Hari ini tidak begitu dingin, juga tidak
begitu panas. Seharian ini matahari tidak terlalu memamerkan dirinya, jadi hari
terasa cukup tenang. Dan menyenangkan, kuharap. Paling tidak di sisa sore hari
ini. Aku bangkit dari tempat dudukku di samping jendela setelah memastikan
seluruh barang-barangku telah masuk ke dalam ransel biruku dengan sempurna. Aku
merasakan ada gerakan di belakangku yang kuasumsikan seseorang tersebut juga
sedang bersiap untuk pulang. Sekilas kulirik jam tanganku, pukul 5 sore, hmm
pantas saja.
Kulihat sekali lagi meja di hadapanku,
memastikan tidak ada barang yang tertinggal, baru kulanjutkan langkah menuju
beberapa orang yang sedang menikmati cemilan sore hari. “Aku pulang duluan,
ya,” ujarku sambil memperlambat langkahku. “Iya. Hati-hati, ya,” balas mereka
hampir bersamaan.
Sudah tak ada lagi pegawai yang tersisa
selain orang-orang tadi, jadi kulanjutkan langkahku dengan mantap menuju pintu
keluar di ujung ruangan. Langsung kutempelkan kartu akses pintu yang
menggantung di leherku begitu sampai, sepersekian detik pintu kaca di depanku
terbuka dan sepersekian detik juga pintu kaca di seberang terbuka. Kemudian
kedua mata kami bertemu. Cukup singkat, tapi cukup buatku untuk mengenali orang
itu. Seorang pegawai laki-laki mengenakan jaket merah gelap, yang kemudian
berjalan menuju lift yang terbuka—lift yang ada di hadapanku. Di dalam lift,
kutatap ujung sepatuku, “Apakah dia ingat juga?” tanyaku dalam hati.
Seperti yang kubilang tadi, hari ini terasa
cukup tenang. Ternyata, bahkan angin pun tidak berbisik. Sial, fakta bahwa
kemungkinan aku akan berkeringat sudah membuat perjalanan pulang kali ini tidak
menyenangkan… atau tidak. Langkahku melambat seketika mendapati orang itu
berjalan mendahuluiku dan sekarang sudah beberapa langkah jauh di depanku. Ada
4 akses keluar-masuk untuk pejalan kaki di area tempatku bekerja, saat ini
kami—ya, aku dan laki-laki berjaket merah itu—sedang menuju pintu 1 dan 2. Ia terus
melangkah lurus menuju pintu 1 dan aku belok kiri menuju pintu 2, tanpa sadar
aku bergumam kecil, “Jadi dia pulang naik bis.”
Cukup, Laura.
Drrttt… drrttt…
Pesan dari bapakku yang mengatakan akan
berangkat untuk menjemputku di stasiun MRT tujuanku. Kubalas singkat mengiyakan
sebelum melangkahkan kaki keluar dari area kantorku. Belum cukup panjang
perjalanan ini, di hadapanku masih ada jalan panjang lain menuju pintu masuk
stasiun MRT yang harus kutempuh. Tunggu, di hadapanku bukan hanya ada jalan panjang
yang akan menghadiahiku beribu keringat. Ada jaket merah gelap yang tadi sempat
kulihat. Aku tertawa kecil, apa yang ada di pikirannya sampai memilih jalur yang
lebih jauh?
Cukup, Laura. Kau memang malas.
Dan ya, mata kami bertemu kembali. Hanya
itu, tak ada gestur lain.
Kubiarkan pikiranku berjalan sendiri, aku
ingin cepat pulang dan mandi. Langkahku kembali mantap menuju stasiun MRT dan
akhirnya aku pun sampai di peron tempat MRT tujuanku setelah eskalator panjang
dan tangga yang juga panjang. Aku mendongak untuk melihat informasi waktu
kedatangan pada papan informasi digital di atasku, 17.28. Baiklah, lima menit
lagi. Belum kembali pandanganku pada pintu pembatas peron dan area rel kereta,
pandanganku bertemu kembali pada laki-laki itu yang sedang berjalan menuju
peron yang sama denganku.
Bahkan angin tak muncul untuk ikut tertawa
bersamaku. Kutatap lagi ujung sepatuku sambil tertawa dalam diamku sendiri,
menahan keinginanku untuk melirik kearahnya. “Mungkinkah besok akan sama?”