Kedua mataku tak berpaling dari langit-langit kamarku. Entah sejak kapan, yang kutahu sejak aku terbangun dari tidurku-yang tidak pernah nyenyak akhir-akhir ini-sampai sekarang. Mungkin sekitar tiga puluh menit atau lebih, aku tidak tahu.
Tak lama jam bekerku meperdengarkan deringnya yang melengking memecah keheningan. Aku mengedipkan kedua mataku sekali sambil menghela nafas panjang. Kemudian, tangan kiriku bergerak menuju jam beker berwarna hijau berbentuk daun, menekan tombol kecil di atasnya, dengan satu kalimat pendek.
“Kau terlambat lagi kali ini, maaf.”
Aku bangkit dari ranjangku, berjalan menuju kamar mandi. Kuambil seragam sekolahku dari dalam lemari pakianku setelah selesai mandi, kemudian kupakai. Kurapikan rambut panjang hitamku di depan cermin. Lalu, kuambil tas sekolahku juga ponselku yang ada di atas meja belajarku. Sekarang, waktunya pergi ke tempat yang sangat menyesakkan bernama sekolah.
000
Segera kulangkahkan kedua kakiku menuju kelasku sesampainya aku di sekolah. Tidak ada sapaan yang ditujukan padaku ataupun dariku untuk yang lain. Tidak ada yang peduli dengan keberadaanku di sini, di sekolah ini. Begitupun dengan aku, aku juga tak peduli dengan yang ada di sekolah ini.
Seluruh siswa yang ada di dalam kelasku memandangku dengan tatapan sejuta makna, dan yang pasti tidak ada unsur senang di dalamnya. Tatapan membunuh termasuk di dalamnya.
Aku tak mengacuhkannya, aku tetap berjalan terus menuju tempat dudukku. Tepat sebelum aku duduk, terdapat robekan kertas di atas kursiku bertuliskan, ‘kau tak pantas ada di sini!’
Sambil mengangkat alisku, kuambil kertas itu, meremasnya lalu kubuang begitu saja ke lantai tak jauh dariku berdiri. Tak lama, terdengar suara keras yang ditujukan kepadaku.
“Kau menghalangi jalanku, Aramina Bodoh Davis!”
Aku sangat mengenal pemilik suara itu. Tak lain tak bukan itu adalah suara Viveca Leroy, orang yang sangat ditakuti di sekolah ini, walaupun ia seorang perempuan.
“Oh, maaf kalau begitu. Silahkan, Nona Leroy,” kataku dengan nada mencibir sambil bergeser dari tempatku semula.
“Coba ulangi nada bicaramu!” suaranya melengking, memekakkan telingaku.
“Kau menyuruhku?” tanyaku. Kali ini nada bicaraku lebih tenang.
Muka Leroy memerah karena marah bercampur kesal. Begitu pula dengan tiga orang pengikutnya yang terlihat sudah ingin menerkamku.
“Ah sudahlah! Aku muak denganmu!” katanya, kemudian pergi menjauh diikuti ketiga pengikutnya. Oh, tak lupa mereka menubruk bahuku hingga tubuhku oleng. Beruntung aku langsung terduduk di kursiku, bukan terjatuh di lantai.
000
Bel pulang berbunyi, seluruh murid minus diriku cepat-cepat keluar kelas sesaat setelah guru keluar. Sebagian dari mereka telah membereskan barang-barangnya hampir lima belas menit sebelum bel berbunyi, tak perlu heran. Sang Leroy beserta pengikut-pengikutnyapun telah meninggalkan kelas.
Kini tinggal aku sendiri di dalam kelas. Ralat! Ada seorang lagi di dalam kelas selain diriku, seorang perempuan dan kalau tidak salah namanya Cassandra Tesla. Aku tahu karena ia selalu mengangkat tangannya ketika nama Cassandra Tesla disebut oleh guru saat proses pengabsenan.
Ia sedang menunduk, sepertinya sedang menulis sesuatu dan terlihat sangat serius sekali. Dan benar saja, ia kemudian meletakkan secarik kertas yang terlipat rapi ke dalam laci mejanya. Timbul rasa penasaran dalam diriku. Oke, siapapun dia dan apa yang sedang dilakukannya, aku tidak peduli.
Akupun mengalihkan pandanganku keluar jendela, menatap langit sore yang terlihat damai, tenang. Sungguh aku iri. Terdengar suara kursi bergeser dan langkah kaki yang makin lama makin tidak terdengar. Aku tahu dia telah meninggalkan kelas. Aku tidak menoleh untuk melihat kepergiannya, tidak peduli, tetap menatap langit.
000
Pukul lima sore, aku telah berjalan meninggalkan kelas. Jarakku dengan gerbang sekolah tinggal sepuluh meter lagi, namun langkahku terhenti oleh lengkingan suara yang terdengar tak jauh dari tempatku berdiri. Aku menoleh ke asal suara dan mendapati Sang Leroy beserta tiga pengikutnya tengah mendesak seseorang. Mereka berdiri di bawah pohon besar dekat dengan gerbang sekolah.
Aku mendengus kemudian berkata, “lagi.”
“Gadis itu…,” kataku dalam hati saat melihat Tesla yang menjadi korban Leroy kali ini.
Entah mengapa aku terdiam di tempatku berdiri, ingin menyaksikan kejadian itu.
“Aku menyuruhmu untuk mengerjakan PR-ku, bukan menghilangkan bukuku, bodoh!” Leroy menjambak rambut Tesla. Tesla yang terlihat sangat berantakkan, pasrah saja diperlakukan oleh Leroy.
