Gue selesai baca Come On Over, barusan. Dan gue itu membuat gue untuk mulai bertekad untuk memulai lagi tulis-menulis gue yang sempat gue hentikan. Gue secara ragu berjanji dalam hati tanpa berpikir, gue nggak akan membuat ide-ide yang datang menjadi sia-sia dan malah masuk ke dalam gua kemalasan gue. Gue akan menulis lagi.
EITS!! Bukan berarti gue bakalan nulis tulisan dewasa juga ya. Bukan hanya karena novel yang bikin gue mau nulis lagi itu novel dewasa, lantas gue bakal ikutan nulis tulisan dewasa juga.
Yah gue juga bingung sih mau nulis apa nantinya. Ah masih nanti, tunggu ide aja haha.
Gue suka banget film action yang melibatkan pemeran ganteng berotot dan bertato, yang rambutnya nggak gondrong, yang matanya cool, yang sebisa mungkin bukan orang Asia. Gue suka film action yang melibatkan kejar-kejaran, entah di jalan raya pake mobil atau di atas gedung (lompat dari satu gedung ke gedung lain). Gue suka film action yang melibatkan senjata-senjata cool, dan bukan bacok-bacokan yang ada kepala putus atau usus keluar-keluar. Gue suka film action yang melibatkan agen mata-mata.
Nah bicara soal agen mata-mata, gue pernah nulis tentang itu. Tapi belum selesai. Rencananya dulu gue bakalan bikin itu jadi ada seri-serinya gitu, tapi saat itu gue kedistract sama... apa ya? Lupa.
Duh dipanggil Mama gue. Bentar ya, cabs dulu.
Balik lagiiiiii, setelah disuruh rebus gula sama air buat cincau, one of my Dad's favourite.
Oke.
Saat itu gue menyelesaikan tulisan gue itu nggak sampai 24 jam. Tapi menghabiskan waktu abis solat isya sampe jam 6 pagi. Setelah itu gue nggak boleh buat tidur pagi lagi, jadinya gue jadi males.
NAH! ITU DIA! Bukan kedistract sesuatu, tapi karna merasa nggak dikasih waktu yang tepat. Sesungguhnya gue itu best friend forever banget sama dini hari, Tapi yaudahlah, hubungan kami nggak direstui, jadi kami berpisah. Double hiks :"
Just because gue jadi sering tidur cepet, gue berhenti nulis waktu itu. Nggak. Tapi tulisan gue jadi aneh, sok-sok berfrasa dan sok-sok dark gitu. Anjir gue aja jijik bacanya haha. Dina bahkan sempet jadi orang yang maksa gue buat nulis lagi, tapi abis itu gue males lagi, dan berhenti sampai sekarang. Gue jadi lebih sering baca novel aja, nonton film aja, atau gangguin Deddy di sms, whatsapp, line, twitter, fb messanger, dan telepon-telepon mengganggu. Hahaha. He changed me, my whole life. In a good way.
YAK! GUE AKAN KEMBALI. TSAAAAAAH!!!!
Rabu, 09 Juli 2014
Please, Don't Judge Me Anything.
Gue mau cerita nih. Sekarang-sekarang ini gue lagi suka banget baca novel-novelnya Christian Simamora yang seri J-Boyfriend. Alasan-alasan yang wajar dari gue itu karena tulisannya itu bagus, menurut gue ya. Yah novel-novelnya dewasa sih, tapi gue juga udah gede kan? Yaudahlah haha. Terus, karena ini novel-novel dewasa gue jadi ngerasa pengen banget cepet-cepet kerja. Gue nulis ini sambil cerita ke Dina juga. Kampretnya dia malah ngira gue kepengen dapet adegan dewasanya. Kampret banget. Padahal sama sekali enggak. Serius.
Dulu bacaan gue nggak lebih dari novel adaptasi film, terus berlanjut baca teenlit. Terus karena temenan sama Ines, gue jadi terus baca terus terus terus. Setelah baca teenlit, gue mulai baca-baca ke romance novel yang agak lebih banget dari teenlit. Duh sebagai penikmat novel gue belum ngerti soal gitu gituan, gue nggak tau namanya apa. Duh gagal banget. Biarin.
Gue sekarang udah kuliah, dan gue sekelas sekaligus berteman dengan Heru si penikmat film dan sekarang menjadi pemasok film buat gue. Dulu, waktu SMP gue sama Ines sering ke bioskop buat nonton film. Pengeluaran gue untuk film saat SMP dan kuliah sekarang sangat SANGAT sangat berbeda jauuuuuuh. Mana gue nontonnya di Puri, SELALU. Dulu uang jajan gue nggak sebanyak waktu gue kuliah padahal. Pasti gue jago banget nabung nih dulu... atau jago nggak makan demi nonton? Ah lupa. Hahaha. Terakhir aja waktu gue sama Ines nonton The Fault In Our Stars harga tiket hari Senin Rp40.000. Dulu berapa ya... lupa (padahal masih nyimpen tiket bioskop jaman dulu).
Novel pertama Christian Simamora yang gue baca adalah Pillow Talk. Ines sempet bilang kalo itu novel dewasa, tapi bagus. Dan jujur gue mengiyakan. Setelah itu gue beli All You Can Eat, soalnya heboh banget di timeline twitter gue dan Dewanti juga ternyata suka dia. Irma juga. Ah gue nggak sendirianlah~ Setelah itu gue dipinjemin Good Fight di rental yang suka didatengin Dewanti. Buset itu Good Fight haha. Setelah Good Fight gue beli Guilty Pleasure, dan nggak lama berselang gue beli Come On Over. Gila! Produktif banget ya dese~ Gue sebagai penikmat novel pasti punya keinginan buat bikin novel, dan setelah baca behind the scene GePe sama CO2 yang cuma diselesaikan sekitar 3 bulan gue jadi gila sendiri. Gue bukan apa-apa. Sekarang pun gue nggak nulis-nulis lagi. Hiks.
Cukup itu aja kali ini.
Intinya gue suka baca novelnya Christian Simamora yang seri J-Boyfriend bukan karena itu novel dewasa. Please don't judge me anything. Lagian gue udah nyobain semuanya kok. Dan terlepas dari kata dewasa di sampul belakang novel-novelnya, novelnya beneran bagus. Keren.
Okay, that's it.
Dulu bacaan gue nggak lebih dari novel adaptasi film, terus berlanjut baca teenlit. Terus karena temenan sama Ines, gue jadi terus baca terus terus terus. Setelah baca teenlit, gue mulai baca-baca ke romance novel yang agak lebih banget dari teenlit. Duh sebagai penikmat novel gue belum ngerti soal gitu gituan, gue nggak tau namanya apa. Duh gagal banget. Biarin.
Gue sekarang udah kuliah, dan gue sekelas sekaligus berteman dengan Heru si penikmat film dan sekarang menjadi pemasok film buat gue. Dulu, waktu SMP gue sama Ines sering ke bioskop buat nonton film. Pengeluaran gue untuk film saat SMP dan kuliah sekarang sangat SANGAT sangat berbeda jauuuuuuh. Mana gue nontonnya di Puri, SELALU. Dulu uang jajan gue nggak sebanyak waktu gue kuliah padahal. Pasti gue jago banget nabung nih dulu... atau jago nggak makan demi nonton? Ah lupa. Hahaha. Terakhir aja waktu gue sama Ines nonton The Fault In Our Stars harga tiket hari Senin Rp40.000. Dulu berapa ya... lupa (padahal masih nyimpen tiket bioskop jaman dulu).
Novel pertama Christian Simamora yang gue baca adalah Pillow Talk. Ines sempet bilang kalo itu novel dewasa, tapi bagus. Dan jujur gue mengiyakan. Setelah itu gue beli All You Can Eat, soalnya heboh banget di timeline twitter gue dan Dewanti juga ternyata suka dia. Irma juga. Ah gue nggak sendirianlah~ Setelah itu gue dipinjemin Good Fight di rental yang suka didatengin Dewanti. Buset itu Good Fight haha. Setelah Good Fight gue beli Guilty Pleasure, dan nggak lama berselang gue beli Come On Over. Gila! Produktif banget ya dese~ Gue sebagai penikmat novel pasti punya keinginan buat bikin novel, dan setelah baca behind the scene GePe sama CO2 yang cuma diselesaikan sekitar 3 bulan gue jadi gila sendiri. Gue bukan apa-apa. Sekarang pun gue nggak nulis-nulis lagi. Hiks.
Cukup itu aja kali ini.
Intinya gue suka baca novelnya Christian Simamora yang seri J-Boyfriend bukan karena itu novel dewasa. Please don't judge me anything. Lagian gue udah nyobain semuanya kok. Dan terlepas dari kata dewasa di sampul belakang novel-novelnya, novelnya beneran bagus. Keren.
Okay, that's it.
Kamis, 03 Juli 2014
Gembul
I think I finally find someone. That one. That gembul one.
Dia indah, melepas gundah~
Sebenernya sih gue takut. Gue dulu pernah bilang begitu. Di masa lalu gue pernah merasa kalau gue akhirnya menemukannya. Tapi, kemudian gue kaget karena nggak begitu lama waktu berselang setelah gue merasakan hal tersebut gue diserang sebuah kenyataan yang sampai sekitar dua tahun lebih yang lalu gue beri nama 'Akhirnya Gue Menemukan... Siapa Ya?'.
Yah, seharusnya gue nggak perlu merasa kaget, karena di masa lalu itu pun semua dimulai dengan sebuah momen yang nggak greget dan singkat banget. Meskipun masih lebih singkat janji sebuah produk pembasmi nyamuk semprot satu detik itu dibanding momen di masa lalu itu. Kami--ya, kami. Akhirnya gue terpaksa menulis begitu--bahkan saat itu belum pernah bertemu hampir sekitar tiga tahun. Saat kata 'US' tercipta oleh kesepakatan dari kami, baru sekitar dua minggu kemudian kami bertemu kembali setelah tiga tahun tidak bertemu bahkan berkomunikasi. Saat itu pun gue memang nggak menjanjikan apa pun ke hati gue, sampai saat itu datang. Yah, saat di mana kebiasaan memanggil 'kamu' dan bukan 'elo' memaksa gue untuk takut kehilangan. Ya, gue pernah merasa takut kehilangan. Pernah. Dan gue juga nggak pernah berniat untuk menganggap perasaan itu adalah hal yang biasa. Biarkan aja begitu.
Dan, di sanalah kami saat keputusan sepihak itu mengakhiri semuanya. Di sanalah gue saat hati gue memutuskan untuk pergi. Sangat jelas dia tidak menerimanya, tapi terlambat. Sudah gue putuskan gue akan pergi. Keputusan yang gue buat untuk yang kedua kalinya, dan tidak akan pernah ada yang ketiga. Hati gue pun menuntut kebenaran atas keputusan gue. Yang sekarang hati gue puas. Sepertinya.
Air mata terus mengalir, membawa semua momen-momen yang terekam bersamanya, sampai tetes terakhir yang nggak jadi gue teteskan. Tetes yang membawa satu ketakutan itu. Gue nggak ngerti.
Gue kembali berkelana. Gue kembali berlayar. Gue kembali mendaki. Gue kembali memanjat. Sampai akhirnya gue jatuh.
Padanya, gue jatuh.
Jatuh terlalu dalam. Ke suatu tempat yang tak memiliki tangga, tali, atau akar-akar yang merambat untuk dipanjat. Tidak ada. Dan gue pun nggak pernah berencana untuk kembali ke atas. Di sini terlalu menyenangkan. Di sisinya terlalu menenangkan. Gue kembali mengambil keputusan. Sebuah keputusan untuk tinggal di sana untuk selamanya. Karena akhirnya gue menemukannya.
Gue terpaksa teringat pada ketakutan gue yang 'itu'. Ketakutan untuk kehilangan tempat tinggal gue yang baru ini lebih besar dari yang 'itu'. Sangat besar. Sangat besar sampai gue buta. Gue yang seharusnya percaya, dan membiarkannya hidup dalam hidupnya, malah membuatnya merasa terkurung oleh tangisan-tangisan berkarat. Semua ketakutan membutakan gue akan semua yang logis.
Pikiran normal yang gue miliki adalah pikiran egois yang nggak berani ambil resiko. Gue terlalu takut akan apa pun yang terjadi di masa depan. Gue takut gue akan kembali bertanya 'Siapa?'. Bodoh, kan? Pengecut, gue tahu.
Dua kali gue hampir kehilangan lagi. Dua kali dan belum sanggup membuat gue jera. Tapi ada satu saat di mana gue mulai berani ambil resiko itu. Pelan-pelan. Sedikit-sedikit, sampai-sampai nggak kentara. Tapi gue yakin gue udah memulainya. Kemudian ketakutan lain mulai menjamah pikiran gue. Sebuah ketakutan di mana gue nggak peduli akan dia.
Galau.
Sampai kapan pun gue nggak akan pernah ngerti. Ini rumit bagi gue. Gue nggak bisa apa-apa, jadi gue biarkan begitu.
Dia indah, melepas gundah~
Sebenernya sih gue takut. Gue dulu pernah bilang begitu. Di masa lalu gue pernah merasa kalau gue akhirnya menemukannya. Tapi, kemudian gue kaget karena nggak begitu lama waktu berselang setelah gue merasakan hal tersebut gue diserang sebuah kenyataan yang sampai sekitar dua tahun lebih yang lalu gue beri nama 'Akhirnya Gue Menemukan... Siapa Ya?'.
Yah, seharusnya gue nggak perlu merasa kaget, karena di masa lalu itu pun semua dimulai dengan sebuah momen yang nggak greget dan singkat banget. Meskipun masih lebih singkat janji sebuah produk pembasmi nyamuk semprot satu detik itu dibanding momen di masa lalu itu. Kami--ya, kami. Akhirnya gue terpaksa menulis begitu--bahkan saat itu belum pernah bertemu hampir sekitar tiga tahun. Saat kata 'US' tercipta oleh kesepakatan dari kami, baru sekitar dua minggu kemudian kami bertemu kembali setelah tiga tahun tidak bertemu bahkan berkomunikasi. Saat itu pun gue memang nggak menjanjikan apa pun ke hati gue, sampai saat itu datang. Yah, saat di mana kebiasaan memanggil 'kamu' dan bukan 'elo' memaksa gue untuk takut kehilangan. Ya, gue pernah merasa takut kehilangan. Pernah. Dan gue juga nggak pernah berniat untuk menganggap perasaan itu adalah hal yang biasa. Biarkan aja begitu.
Dan, di sanalah kami saat keputusan sepihak itu mengakhiri semuanya. Di sanalah gue saat hati gue memutuskan untuk pergi. Sangat jelas dia tidak menerimanya, tapi terlambat. Sudah gue putuskan gue akan pergi. Keputusan yang gue buat untuk yang kedua kalinya, dan tidak akan pernah ada yang ketiga. Hati gue pun menuntut kebenaran atas keputusan gue. Yang sekarang hati gue puas. Sepertinya.
Air mata terus mengalir, membawa semua momen-momen yang terekam bersamanya, sampai tetes terakhir yang nggak jadi gue teteskan. Tetes yang membawa satu ketakutan itu. Gue nggak ngerti.
Gue kembali berkelana. Gue kembali berlayar. Gue kembali mendaki. Gue kembali memanjat. Sampai akhirnya gue jatuh.
Padanya, gue jatuh.
Jatuh terlalu dalam. Ke suatu tempat yang tak memiliki tangga, tali, atau akar-akar yang merambat untuk dipanjat. Tidak ada. Dan gue pun nggak pernah berencana untuk kembali ke atas. Di sini terlalu menyenangkan. Di sisinya terlalu menenangkan. Gue kembali mengambil keputusan. Sebuah keputusan untuk tinggal di sana untuk selamanya. Karena akhirnya gue menemukannya.
Gue terpaksa teringat pada ketakutan gue yang 'itu'. Ketakutan untuk kehilangan tempat tinggal gue yang baru ini lebih besar dari yang 'itu'. Sangat besar. Sangat besar sampai gue buta. Gue yang seharusnya percaya, dan membiarkannya hidup dalam hidupnya, malah membuatnya merasa terkurung oleh tangisan-tangisan berkarat. Semua ketakutan membutakan gue akan semua yang logis.
Pikiran normal yang gue miliki adalah pikiran egois yang nggak berani ambil resiko. Gue terlalu takut akan apa pun yang terjadi di masa depan. Gue takut gue akan kembali bertanya 'Siapa?'. Bodoh, kan? Pengecut, gue tahu.
Dua kali gue hampir kehilangan lagi. Dua kali dan belum sanggup membuat gue jera. Tapi ada satu saat di mana gue mulai berani ambil resiko itu. Pelan-pelan. Sedikit-sedikit, sampai-sampai nggak kentara. Tapi gue yakin gue udah memulainya. Kemudian ketakutan lain mulai menjamah pikiran gue. Sebuah ketakutan di mana gue nggak peduli akan dia.
Galau.
Sampai kapan pun gue nggak akan pernah ngerti. Ini rumit bagi gue. Gue nggak bisa apa-apa, jadi gue biarkan begitu.
"Aku minta maaf karena aku meminta terlalu banyak dan terus memaksa kamu melakukan semua hal yang aku mau. Aku minta maaf karena tanpa sadar aku memaksa kamu untuk berubah menjadi bukan kamu. Aku minta maaf atas banyak hal, semuanya. Aku minta maaf.
"Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan dan mengabulkan permintaanku yang aneh-aneh. Terima kasih kamu mengerti aku. Terima kasih atas banyak hal, semuanya. Terima kasih kamu mau kembali untuk yang kedua kali. Terima kasih banyak atas semua kata sayang yang telah kamu ucapkan dan yang akan kamu ucapkan (hehe :D)
"Aku berharap kamu selalu di sini, selamanya. Aku harap kamu biarkan aku tinggal, selamanya. Aku harap aku boleh terus memanggil nama kamu dan kamu berbalik memanggil namaku, selamanya.
"Bagiku cuma kamu, Sayang (Gembul :D)."
Langganan:
Komentar (Atom)