Sabtu, 17 November 2018

Aku Di Sini



Aku mengembuskan parasmu dengan bisikan rindu
Entah mengapa, sosokmu begitu nyata saat malam kelabu
Atau malah malam menjadi kelabu akibat mengingatmu?
Dan ya, aku bicara tentang malamku

Kau tahu, kukira akan lebih mudah jika kau di sana
Kukira jika kau di sana aku tidak akan merana
Kukira jika kau di sana air mata ini tidak akan semena-mena
Dan kukira jika kau di sana, banyanganmu akan sirna

Di sini, aku merana
Di sini, aku tak sanggup menahan tangis yang semena-mena
Di sini, dirimu masih utuh berwarna
Di sini, seluruh dirimu masih tergambar dengan sempurna

Entah, apakah aku akan pergi
Separuh diriku tak ingin merana lagi
Separuh diriku ingin tinggal di sini meski dirimu adalah mimpi
Seluruh diriku tidak tahu, apakah aku akan mencinta lagi

Selasa, 01 Mei 2018

Rindu



Aku menuliskan namamu dengan rindu
Sejak hari Senin hingga sekarang hari Minggu
Sejak langit silau hingga langit kelabu
Tak pernah habis rinduku

Aku membisikkan namamu ketika malam
Kamu tidak dengar, mimpi indahmu membuat suaraku teredam
Berbisik sendiri, sampai langit buat aku tenggelam
Tak menghentikanku, kini aku berbisik dalam diam

Padamu aku mengucapkan selamat pagi
Kamu tidak membalas, burung-burung terlanjur menghalangi
Tak kuulangi, sampai kurasa burung-burung sudah terbang tinggi
Lama sekali, sampai matahari hampir pergi

Kutanyakan kabarmu melalui senja
Angin dengan lirih mengembuskan jawaban, bahagia
Aku lega, tapi kuharap kamu juga merindu, sekali saja
Iya, aku gila

Di sini, aku merindu sendirian
Berbekal memori, kujahitkan kehangatan
Bukan damai yang kudapat, malah menciptakan sejuta khayalan;
Menghangatkan abu-abu pada kenangan

Kuseduh kopi, lalu kutitipkan salam bertanda tanya melalui kepulnya padamu
Tahukah kamu, di sini aku merindu?