Rabu, 27 Februari 2013

Kau Mencintainya

Kau tahu mencintainya telah menjadi candu buatmu. Tidak ada satu malam pun terlewati tanpa mencintainya. Kau terus mencintainya, padahal kau tahu peluang untuk kau dicintainya sangalah kecil. Tapi kau tidak peduli. Kau akan selalu mencintainya. Setidaknya hari ini kau mencintainya, kemarin kau mencintainya. Setelah itu seiring dengan berjalannya waktu, besok akan menjadi hari ini, dan hari ini akan menjadi kemarin. Begitu seterusnya sampai kau pergi meninggalkan bumi--dunia--ini.
   Yang kau inginkan adalah mencintainya, tanpa eduli apakah dirinya mencintaimu atau tidak. jika tidak--dan pasti tidak--, hal itu akan membuatmu sedih dan sakit, dan akan membuatmu menangis semalaman penuh hingga waktu berganti lagi. Kau menangis, merutuki dirimu yang bodoh. Mengasihani dirimu yang mencintai orang yang kau tahu pasti tidak mencintaimu.
    Kau sadar betapa menyedihkannya dirimu.
  Sudah lama sejak kau mulai menyadari perasaan cintamu padanya. Kini kau memutuskan untuk mengingatnya kembali. Kau ingat bagaimana kau sering berkutat dengan rasa bingung milikmu. Perasaanmu sangat membuatmu bingung. Kau ingat bagaimana perasaanmu mempermainkanmu, tidak membiarkanmu dengan mudah mengetahuinya. Kau ingat bagaimana kau harus berjalan d dalam labiri super rumit terlebih dahalu sebelum kau diizinkan untuk mengetahui erasaanmu pada dirinya adalah perasaan cinta. Kau juga ingat bagaimana pertanyaan mengapa kau mencintainya mulai muncul dan menjadi dongeng sebelum kau masuk ke dalam dunia tidurmu.
   Pertanyaan yang sama terus terulang di benakmu, menghujani malammu. Pertanyaan tanpa jawaban yang menjamah. Jawaban yang kau butuhkan tak kunjung muncul, hingga pada akhirnya kau pun pasrah menerima perasaan ini tanpa satu alasan pun yang menyertainya. Oh, tentu beralasan. Tapi aku sama sekali tidak tahu. Atau paling tidak, belum tahu. Aku harus bersabar, kalau begitu.
  Tanpa kau sadari kepasrahanmu dengan perlahan menyelimutimu, dan kini hidupmu penuh dengan kepasrahan. Kau dan hidupmu telah dijadikan budak oleh perasaanmu sendiri. Dan lagi, kau hanya pasrah. Karena kau tak mampu berpikir rasional. Yang rasional dan normal saat ini adalah mencintainya. Mencintainya terasa normal bagimu.
   Kau tahu kau telah jatuh padanya.
   Kepasrahanmu berujung pada sebuah kelelahan. Kau muak. Kau lelah. Kau membuat dirimu dikuasai oleh perasaan cintamu padanya. Kau lelah. Pasrah adalah tindakan bodoh. Kau bodoh.
  Kelelahanmu telah mencapai puncaknya. Kau ingin menghentikan semuanya. Kau lelah. Maka di sinilah kau berdiri sekarang. Kau ingin sekali meneriaki dirimu sendiri untuk pergi dari tempat kau berdiri sekarang, berlari secepat mungkin agar kaki-kakimu lelah sehingga kau akan fokus terhadap lelah di kakimu, dan bukan lelah di pikiranmu. Tapi, kau tahu ini sudah terlambat.
   Sekarang kau malah membuat dirimu berdiri di sana tanpa terlihat ingin pergi dari tempat itu. Kau tahu itu karena dirinya berdiri tepat di depanmu, dan kau tak menginginkan hal lain selain berada di dekatnya, meski debaran jantungmu membuatmu terasa seperti ingin mati. Tapi kau suka debaran yang terjadi pada jantungmu.
   Kau mendapati dirimu tidak melepaskan tatapanmu dari kedua matanya. Kini kau tahu bahwa warna iris matanya adalah hitam. Warna hitam yang mengingatkanmu pada seseorang yang mencintaimu dahulu. Lalu, kau mulai bertanya-tanya lagi setelah sejak lama kau berhenti membisikkan pertanyaan-pertanyaan tentang perasaanmu padanya di setiap malam. Kau belum lupa caranya utnuk bertanya, jadi kau menyuarakan pertanyaanmu yang baru dengan keras ke benakmu sendiri. Apakah pemilik mata hitam di hadapanku ini juga akan mencintaiku?
