Dia indah, melepas gundah~
Sebenernya sih gue takut. Gue dulu pernah bilang begitu. Di masa lalu gue pernah merasa kalau gue akhirnya menemukannya. Tapi, kemudian gue kaget karena nggak begitu lama waktu berselang setelah gue merasakan hal tersebut gue diserang sebuah kenyataan yang sampai sekitar dua tahun lebih yang lalu gue beri nama 'Akhirnya Gue Menemukan... Siapa Ya?'.
Yah, seharusnya gue nggak perlu merasa kaget, karena di masa lalu itu pun semua dimulai dengan sebuah momen yang nggak greget dan singkat banget. Meskipun masih lebih singkat janji sebuah produk pembasmi nyamuk semprot satu detik itu dibanding momen di masa lalu itu. Kami--ya, kami. Akhirnya gue terpaksa menulis begitu--bahkan saat itu belum pernah bertemu hampir sekitar tiga tahun. Saat kata 'US' tercipta oleh kesepakatan dari kami, baru sekitar dua minggu kemudian kami bertemu kembali setelah tiga tahun tidak bertemu bahkan berkomunikasi. Saat itu pun gue memang nggak menjanjikan apa pun ke hati gue, sampai saat itu datang. Yah, saat di mana kebiasaan memanggil 'kamu' dan bukan 'elo' memaksa gue untuk takut kehilangan. Ya, gue pernah merasa takut kehilangan. Pernah. Dan gue juga nggak pernah berniat untuk menganggap perasaan itu adalah hal yang biasa. Biarkan aja begitu.
Dan, di sanalah kami saat keputusan sepihak itu mengakhiri semuanya. Di sanalah gue saat hati gue memutuskan untuk pergi. Sangat jelas dia tidak menerimanya, tapi terlambat. Sudah gue putuskan gue akan pergi. Keputusan yang gue buat untuk yang kedua kalinya, dan tidak akan pernah ada yang ketiga. Hati gue pun menuntut kebenaran atas keputusan gue. Yang sekarang hati gue puas. Sepertinya.
Air mata terus mengalir, membawa semua momen-momen yang terekam bersamanya, sampai tetes terakhir yang nggak jadi gue teteskan. Tetes yang membawa satu ketakutan itu. Gue nggak ngerti.
Gue kembali berkelana. Gue kembali berlayar. Gue kembali mendaki. Gue kembali memanjat. Sampai akhirnya gue jatuh.
Padanya, gue jatuh.
Jatuh terlalu dalam. Ke suatu tempat yang tak memiliki tangga, tali, atau akar-akar yang merambat untuk dipanjat. Tidak ada. Dan gue pun nggak pernah berencana untuk kembali ke atas. Di sini terlalu menyenangkan. Di sisinya terlalu menenangkan. Gue kembali mengambil keputusan. Sebuah keputusan untuk tinggal di sana untuk selamanya. Karena akhirnya gue menemukannya.
Gue terpaksa teringat pada ketakutan gue yang 'itu'. Ketakutan untuk kehilangan tempat tinggal gue yang baru ini lebih besar dari yang 'itu'. Sangat besar. Sangat besar sampai gue buta. Gue yang seharusnya percaya, dan membiarkannya hidup dalam hidupnya, malah membuatnya merasa terkurung oleh tangisan-tangisan berkarat. Semua ketakutan membutakan gue akan semua yang logis.
Pikiran normal yang gue miliki adalah pikiran egois yang nggak berani ambil resiko. Gue terlalu takut akan apa pun yang terjadi di masa depan. Gue takut gue akan kembali bertanya 'Siapa?'. Bodoh, kan? Pengecut, gue tahu.
Dua kali gue hampir kehilangan lagi. Dua kali dan belum sanggup membuat gue jera. Tapi ada satu saat di mana gue mulai berani ambil resiko itu. Pelan-pelan. Sedikit-sedikit, sampai-sampai nggak kentara. Tapi gue yakin gue udah memulainya. Kemudian ketakutan lain mulai menjamah pikiran gue. Sebuah ketakutan di mana gue nggak peduli akan dia.
Galau.
Sampai kapan pun gue nggak akan pernah ngerti. Ini rumit bagi gue. Gue nggak bisa apa-apa, jadi gue biarkan begitu.
"Aku minta maaf karena aku meminta terlalu banyak dan terus memaksa kamu melakukan semua hal yang aku mau. Aku minta maaf karena tanpa sadar aku memaksa kamu untuk berubah menjadi bukan kamu. Aku minta maaf atas banyak hal, semuanya. Aku minta maaf.
"Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan dan mengabulkan permintaanku yang aneh-aneh. Terima kasih kamu mengerti aku. Terima kasih atas banyak hal, semuanya. Terima kasih kamu mau kembali untuk yang kedua kali. Terima kasih banyak atas semua kata sayang yang telah kamu ucapkan dan yang akan kamu ucapkan (hehe :D)
"Aku berharap kamu selalu di sini, selamanya. Aku harap kamu biarkan aku tinggal, selamanya. Aku harap aku boleh terus memanggil nama kamu dan kamu berbalik memanggil namaku, selamanya.
"Bagiku cuma kamu, Sayang (Gembul :D)."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar