Lembar jawaban gue masih belum sepenuhnya terisi. Dan ada dua hal yang mungkin akan gue lakukan dan pasti membuahkan hasil demi terisinya lembar jawaban gue tercinta. Dua hal tersebut ialah, membuat teori ngaco dadakan yang sotoy abis atau bertanya pada teman. Setelah berpikir keras, akhirnya gue memilih untuk melakukan keduanya. Karena, jelas keduanya punya sensasi tersendiri.
Gue menoleh ke kanan--lebih tepatnya ke arah Dira--karena sebelah kiri gue itu dinding. Yang gue lihat Dira sangat sibuk mengerjakan soal-soal di hadapannya, tapi gue tidak pernah tahu apa sebenarnya yang dilakukan Dira. Gue beralih pada orang yang duduk di depan gue, Tio, yang juga lagi sibuk entah melakukan apa. Gue menoleh ke belakang gue dan harus mendapati dinding yang diam terpaku.
Oke. Kesimpulan yang gue peroleh: belum saatnya buat gue bertanya pada yang lain. Option yang akan gue pakai adalah membuat teori ngaco dadakan yang sotoy abis. Dua belas nomor hitungan dalam lima belas menit waktu yang tersisa. Tidak jadi masalah, bikin teori ngaco tidak butuh waktu yang lama.
Gue memandang sekeliling. Anak-anak yang lain sudah mulai terlihat gelisah di kursi masing-masing, dan menjadi panik seketika saat terdengar sebuah kalimat dari pengeras suara di kelas.
"Waktu mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi. Sekali lagi, waktu mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi." Suara itu keras sekali, terdengar makin keras dan jelas di tengah suasana hening ini.
Sekarang gue sudah betul-betul tidak peduli keadaan sekitar. Meskipun gue tahu mereka tengah sibuk berkutat dengan rasa pabik mereka masing-masing. Gue pun tahu mereka akan sibuk bertanya sana-sini, apa jawaban nomor ini-nomor itu. Bahkan gue tahu mereka akan dengan cepat kembali ke posisi normal sambil mengumpat tidak keruan begitu mata pengawas terjaga. Walaupun gue tahu semua itu, gue tidak peduli. Persetan dengan tawa gue yang mungkin gue keluarkan saat melihat semua kejadian tadi.
Betapa kontrasnya keadaan di dalam kelas dengan keadaan di luar sana. Burung-burung hinggap di kabel listrik sambil mungkin bercicit ria di luar sana. Gue sama sekali tidak peduli. Yang gue pedulikan, dan yang gue inginkan hanyalah lembar jawaban gue terisi dengan sempurna.
Gue merasakan gerakan-gerakan yang menunjukan bahwa pwngawas bangkit berdiri lalu berjalan keliling. Formalitas. Gue menghela napas dalam dan panjang, agar gue tidak kalap. Gue frustasi. Dengan ngeri dan jijik, gue tatap rupa soal-soal di depan gue lekat-lekat. Satu halaman itu betsih dari coret-coretan gue. Satu halaman itu soal-soal integral.
Gue merasakan ada sepasang mata yang tengah menatap gue, dan gue yakini itu adalah sepasang mata pengawas. Tanpa menghiraukannya gue coba membuat teori ngaco, otak gue langsung bekerja tanpa disuruh. Tapi, ternyata otak gue tidak mampu membuat teori untuk integral. Sedih. Gue makin frustasi. Gue pasrah. Gue bakalan tanya Dira! Jadi, gue menoleh ke Dira setelah gue melihat nomor-nomor yang akan gue tanyakan: enam belas, tujuh belas, dan delapan belas.
Bagus! Dira juga menoleh ke arah gue. Bahagia menggerayangi gue seketika, dan seketika juga sirna begitu Dira bertanya pada gue lebih dulu. Gue mengalah, dan gue pun memasang raut wajah bertanya, 'nomor berapa?'. Dira, tanpa buang waktu lagi langsung menggerakan jari-jari tangan kanannya dan mengisyaratkan nomor enam belas. Gue menggeleng sambil senyum bete. Dira ikut tersenyum bete. Seketika raut wajah gue berganti menjadi 'gue juga mau nanya' dan akhirnya dia mengangkat dagunya singkat dengan gestur nomor-berapa?. Dengan isyarat yang sama jari-jari gue bergerak mengisyaratkan nomor tujuh belas. Dia melihat jawaban miliknya lalu menggeleng disertai senyum bete.
