menerus memanggil namaku dalam jeda tidak menentu. Tentu saja menanyakan jawaban.
Waktu habis dan kertas ulanganpun dikumpulkan. Terlihat yang lain berlalu-lalang menuju meja guru untuk mengumpulkan kertas ulangan mereka. Dan masih juga terdengar bisik-bisik meminta jawaban. Pelajaran Bahasa Inggris diakhiri dengan pengumpulan pr –yang sebagian besar dikerjakan tadi pagi–.
Pelajaran terakhir adalah pelajaran Ekonomi. Tapi, sejak kami sampai di kelas hingga sekarang sudah hampir bel pulang sekolah, guru Ekonomi tidak masuk. Itu berarti, surga dunia bagi kami.
Bel pulang sekolah berbunyi. Sebelum pulang, Mia berpesan padaku, "besok jangan lupa kau bawa buku tugas biologi dan geografimu," yang kujawab dengan, "ya." Oke, sekali lagi tanpa kata 'terima kasih'. Sungguh tak tahu diri.
"Mana buku latihan matematikamu?" tanya Dityas sesampainya di hadapanku dan Mia. Dityas memang semalam mengirimiku pesan singkat yang berisi: besok akan kubawa pulang buku latihan matematikamu. Kemudian, mereka pergi menghampiri Anna dan Farrah setelah mendapatkan apa yang mereka dapat. Ah, tanpa 'terima kasih'.
Aku sadar kalian memanfaatkanku. Memanggilku saat kalian butuh aku. Aku menolong kalian dan mungkin kalian tidak pernah lagi mengingat jasaku. Aku tidak pernah tahu.
Ingin rasanya aku menolak, tapi apa daya. Yang kuhadapi adalah kalian, jika aku menentang kalian, kalian yang akan lebih ganas dariku.
Sadarkah kalian, aku telah melakukan banyak untuk kalian? Tapi, mengucap terima kasihpun jarang kalian lakukan. Yang kurasakan sekarang adalah sakit.
Jika kau menjadi aku, akankah kau merasakan sakit seperti yang kurasakan? Atau apakah kau punya hati? Bisa merasakan sakitkah?
Yang kuinginkan hanyalah kalian mengucap terima kasih padaku, itu saja. Paling tidak itu menunjukkan bahwa kalian menghargai bantuanku.
###