Aku suka pensil. Sebuah alat berujung karbon yang sanggup mengubah sepi menjadi ramai. Paling tidak bagiku, sebuah pensil cukup buatku mengisi kosong hidupku. Pensil juga cukup memberiku semangat saatku lelah. Oh, percayalah aku serius.
Ya,
semua membuatku lelah. Bahkan diriku sendiri.
Aku
meruncingkan pensilku pagi itu, entah sudah yang keberapa kali. Aku selalu
membuat pensilku runcing sekali; tajam. Aku suka benda tajam. Hmm, sekarang
mungkin kau sudah bisa menilai aku orang seperti apa, kan? Baik, tak apa.
Ngomong-ngomong
koridor sangat sepi, suara serutan pensilku bahkan ramai sekali rasanya. Oh,
aku tidak peduli memang, tapi entah mengapa terlintas di pikiranku begitu saja.
Lihat kan bagaimana diriku membuatku lelah. Aku menggelengkan kepala, heran.
Siap
sudah pensilku.
“Hoi,
cewek jagung!”
Seketika
langkahku terhenti. Satu langkah lagi aku mencapai perpustakaan. Aku kenal
jelas suara itu. Perempuan salon yang tiada hentinya memanggilku cewek jagung
sejak SD.
“Minggir!
Pandanganku terhalang rambut kusutmu, tahu!” teriaknya lagi, diiringi tawa
mencemooh dari koloninya yang memiliki rambut teratur, sama persis seperti
milik bosnya.
Aku
mendengus kesal kemudian menoleh dan mendapati dirinya bersama kaki-kaki
jenjangnya melangkah semakin mendekat. Aku mengepalkan tangan kiriku dan
kurasakan pensil yang kugenggam mengeluarkan suara gemeretak.
Aku
muak.
Sedetik
kemudian suara pilu tusukan terdengar keras sekali di telingaku. Lagi-lagi aku
mampu membuat kebisingan hanya dengan sebuah pensil. Hanya aku yang bisa.
Kuseka darah yang mengenai wajahku dengan lengan seragamku sambil tersenyum.
Senyum sinis adalah bentuk simpatiku. Aku menang.
Katrina
roboh, duduk terjongkok sambil memegangi luka lehernya yang terus mengeluarkan
darah. Kedua temannya panik mengerubungi Katrina sambil dengan hati-hati
menyelamatkan rambutnya dari aliran darah yang terus mengalir. Sedangkan aku,
tawa menggantikan senyumku yang tadi. Tawa kemenangan mutlak.
Salah
satu anak buah Katrina lalu berdiri, menatapku dengan tatapan membunuh meskipun
ketakutannya tak berhasil tertutupi. Tawaku reda seketika, tergantikan seringai
yang membuatnya membelalak. Tergagap, suaranya mencicit dan
menakutiku—menurutnya. “Kulaporkan, kau!”
Kepalanku
semakin keras. Serutan yang ada di genggaman kananku bergemeretak, retak. Dan
kurasakan sedikit telapak tanganku tergores. Aku mendengus menantang, “Oh, ya?”
Dan
dengan satu gerakan tangan sekaligus jeritan membungkam udara sekeliling.
Kurasakan
tanganku menggantung lemas di samping tubuhku. Hidungku mendadak lupa caranya
bernapas. Jeritan mendobrak masuk ke telingaku. Tanpa ampun mengeroyokku.
Seketika
ingatan itu bermunculan. Dengan tegang kedua tanganku menutup daun telingaku
sendiri, dan sekejap suara jeritan melengking itu berubah menjadi suara jeritanku
sendiri yang kemudian hilang. Dapat kurasakan darah segar mengalir memenuhi
rongga mulutku, membungkamku. Jeritan berganti isakan lemah. Aku lelah. Lalu
tawa keras tumpah mengguyurku, kepalaku. Menambah perih luka yang tak tertahan
lagi. Tawa itu semakin penuh dan keras. Makin keras. Keras sekali.
Sampai
pada akhirnya suara mengerikan itu hilang terserap oksigen yang kemudian
kembali kuhirup. Tubuhku menuntut oksigen lebih banyak. Mulutku terbuka, bukan
untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, tapi untuk berteriak
sekeras-kerasnya.
Tiba-tiba
sebuah tangan berat memukul wajahku. Tubuhku limbung, ambruk ke lantai yang
dingin. Kepalaku terbentur. Kulihat samar pensil menggelinding meninggalkan
genggamanku, aku mendengus lemah sekali lagi menertawakan diriku sendiri. Sudah
kubilang, aku lelah. Terlalu lelah.
Beberapa
suara mencoba menjemputku, tapi gagal.
Hitam.
Gelap.