Jumat, 16 Juli 2021

Pensil

Aku suka pensil. Sebuah alat berujung karbon yang sanggup mengubah sepi menjadi ramai. Paling tidak bagiku, sebuah pensil cukup buatku mengisi kosong hidupku. Pensil juga cukup memberiku semangat saatku lelah. Oh, percayalah aku serius.

Ya, semua membuatku lelah. Bahkan diriku sendiri.

Aku meruncingkan pensilku pagi itu, entah sudah yang keberapa kali. Aku selalu membuat pensilku runcing sekali; tajam. Aku suka benda tajam. Hmm, sekarang mungkin kau sudah bisa menilai aku orang seperti apa, kan? Baik, tak apa.

Ngomong-ngomong koridor sangat sepi, suara serutan pensilku bahkan ramai sekali rasanya. Oh, aku tidak peduli memang, tapi entah mengapa terlintas di pikiranku begitu saja. Lihat kan bagaimana diriku membuatku lelah. Aku menggelengkan kepala, heran.

Siap sudah pensilku.

“Hoi, cewek jagung!”

Seketika langkahku terhenti. Satu langkah lagi aku mencapai perpustakaan. Aku kenal jelas suara itu. Perempuan salon yang tiada hentinya memanggilku cewek jagung sejak SD.

“Minggir! Pandanganku terhalang rambut kusutmu, tahu!” teriaknya lagi, diiringi tawa mencemooh dari koloninya yang memiliki rambut teratur, sama persis seperti milik bosnya.

Aku mendengus kesal kemudian menoleh dan mendapati dirinya bersama kaki-kaki jenjangnya melangkah semakin mendekat. Aku mengepalkan tangan kiriku dan kurasakan pensil yang kugenggam mengeluarkan suara gemeretak.

Aku muak.

Sedetik kemudian suara pilu tusukan terdengar keras sekali di telingaku. Lagi-lagi aku mampu membuat kebisingan hanya dengan sebuah pensil. Hanya aku yang bisa. Kuseka darah yang mengenai wajahku dengan lengan seragamku sambil tersenyum. Senyum sinis adalah bentuk simpatiku. Aku menang.

Katrina roboh, duduk terjongkok sambil memegangi luka lehernya yang terus mengeluarkan darah. Kedua temannya panik mengerubungi Katrina sambil dengan hati-hati menyelamatkan rambutnya dari aliran darah yang terus mengalir. Sedangkan aku, tawa menggantikan senyumku yang tadi. Tawa kemenangan mutlak.

Salah satu anak buah Katrina lalu berdiri, menatapku dengan tatapan membunuh meskipun ketakutannya tak berhasil tertutupi. Tawaku reda seketika, tergantikan seringai yang membuatnya membelalak. Tergagap, suaranya mencicit dan menakutiku—menurutnya. “Kulaporkan, kau!”

Kepalanku semakin keras. Serutan yang ada di genggaman kananku bergemeretak, retak. Dan kurasakan sedikit telapak tanganku tergores. Aku mendengus menantang, “Oh, ya?”

Dan dengan satu gerakan tangan sekaligus jeritan membungkam udara sekeliling.

Kurasakan tanganku menggantung lemas di samping tubuhku. Hidungku mendadak lupa caranya bernapas. Jeritan mendobrak masuk ke telingaku. Tanpa ampun mengeroyokku.

Seketika ingatan itu bermunculan. Dengan tegang kedua tanganku menutup daun telingaku sendiri, dan sekejap suara jeritan melengking itu berubah menjadi suara jeritanku sendiri yang kemudian hilang. Dapat kurasakan darah segar mengalir memenuhi rongga mulutku, membungkamku. Jeritan berganti isakan lemah. Aku lelah. Lalu tawa keras tumpah mengguyurku, kepalaku. Menambah perih luka yang tak tertahan lagi. Tawa itu semakin penuh dan keras. Makin keras. Keras sekali.

Sampai pada akhirnya suara mengerikan itu hilang terserap oksigen yang kemudian kembali kuhirup. Tubuhku menuntut oksigen lebih banyak. Mulutku terbuka, bukan untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, tapi untuk berteriak sekeras-kerasnya.

Tiba-tiba sebuah tangan berat memukul wajahku. Tubuhku limbung, ambruk ke lantai yang dingin. Kepalaku terbentur. Kulihat samar pensil menggelinding meninggalkan genggamanku, aku mendengus lemah sekali lagi menertawakan diriku sendiri. Sudah kubilang, aku lelah. Terlalu lelah.

Beberapa suara mencoba menjemputku, tapi gagal.

Hitam.

Gelap.

Sunyi.