Sabtu, 21 April 2012

16, 17, 18

Lembar jawaban gue masih belum sepenuhnya terisi. Dan ada dua hal yang mungkin akan gue lakukan dan pasti membuahkan hasil demi terisinya lembar jawaban gue tercinta. Dua hal tersebut ialah, membuat teori ngaco dadakan yang sotoy abis atau bertanya pada teman. Setelah berpikir keras, akhirnya gue memilih untuk melakukan keduanya. Karena, jelas keduanya punya sensasi tersendiri.

Gue menoleh ke kanan--lebih tepatnya ke arah Dira--karena sebelah kiri gue itu dinding. Yang gue lihat Dira sangat sibuk mengerjakan soal-soal di hadapannya, tapi gue tidak pernah tahu apa sebenarnya yang dilakukan Dira. Gue beralih pada orang yang duduk di depan gue, Tio, yang juga lagi sibuk entah melakukan apa. Gue menoleh ke belakang gue dan harus mendapati dinding yang diam terpaku.

Oke. Kesimpulan yang gue peroleh: belum saatnya buat gue bertanya pada yang lain. Option yang akan gue pakai adalah membuat teori ngaco dadakan yang sotoy abis. Dua belas nomor hitungan dalam lima belas menit waktu yang tersisa. Tidak jadi masalah, bikin teori ngaco tidak butuh waktu yang lama.

Gue memandang sekeliling. Anak-anak yang lain sudah mulai terlihat gelisah di kursi masing-masing, dan menjadi panik seketika saat terdengar sebuah kalimat dari pengeras suara di kelas.

"Waktu mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi. Sekali lagi, waktu mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi." Suara itu keras sekali, terdengar makin keras dan jelas di tengah suasana hening ini.

Sekarang gue sudah betul-betul tidak peduli keadaan sekitar. Meskipun gue tahu mereka tengah sibuk berkutat dengan rasa pabik mereka masing-masing. Gue pun tahu mereka akan sibuk bertanya sana-sini, apa jawaban nomor ini-nomor itu. Bahkan gue tahu mereka akan dengan cepat kembali ke posisi normal sambil mengumpat tidak keruan begitu mata pengawas terjaga. Walaupun gue tahu semua itu, gue tidak peduli. Persetan dengan tawa gue yang mungkin gue keluarkan saat melihat semua kejadian tadi.

Betapa kontrasnya keadaan di dalam kelas dengan keadaan di luar sana. Burung-burung hinggap di kabel listrik sambil mungkin bercicit ria di luar sana. Gue sama sekali tidak peduli. Yang gue pedulikan, dan yang gue inginkan hanyalah lembar jawaban gue terisi dengan sempurna.

Gue merasakan gerakan-gerakan yang menunjukan bahwa pwngawas bangkit berdiri lalu berjalan keliling. Formalitas. Gue menghela napas dalam dan panjang, agar gue tidak kalap. Gue frustasi. Dengan ngeri dan jijik, gue tatap rupa soal-soal di depan gue lekat-lekat. Satu halaman itu betsih dari coret-coretan gue. Satu halaman itu soal-soal integral.

Gue merasakan ada sepasang mata yang tengah menatap gue, dan gue yakini itu adalah sepasang mata pengawas. Tanpa menghiraukannya gue coba membuat teori ngaco, otak gue langsung bekerja tanpa disuruh. Tapi, ternyata otak gue tidak mampu membuat teori untuk integral. Sedih. Gue makin frustasi. Gue pasrah. Gue bakalan tanya Dira! Jadi, gue menoleh ke Dira setelah gue melihat nomor-nomor yang akan gue tanyakan: enam belas, tujuh belas, dan delapan belas.

Bagus! Dira juga menoleh ke arah gue. Bahagia menggerayangi gue seketika, dan seketika juga sirna begitu Dira bertanya pada gue lebih dulu. Gue mengalah, dan gue pun memasang raut wajah bertanya, 'nomor berapa?'. Dira, tanpa buang waktu lagi langsung menggerakan jari-jari tangan kanannya dan mengisyaratkan nomor enam belas. Gue menggeleng sambil senyum bete. Dira ikut tersenyum bete. Seketika raut wajah gue berganti menjadi 'gue juga mau nanya' dan akhirnya dia mengangkat dagunya singkat dengan gestur nomor-berapa?. Dengan isyarat yang sama jari-jari gue bergerak mengisyaratkan nomor tujuh belas. Dia melihat jawaban miliknya lalu menggeleng disertai senyum bete.

Lagi, jari Dira bergerak, namun kali ini mengisyaratkan nomor lima belas. Gue melirik ke kertas jawaban gue setelah memerhatikan gerakan jari-jarinya, lalu membuka telunjuk kiri gue. Dengan cara yang sama, gue bertanya lagi. Nomor delapan belas. Tapi tiba-tiba gue langsung merinding saat mendengar suara kewras itu.

"Ibu yakin kalian gak akan ada yang nyontek. Kalian semua pinter-pinter kan."

Mampus.

Gue menoleh ke Dira, memasang raut wajah kita-disindir-Dir. Dira juga menoleh ke arah gue, juga memasang raut wajah yang membalas raut wajah gue dengan arti iya-Ris. Dan tatap-tatapan kami diakhiri dengan senyum bete.

Dua menit setelahnya gue masih shock. Tapi empat menit berikutnya gue sudah berhasil mengisi enam jawaban berkat teori super ngaco gue yang ajaib.

Nomor 32. Tidak perlu melihat soal lagi. Langsung saja. Ada empat digit di masing-masing option. Digit pertama yang paling dominan itu angka satu, jadi option B dan D dieliminasi. Kemudian, digit paling terakhir yang paling dominan itu angka nol, dari yang tersisa tinggal option C dan A untuk dieliminasi. Akhirnya jawaban yang tersisa adalah E.

Lalu, karena tahu Dira tidak tahu soal integral, jadi percuma gue bertanya lagi. Gue pasrah. Nomor 16, B--karena 'benar'. Nomor 17, E--karena Kemang benar'. Nomor 18, A--karena 'amat benar'. Tiga nomor maut selesai.

Gue tidak kapok. Gue menoleh ke Dira, yang langsung menoleh begitu sadar gerakan gari gue. Tanpa buang-buanhg waktu, jari gue bergerak mengisyaratkan angka empat. Dira menjawab setelah melirik sekilas ke lembar jawabannya.

Selanjutnya, nasib dua nomor yang tersisa adalah mendapatkan masing-masing salah satu dari C dan B. Kenapa? Gue tidak tahu.

Bel berbunyi begitu gue selesai memasukan alat-alat tulis gue ke dalam tempatnya. Sebelum gue bangkit berdiri lalu berjalan dengan lembar jawaban di tangam, gue sempatkan untuk berdoa, mengucap hamdallah atas 'semua' yang telah dimudahkan. Gue perhatikan lagi lembar jawaban gue dengan bangga. Semuanya terisi dengan sempurna.

Namun, sebelumnya gue mengarahkan pandangan gue ke arag luar jendela tak bertirai. Lagit oranye muda dua jam yang lalu telah berubah menjadi langit biru. Bukan biru cemerlang. Ini Jakarta, di mana langit biru cemerlang hanyalah kalimat di cerita-cerita singkat pada buku pelajaran Bahasa Indonesia milik anak SD.

Gue berjalan menuju meja pengawas sambil membawa lembar jawaban, sementara di luar sana awan-awan bergerak dengan perlahan di langit biru. Beberapa burung masih hinggap di kabel listrik, memerhatikan ramainya jalan raya di bawah mereka.

Selama dua kali penuh bel melantunkan instrumen lagu soleram. Percakapan-percakapan lecil mulai terdengar dari hampir semua yang ada di kelas. Gue sudah kembali ke tempat duduk gue, tapi bel masih terus berdering. Bahkan ketika gue kembali ke depan kelas untuk mengambil tas sekolah gue yang diharuskan diletakan di sana selama ujian berlangsung. Pengawas kami keluar dari kelas dan bel berhenti seketika. Secara tidak langsung, kepergian pengwas kami dapat dikatakan gerakan penghenti bel.
Hai hai hai hai hai haiiiiiiii~

Apa kabar? Baik doong pasti yakan? Yakan? Yakan? Iya.

Oke.

Hem udah lama ya gue gak posting blog. Dan yah, tentu gue punya buanyaaak banget topik yang mau gue ceritain. Tapi, gue udah keburu sibuk sendiri sama pikiran gue jadi mungkin ada beberapa yang gak gue ceritain.

Hem mulai dari yang paling baru aja deh ya.
Begini, sekarang (saat gue nulis ini) tanggal 21 April. Tepat dua hari setelah pelaksanaan Ujian Nasional bagi Sekolah Menengah Atas. Gilaaaaaaaaaaa!!!!! Soalnya buset some' banget gak boong-_- Terus jadwalnya itu loh yang gue heran. Masa Bahasa Indonesia gak punya temen. Maksud gue, jadi dalam satu hari itu cuma ujian Bahasa Indonesia doang gitu, gak bareng yang lain. Sedangkan Kimia sama Biologi dajadiin satu hari. Gila kan-_-