Lagi, jari Dira bergerak, namun kali ini mengisyaratkan nomor lima belas. Gue melirik ke kertas jawaban gue setelah memerhatikan gerakan jari-jarinya, lalu membuka telunjuk kiri gue. Dengan cara yang sama, gue bertanya lagi. Nomor delapan belas. Tapi tiba-tiba gue langsung merinding saat mendengar suara kewras itu.
"Ibu yakin kalian gak akan ada yang nyontek. Kalian semua pinter-pinter kan."
Mampus.
Gue menoleh ke Dira, memasang raut wajah kita-disindir-Dir. Dira juga menoleh ke arah gue, juga memasang raut wajah yang membalas raut wajah gue dengan arti iya-Ris. Dan tatap-tatapan kami diakhiri dengan senyum bete.
Dua menit setelahnya gue masih shock. Tapi empat menit berikutnya gue sudah berhasil mengisi enam jawaban berkat teori super ngaco gue yang ajaib.
Nomor 32. Tidak perlu melihat soal lagi. Langsung saja. Ada empat digit di masing-masing option. Digit pertama yang paling dominan itu angka satu, jadi option B dan D dieliminasi. Kemudian, digit paling terakhir yang paling dominan itu angka nol, dari yang tersisa tinggal option C dan A untuk dieliminasi. Akhirnya jawaban yang tersisa adalah E.
Lalu, karena tahu Dira tidak tahu soal integral, jadi percuma gue bertanya lagi. Gue pasrah. Nomor 16, B--karena 'benar'. Nomor 17, E--karena Kemang benar'. Nomor 18, A--karena 'amat benar'. Tiga nomor maut selesai.
Gue tidak kapok. Gue menoleh ke Dira, yang langsung menoleh begitu sadar gerakan gari gue. Tanpa buang-buanhg waktu, jari gue bergerak mengisyaratkan angka empat. Dira menjawab setelah melirik sekilas ke lembar jawabannya.
Selanjutnya, nasib dua nomor yang tersisa adalah mendapatkan masing-masing salah satu dari C dan B. Kenapa? Gue tidak tahu.
Bel berbunyi begitu gue selesai memasukan alat-alat tulis gue ke dalam tempatnya. Sebelum gue bangkit berdiri lalu berjalan dengan lembar jawaban di tangam, gue sempatkan untuk berdoa, mengucap hamdallah atas 'semua' yang telah dimudahkan. Gue perhatikan lagi lembar jawaban gue dengan bangga. Semuanya terisi dengan sempurna.
Namun, sebelumnya gue mengarahkan pandangan gue ke arag luar jendela tak bertirai. Lagit oranye muda dua jam yang lalu telah berubah menjadi langit biru. Bukan biru cemerlang. Ini Jakarta, di mana langit biru cemerlang hanyalah kalimat di cerita-cerita singkat pada buku pelajaran Bahasa Indonesia milik anak SD.
Gue berjalan menuju meja pengawas sambil membawa lembar jawaban, sementara di luar sana awan-awan bergerak dengan perlahan di langit biru. Beberapa burung masih hinggap di kabel listrik, memerhatikan ramainya jalan raya di bawah mereka.
Selama dua kali penuh bel melantunkan instrumen lagu soleram. Percakapan-percakapan lecil mulai terdengar dari hampir semua yang ada di kelas. Gue sudah kembali ke tempat duduk gue, tapi bel masih terus berdering. Bahkan ketika gue kembali ke depan kelas untuk mengambil tas sekolah gue yang diharuskan diletakan di sana selama ujian berlangsung. Pengawas kami keluar dari kelas dan bel berhenti seketika. Secara tidak langsung, kepergian pengwas kami dapat dikatakan gerakan penghenti bel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar