Kamis, 07 April 2011

Saint Arrhenius (Vis Deorum Dearumque) Ch. 1

KRIIIINNNGGG!!!!

Aku membuka mata. Aku duduk,menggosok-gosok mata,kemudian menatap ke arah jam beker itu dengan tatapan sebal. Aku mengarahkan tangan ke arah jam yang masih berdering itu,membuatnya terbang ke arah telapak tanganku,dan mematikannya. Aku menguap.

Oh ya, asal tahu saja,aku seorang telekinetik.

Tahu kan, telekinetik itu apa? Yap, kemampuan untuk menggerakkan benda-benda hanya dengan pikiran. Yah, aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa memiliki kemampuan itu. Aku pertama kali menyadarinya ketika aku berumur 8, dengan cara yang sama dengan yang tadi–menarik jam beker dari kejauhan. Awalnya aku terkejut, kemudian merasa keren, kemudian...biasa saja. Hanya orangtuaku dan teman-teman dari kelas A yang tahu tentang kemampuan telekinetikku.

Semuanya bermula 2 bulan lalu. Ketika aku mendapat surat bahwa aku diterima di sekolah St. Arrhenius. Bukan hanya diterima sebagai murid biasa, namun sebagai murid kelas A, kelas khusus yang menangani anak-anak dengan kemampuan ‘khusus’. Yang dimaksud disini adalah anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa sepertiku. Misalnya Samantha–teman sekamarku–yang memiliki kemampuan telepati. Atau si kembar Lucy dan Lucas, yang memiliki kemampuan mengendalikan elemen. Ada 7 orang murid di kelas A (jika aku dihitung,berarti 8). Kami semua diajarkan untuk mengendalikan kekuatan kami. Yah, pelajaran biasa tetap diajarkan sih, namun dengan waktu pertemuan yang tidak terlalu sering. Hal itu sangat bagus bagiku–karena aku lebih senang jika disuruh menggerakkan buku-buku dibanding membaca buku-buku.

Aku bangun,mandi, kemudian memakai seragam sekolahku dengan sedikit terburu-buru. Hal yang membuatku bertahan di St. Arrhenius–selain kelas A–adalah seragamnya yang keren. Rok lipit abu-abu tua yang keren, kemeja putih, dasi, dan blazer merah tua dengan lambang sekolah terjahit di bagian dada. Di lambang sekolah itu, ada tulisan ‘Vis Deorum Dearumque’. Aku tidak tahu apa arti tulisan itu, namun hanya murid dari kelas A yang memiliki tulisan ini di blazernya. Di sekolah ini memang ada anak-anak biasa, namun mereka tinggal di asrama yang berbeda dengan kelas A, yang menempati asrama di bangunan utara gedung sekolah.

Ketika aku bangun tadi, tempat tidur Sam sudah kosong. Yah, dia memang yang paling rajin diantara kami. Aku bergegas menyambar tas sekolahku, kemudian keluar dari kamar. Curang sekali Sam, dia tidak membangunkanku!! Baru beberapa langkah aku menyusuri koridor, aku merasakan sesuatu melesat di sampingku. Tanpa berpikir dua kali aku sudah tahu siapa itu.

“Hoi Wayne, tidak perlu buru-buru!!” teriakku memanggilnya.

“Justru kau harus buru-buru, Cass!! Pelajaran Andrew 5 menit lagi!!” teriaknya di kejauhan.

Tunggu dulu, 5 menit lagi? Buru-buru aku melihat jam di pergelangan tanganku.

Yang ternyata mati.

Siaaaaaaallll!!!!!