Tapi alhamdulillah gue bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, ehem, yah 'baik' sama dengan 'semampu gue'. Dan alhamdulillah juga gue mengerjakan semua ujian dengan jujur. Tanpa nyontek. Tanpa bikin contekan sebelum ujian dimulai. Tanpa beli contekan apa pun. Tanpa menerima tawaran contekan gratis dari siapa pun. Yah oke, gue gak mau munafik, gue juga tergiur untuk pake contekan, tapi kata nyokap jangan. Jadi daripada gak berkah yakan? Akhirnya ya gue gak pake. Alhamdulillah.
Oh ya, oh ya. Di hari Selasa sama Kamis (hari di mana ujiannya dua mata ujian) kami dapet makan. Seneng hahaha. Iyalah. Makan itu nikmat. Jadi selagi ada makan yang makan aja itu makanan, gak usah mikirin takut gendut atau apa. Kan banyak orang yang gak punya kesempatan makan tiga kali sehari atau kayak gue yang makan hampir lima kali sehari. Nah! Jangan sia-siain.

Setelah ujian, di hari terakhir, hari di mana Tia ulang tahun. Cieeeee happu 17th!!! Di hari itu kita berencana mau kasih kejutan di rumahnya. Sebenernya sih diajak nyokapnya Tia. Makan gratis, siapa yang gak tergiur coba? Gak ada! Jadilah kita semua ke sana, minus Tara yang harus jagain adik sematawayangnya di rumah. Tapi tak apalah. Gak ada hal-hal konyol, cuma mau bikin dia kaget aja. Gak ada siram-siraman. Gak ada ceplokan telor. Gak ada repot-repotan.
Oke. Jadi, biar semua disiapin dulu sebelum dateng pasti gak boleh ada Tia dulu dong ya. Jadilah, Hani, Amrina, Dina bertugas buat ajak jalan-jalan si Tia dulu. Mereka ke Gramedia sebelum pulang. Sementara mereka di Gramedia, di rumah tia sibuk beresin semuanya. Gak semuanya ikut beres-beres. Cuma beberapa aja. Gue, Nisa, Pakel, Kiki-O, dan semua anak laki-laki diem di teras depan. Gue sama anak cewek yang tadi gue sebutin duduk-ketawa ngeliatin anak-anak cowok main-mainan-yang-gue-gak-tau-apa-namanya. Seru deh, si ketua semacam di-bully secara gak langsung gitu. Seruuuuu!!!

Selesai main-main, akhirnya kita semua masuk ke dalem rumah karena si empunya hari spesial mau dateng. Pas dateng kita semua langsung nyanyi lagu yang sewajarnya dinyanyiin. Suruh dia tiup lilin. Potong kue. Makan kue. Ketawa-ketawa. Makan bakso. Ketawa-ketawa. Eh eh sebelumnya kita ngomongin acara refreshing kita dulu deng, tapi gak dapet sebuah kesepakatan yang pasti.

Terus, besoknya, Hari Jumat. Adalah hari spesialnya adek gue yang imut dan bohai!!! Cieee happy 16th!!! Gak ada kejutan, karna rumahnya jauh. Jadi tuh gue kira mau ngerjain gitu kan tapi enggak. Padahal gue udah sengaja nge-read bbm dari dia tapi gak gue abaikan. Terus gue ketusin eh tetep aja gak ngefek. Orang juga tiap hari diketusin. Di hari itu, Pakel abis-abisan dibajaknya. Entah itu Display Name di bbm, Personal Message di bbm, tweet di twitter. Hahaha kacoooosss hahaha. Ampun yak kel--v. Di hari itu juga sebenernya dia gak mau dateng tapi gue paksa dateng. Adek yang baik nurut sama kakak yang galak~ Terus-terus di hari itu ada yang berantem! Yuri-Dina. Mereka begitu orangnya jadi gak salahlah. Cuma gara-gara punya ide buat video kelas aja. Gue beruntung gak ikut berantem karna takdir gue gak kreatif jadi gue gak punya ide, gak ikutan. Setelah akhirnya selesai dan pintu gerbang sekolah dibuka, kita semua pulang.

Sampe rumah kerjaan gue gak jelas. Gue cuma nonton Fast & Furious 5 sambil makan Fettucini. Terus makan nasi. Terus gue keluar nonton spongebob. Terus twiteran. Terus bbm-an. Terus nge-charge. Terus menghayal sampe ketiduran dan bangun sekitar jam delapan-an.

Besoknya, Hari Sabtu, hari ini. Hal-hal yang gue lakukan tetep gak jelas. Makan-tiduran doang. Gue berencana Hari Senin gue akan belajar buat snmptn. Tapi semoga gue lolos snmptn undangan deh. Amin!

Besok. Gue masih belom tau gue bakal ngapain. Mungkin nonton dvd atau makan terus.

Mungkin cukup dulu kali ya. Capek ngetik di hape. Kalo besok gue full service lagi mungkin gue bakal nge-blog lagi.

Oke. See ya!!