“A-aku sudah me-mengerjakannya, sungguh. Ta-tapi, bukumu tak sengaja h-hi-hilang,” ujar Tesla terbata-bata menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Terlihat bulir-bulir air mata keluar dari kedua matanya.
“Aku tidak mau tahu, kau harus menyalin ulang buku PR-ku,” terdengar lagi suara Leroy yang kini tidak keras namun bergetar marah. Terdengar sangat mengerikan. Ketiga pengikutnya mengangguk-angguk setuju dan menyeringai kejam ke arah Tesla.
Tesla hanya mengangguk lemah. Leroy melepaskan jambakkannya, namun sebagai gantinya ia menampar pipi Tesla dengan keras. Tesla meringis sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Leroy. Aku sendiri tak sanggup membayangkan bagaimana rasa sakitnya.
Viveca Sok Berkuasa Leroy beserta pengikut-pengikutnya tertawa puas melihat betapa tersiksanya Tesla. Leroy kemudian mendorong tubuh Tesla hingga membentur pohon di delakangnya. Lalu, pergi bersama para pengikutnya meninggalkan Tesla yang tengah mengerang kesakitan.
Leroy dan para kawanannya menghilang di balik gerbang sekolah. Tanpa kusadari kedua kakiku melangkah mendekati Tesla.
“Kau bodoh,” kataku ketika aku telah berdiri hampir satu meter darinya yang sedang duduk memeluk lutut sambil membenamkan wajahnya.
Mendengar suaraku, Tesla mengangkat wajahnya kemudian tersenyum getir ke arahku.
“Tak apa,” katanya dengan suara bergetar menahan rasa sakit, dengan senyum yang masih terpasang.
“Tak usah memaksakan tersenyum jika tidak bisa,” ujarku ketus. Lalu, mengulurkan tangan yang disambut oleh Tesla. Tesla bangkit berdiri.
“Semoga kau baik-baik saja. Aku pergi,” kataku kemudian berjalan menginggalkan Tesla.
“Terima kasih, Aramina,” ujar Tesla.
Aku merasa ia masih menatap punggungku, namun aku tak peduli. Aku terus berjalan, menjauh.
000
Esok harinya, saat aku sedang berjalan pulang dari sekolah menuju rumahku, aku tak sengaja bertemu dengan Tesla. Aku berpura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan, namun suara kecilnya memanggilku. Mau tidak mau aku berhenti dan kemudian Tesla menghampiriku.
“Hai,” sapanya ramah padaku sambil memasang senyum tulusnya.
“Ada apa?” tanyaku ketus.
“Apa aku boleh meminta bantuanmu?” tanyanya, masih tersenyum.
Aku tetap diam, tidak merespon pertanyaannya. Kemudian, ia bertanya lagi, “bolehkah? Aku mohon.”
Dan aku hanya berkata, “apa?”
Ia tersenyum lebih lebar lalu, menyodorkan sebuah buku yang di atasnya tertulis nama ‘Viveca Leroy.’ Mungkin ia sudah menyalinkan PR yang baru untuk si kejam Leroy itu.
“Tolong berikan ini pada Leroy,” ujarnya, senyumnya belum pudar.
Aku menerima buku itu lalu tersenyum singkat kepadanya. Kini, ia memasang cengiran bahagia di wajahnya lau berkata, “terima kasih, Aramina. Terima kasih telah membantuku.”
Aku mengangguk singkat dengan ekspresi datar, namun itu tidak menghilangkan senyumnya yang terlihat tidak dibuat-buat.
“Aku pergi,” kataku kemudian pergi meninggalkan Tesla.
000
Hari ini, Cassandra tidak masuk sekolah. Oke, aku memanggilnya dengan nama depannya, karena ia memanggilku dengan nama depanku. Tumben sekali ia tidak masuk. Bahkan walaupun tubuhnya memar-memar akibat tindakkan Leroy dan kawannnya, ia tetap masuk. Tapi, kali ini kursinya kosong. Aku menatap tempatnya dengan berbagai pertanyaan melayang di pikiranku. Tapi, tiba-tiba kedua mataku tertuju pada secarik kertas yang ada di dalam lacinya. Aku berniat untuk mengambilnya nanti saat pulang sekolah.
000
kriiing… kriiing…
Bunyi bel pulang sekolah berbunyi, seluruh murid berhamburan keluar kelas tak terkecuali Leroy dan ketiga anak buahnya. Aku segera membereskan barang-barangku kemudian berjalan menghampiri tempat duduk Cassandra. Kuambil kertas itu lalu kubaca isinya. Aku tertegun membacanya. Teraku sesaat. Tak sadar air mata menetes ke pipiku. Aku tak mau menyekanya, membiarkannya hilang dengan sendirinya terhapus oleh angin.
Aku melipat kembali kertas itu. Aku mengambil buku Leroy yang diberikan oleh Cassandra, lalu menaruh kertas itu di selipan buku Leroy. Kemudian, aku meletakkannya di meja Leroy.
Keheningan koridor sekolah terpecah oleh langkah kakiku. Aku berjalan pulang seperti hari-hari kemarin. Menganggap tidak terjadi apa-apa seperti hari-hari kemarin. Namun, masih teringat jelas isi surat itu:
Aku tak ingin mengganggu kehidupan teman-temanku lagi.
Terima kasih atas selama ini.
Aku ingin hidup dengan tenang di kehidupanku yang selanjutnya. Kehidupan setelah kematian.
Aku pernah mendengar kalimat: hidup hanya untuk mati.