  Sebelum aku masuk lebih dalam ke dalam bola matanya yang terus membalas tatapanmu, kau mulai berkata. Berkata dengan suara aslimu, dan bukan kepada benakmu, tapi kepada dirinya yang selama ini sangat kau dambakan sosoknya.
   "Gue suka lo." Suara itu bergetar, tapi tanpa celah sedikit pun. Suara itu keluar dari mulutmu sendiri dengan kemantapan yang sungguh-sungguh.
  Kedua matamu tak lepas dari mata hitamnya yang terlihat semakin hitam dan gelap di koridor miskin cahaya--remang--tempat kalian berdiri berhadap-hadapan sekarang. Setelah beberapa saat akhirnya dirinya menghentikan kontak matanya padamu, tapi kau tetap dengan posisimu. Dia terlihat memiliki ketertarikan lebih pada sepatunya untuk dilihat dibandingkan dengan kedua matamu yang terus menunjukkankesungguhan atas ucapanmu barusan seiring detik yang terus berjalan. Apakah dirinya menyadari arti dari tatapanmu, kau tidak tahu. Yang kau tahu hanyalah bahwa kau berhasil membuatnya kaget da bingung. Setidaknya itulah yang ia katakan setelah banyak menit yang terlewati dalam diam.
   Apakah dirinya benar-benar bingung, kau tidak tahu sepenuhnya. Jika ya, apa yang membuatnya bingung? Kau tidak tahu apa yang membuatnya bingung, tapi kau ingin tahu. Namun, apakah kau perlu tahu, kau tidak tahu. Kau juga bingung karenanya.
  Kedua matamu tak pernah lepas dari detil-detil wajahnya yang bingung. Entah mengapa kau tak ingin melepaskan tatapanmu padanya. Kunc tatapanmu telah kau buang.
   Kau menunggu dengan sabar, sampai pada akhirnya kesabaranmu dihadiahi sebuah suara darinya.
  "Kenapa... lo bisa... bisa suka sama gue...?" Kepalanya terangkat saat mengatakannya, menatapmu sekilas, lalu kembali tertarik untuk melihat sepatunya... atau lantai di dekat sepatunya... atau bahkan sebenarnya dia tidak benar-benar menatap keduanya... kau tidak pernah tahu. Yang kau tahu adalah kedua matamu terus mengikuti gerakan yang ia lakukan. Tanpa pernah tertinggal satu gerakan kecil pun.
   Lidahmu kelu. Bibirmu terkatup rapat. Kunci tatapanmu tiba-tiba kau temukan, dan kau mendapati dirimu menatap ujung koridor. Tapi tidak benar-benar menatapnya karena tatapanmu menerawang. Pertanyaan itu... kembali muncul. Namun bukan keluar dari bisikanmu, melainkan dari dirinya. Tentu aja kau tahu bahwa dirinya akan menanyakan perihal tersebut, tapi kau tidak repot-repot menyiapkan jawabannya. Kau tidak tahu jawabannya. Atau belum... 
   Kau tidak tahu jawabannya, maka kau menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang kau tahu.
  "Gue... nggak tahu." Dan pandanganmu telah kembali lagi. Tapi, itu hanya sebentar. Sangat sebentar. Karena begitu mataku membalas tatapannya, ia kembali menyembunyikan matanya dalam tundukan kepalanya. Itu tidak membuatmu berhenti menatapnya, kau tahu itu.
   Diam kembali menelan kalian dalam waktu yang cukup lama. Ini membuatmu senang, dan tenang. Tapi tidak bertahan lama, karena kau lelah. Jadi kau melakukannya.
   "Oke, kalau begitu. Gue pulang dulu." Kalimat itu meluncur dari bibirmu yang kau tutup dengan senyum kecil. Dengan seketika kau membalikkan tubuhmu tanpa merasakan tatapannya pada punggungmu yang perlahan mulai menjauh darinya. Juga tanpa suaranya yang kau inginkan untuk memanggilmu kembali. 
   Kau seharusnya tahu itu tidak akan terjadi. Kau berjalan pelan di koridor yang mulai ramai oleh orang-orang. Masih remang. Dan, pertanyaan baru kemudian muncul: Apakah warna matanya benar-benar hitam?
  Pertanyaan itu belum akan terjawab karena masih ada remang yang menghalangi. Sama seperti kebingungannya yang belum mencapai puncak kejelasannya karena masih ada remang yang menghalangi.
   Dadamu terasa sesak seiring langkah kakimu yang mulai menjauh.
  Kau mencintainya. Bukan sekadar menyukainya. Kau sadar itu sepenuhnya sekarang. Kau memang mengaku padanya bahwa kau menyukainya, karena kau punya alasannya.
   Kau sedih, sekaligus senang karena mencintainya.
   Kau mencintainya.