Jumat, 12 Oktober 2012

Tanggal Dua Puluh Sembilan

Ini salah satu cerpen buatanku dari beberapa cerpen yang lainnya, satu yang berhasil keselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam, bahkan 12 jam. Aku menyadari cerpen ini masih jauh dari sempurna, jadi aku butuh saran dari kalian. Selamat membaca :) . Tanggal 29 Sekarang tanggal 29 Agustus 2011. Aku duduk di sini, di sebuah kursi di sebuah kedai kopi yang baru saja resmi dibuka pada tanggal 29 enam bulan yang lalu. Jari telunjukku memainkan gagang cangkir berisi kopi yang berwarna hitam pekat. Kopinya sudah tidak begitu panas seperti saat diantarkan tadi sekitar satu jam yang lalu. Dan isinya pun sudah habis setengahnya. Kedua mataku tak henti-hentinya melihat jam tangaku dan sesekali mengamati jalanan di luar kedai. Mataku juga akan refleks beralih ke arah pintu masuk yang terbuka, dan akan menunduk lemah setelahnya. Beralih ke kopiku yang kini sudah benar-benar dingin, melihat betapa hitamnya kopiku. Aku menghela napas panjang lalu mengedarkan pendanganku ke seluruh penjuru ruangan. Semua pengunjung rata-rata berkelompok, atau paling tidak berpasangan. Entah mereka melakukan reuni dengan teman-teman lama, mengerjakan tugas sekolah atau kampus, mengobrol dengan pasangan, atau bahkan hanya untuk menghilangkan penat sepulang kerja. Memang suasana di kedai ini sangat nyaman. Dinding yang tanpa repot-repot diperhalus dan dicat, memperlihatkan batu batu-batu bata yang tersusun rapi lengkap dengan semen sebagai bahan perekatnya. Ditambah dengan beberapa hiasan dinding seperti lukisan abstrak juga beberapa gambar-gambar cangkir berisi kopi sebagai contoh menu yang disediakan di kedai ini. Beberapa kipas berukuran cukup besar berwarna cokelat terlihat berputar dengan kecepatan yang sedang tergantung di langit-langit. Dan semua ini dilatarbelakangi oleh suara-suara obrolan, canda tawa, ketikan pada keyboard laptop, ketukan-ketukan yang dihasilkan oleh sepatu dan lantai, atau benturan pelan antara cangkir dangan piring kecil yang digunakan sebagai tatakan cangkir. Tidak lupa aroma berbagai jenis kopi yang memenuhi indera penciuman. Terlihat beberapa pelayan berlalu-lalang sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat lebih dari satu cangkir berisi kopi pesanan pengunjung. Aku kembali mengecek jam tanganku dan mendapati bahwa sudah satu jam lebih aku menunggu di sini. Cukup lama aku kembali diam setelahnya. Sudah pukul sembilan malam sekarang. Kedai ini sudah mulai sepi. Hanya ada dua pasang pengunjung yang masih tinggal ditambah aku sendiri. Beberapa pelayan juga sudah mulai membersihkan meja-meja dan merapikan bangku-bangku yang tidak tersusun rapi setelah ditinggalkan pengunjung. Terdengar suara pintu masuk terbuka, membuatku refleks mengarahkan pandanganku sepenuhnya ke pintu masuk. Dan seperti sebelum-sebelumnya aku kembali tertunduk begitu tahu hanya sepasang pengunjung yang keluar dari kedai. Sekarang hanya tinggal sepasang pengunjung lagi dan aku sendiri. Masih tertunduk, aku menyadari adanya gerakan-gerakan tepat di sebelah kiriku. Aku yakin itu adalah sepasang pengunjung lain yang juga ingin pulang, meninggalkan kedai. Tinggal aku sendiri di sini. Beberapa lampu sudah mulai dimatikan. Beberapa pelayan juga sudah ada yang ingin pulang. Sedangkan aku, hanya duduk di sini tanpa bergeming sedikit pun. Kopiku masih belum berkurang sedikit pun sejak aku terakhir meminumnya setengah jam yang lalu. "Maaf aku terlambat. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Sebuah kalimat itu sukses membuatku mengangkat kepala dan mendapati seorang laki-laki sudah duduk di kursi di hadapanku. Wajahnya tampak khawatir. Aku tersenyum lembut untuk membuatnya lebih tenang. Dan raut wajah khawatirnya menghilang, digantikan ulasan senyum sebagai balasannya. "Aku minta maaf," katanya lagi. Aku hanya mengangguk dan senyumnya makin terkembang. Aku sedikit tersentak saat tangannya tiba-tiba menyentuh tanganku lalu menggenggamnya. Aku menatapnya yang sudah menatapku lebih dulu. Hening. Tidak ada yang berkata sampai akhirnya dia bicara lebih dulu. "Selamat tanggal 29, sayang. Terima kasih telah mengizinkanku untuk menyayangimu dan memilikimu selama setahun ini. Terima kasih telah membuat hari-hari suramku hilang. Terima kasih telah membuatku melupakan rasa sakit yang sesekali kurasakan. Terima kasih untuk satu tahun yang membuatku sangat bahagia bisa memilikimu." Seketika kenangan demi kenangan bersamanya mulai bermunculan di benakku, dan kudapati air mataku menetes di pipiku. Tangannya yang lain, yang tidak menggenggam tanganku, bergerak ke arah pipiku untuk menyeka air mataku. Aku kembali tersentak saat tangannya menyentuh kulitku. Tapi aku tersenyum. Kupejamkan kedua mataku, menikmati tangannya yang mengusap lembut pipiku. "Terima kasih," katanya lagi. Dan aku pun membalas, "Terima kasih." Senyumku terus terkembang tapi pelupuk mataku kembali tergenang air. Saat menetes di pipiku, tangannya langsung menyeka air mataku, lagi. "Aku tidak mau melihatmu menangis. Pokoknya ini terakhir kalinya aku melihatmu menangis, oke?" ujarnya. Aku mengangguk yang membuatnya melebarkan senyumannya. Kami terus bertatapan tanpa perlu repot-repot berkata sepatah kata pun. keheningan ini menenangkan kami. Kami menikmatinya. Tapi kemudian di bangkit berdiri, dan otomatis genggamannya terlepas. Aku terkejut. Aku menatapnya, masih terduduk di tempatku. Melihatnya menggerakan bibirnya mengucapkan beberapa kalimat. "Sekali lagi, selamat tanggal 29. Aku sayang kamu." Dia menunduk sebentar lalu menatapku lagi dan melanjutkan, "aku harus pergi sekarang." Dan dia pergi meninggalkanku sendiri, bersama kopi dingin di hadapanku. Aku bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Aku masih menatap pintu masuk kedai bahkan lama setelah dirinya menghilang dari situ. Secuil harapan bahwa dia akan kembali ke pintu itu, membukanya lalu berjalan menghampiriku sambil tersenyum. Tapi, setelah hampir sepuluh menit, kurasa, dia tidak juga kembali. "Maaf. Kami sudah mau tutup," kata seorang pelayan pria yang membuat pandanganku beralih menatapnya. Dia tersenyum. Aku pun membalas tersenyum dan membalas ucapannya tadi, "Oh, ya. Saya juga ingin pulang." Pelayan itu hanya mengangguk sambil terus tersenyum lalu pergi membersihkan meja yang berjarak tiga meja di sebelahku, tempat pengunjung terakhir tadi. Aku mengambil tas yang sejak kedatanganku di sini tergeletak di kursi di sebelahku dan memosisikannya di bahu kananku. Belum sampai lima langkah aku meninggalkan kursiku, kudengar ponselku berbunyi. Jadi, aku berhenti sebentar untuk mengambil ponsel dari dalam tasku. Ternyata Davi yang meneleponku. Sesaat sebelum menerima panggilannya, terlintas sebuah pemikiran yang buruk yang membuatku khawatir dan sekujur tubuhku terasa dingin yang tidak wajar. Ada apa ini? Kutekan tombol dial di ponselku lalu mendekatkan ponselku ke telingaku dan langsung mendengar suara Davi yang terdengar sangat panik. Aku pun ikut panik. Kenapa? "Reza koma dan sekarang kondisinya sangat kritis. Bisa ke Rumah Sakit dekat rumah Tante Soraya sekarang?" Deg. Aku menahan napas seketika setelah mendengarnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk dapat mencerna informasi apa yang baru saja kuterima. Tubuhku kaku. Aku sangat terkejut. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku dan langsung menetes membasahi kedua pipiku. Pandanganku kabur, mengarah ke pintu masuk. Aku masih bisa merasakan dia di sana, dan menghilang di sana. Kurasakan tubuhku lemas. Tanganku jatuh di samping tubuhku, masih menggenggam ponselku dan kurasakan Davi masih memanggil-manggil namaku dari ujung sana. Aku yang diam mendapat perhatian dari pelayan pria yang tadi menghampiriku. Aku tak begitu mendengarkan apa yang diucapkannya padaku, tapi aku menjawab dengan sebuah kalimat yang cukup membuatnya tidak berkata lagi selain kalimat "Selamat malam... Hati-hati." Itu yang kudengar sebelum pintu masuk tertutup begitu aku keluar dari kedai. Angin malam berhembus, membuat leherku yang terbuka ikut tersentuh angin malam. Dingin, tapi rasa dingin yang terus menjalar di seluruh tubuhku tidak mendapat perhatian dariku sama sekali. . Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat, dengan kata lain berlari. Aku menyusuri koridor dengan perasaan panik yang menggerayangiku, sama sekali tidak mengacuhkan pandangan kesal dari beberapa orang yang kutemui di koridor. Aku tidak peduli dengan mereka yang merasa terganggu denganku. Selain rasa panik, rasa takut juga ikut menguasai tubuhku. Jadi aku tidak mau repot-repot memedulikan orang-orang itu. Peluh mulai membanjiri sekujur tubuhku meskipun aku merasakan bahwa tubuhku dingin. Tidak peduli. Aku takut. Aku takut. Begitu aku berhasil sampai di depan sebuah pintu, aku langsung menerobos masuk ke dalam. Dan mendapati tiga orang terkejut dengan kedatanganku yang tidak permisi. Aku tidak peduli. Kedua mataku langsung menangkap sosok laki-laki yang sedang terbaring tak berdaya di sebuah ranjang. Berbagai selang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Tidak ada gerakan sama sekali kecuali dadanya yang naik-turun. Hanya gerakan itu dan sebuah alat pendeteksi jantung yang mampu memberitahu bahwa laki-laki itu masih hidup. Laki-laki yang sama dengan laki-laki yang baru saja kutemui di kedai. Laki-laki yang berkali-kali mengucapkan terima kasih. Laki-laki yang tadi menggenggam tanganku dan menyeka air mataku. Laki-laki yang... menyayangiku. Aku melangkah mendekati laki-laki yang terbaring itu. Menatap wajahnya lekat-lekat. Menggenggam tangan kirinya, namun kali ini aku tidak tersentak begitu menyentuh kulitnya... yang dingin, sama seperti tadi. Air mataku kembali mengalir deras. Aku masih terus memandanginya meskipun pandanganku mulai kabur karena air mata. Aku merasakan tiga pasang mata tengah memandangku. Aku tidak peduli. Aku mengeratkan genggamanku... terus lebih erat, tanpa peduli dia akan merasakan sakit atau tidak. Tapi, biar saja dia merasakan sakit, agar dia bangun. Dan... tiba-tiba kurasakan suatu gerakan kecil di genggamanku. Aku pun segera lebih mendekatkan tubuhku lagi terhadapnya. Aku juga merasakan tiga orang lain yang juga ada di ruangan ini sebelum aku ikut mendekat. "Reza..." kataku lirih. Kurasakan sebuah tangan memegang bahu kananku, Bang Davi. Aku tidak peduli. "Reza..." kataku lagi. "Reza. Sayang..." panggil satu dari tiga orang tadi, Ibunya. Suaranya bergetar menahan tangisnya agar tidak pecah. "Reza, kamu dengar aku? Reza, aku hanya ingin membalas semua kalimatmu tadi-" "Tadi?" potong Davi. "Sudah tiga hari Reza di sini." Aku melanjutkan, tanpa memedulikan ucapan Davi. "Selamat tanggal 29. Terima kasih juga untuk satu tahun yang membuatku sangat bahagia karena telah memilikimu. Aku sayang kamu. Akan selalu." Kurasakan suatu gerakan lagi, kali ini kurasakan dia berbalik menggengam tanganku. Sangat erat. Sampai perlahan demi perlahan genggamannya mulai melemah dan pada akhirnya genggaman yang sempat kurasakan tadi menghilang. Sebuah genggaman yang tak akan pernah kulupakan. Bunyi panjang yang memekakan telinga terdengar dari alat pendeteksi jantung, menyadarkanku bahwa dia telah pergi. Meninggalkanku. Tangisan Ibunya pecah seketika. Pasti. Beliau baru saja kehilangan putranya. Sedangkan Ayahnya berusaha tegar sambil terus menenangkan istrinya. Aku sendiri berusaha tersenyum sambil menahan tangisku. Dia tak ingin melihatku menangis lagi. Aku tak akan menangisi kepergianmu, Reza. Kulepaskan genggamanku dan kurasakan tubuhku tertarik mundur. Davi menarikku menjauh dari ranjang dan langsung memelukku. Maafkan aku, tapi aku tak mampu lagi menahan tangisku. Sehingga tangisku pecah dalam pelukan Davi yang terus menenangkanku. Aku masih terus menangis, mencoba menerima kenyataan pahit yang menghantamku dengan telak. Bahwa Reza telah pergi. Pergi di tanggal 29.

Sabtu, 21 April 2012

16, 17, 18

Lembar jawaban gue masih belum sepenuhnya terisi. Dan ada dua hal yang mungkin akan gue lakukan dan pasti membuahkan hasil demi terisinya lembar jawaban gue tercinta. Dua hal tersebut ialah, membuat teori ngaco dadakan yang sotoy abis atau bertanya pada teman. Setelah berpikir keras, akhirnya gue memilih untuk melakukan keduanya. Karena, jelas keduanya punya sensasi tersendiri.

Gue menoleh ke kanan--lebih tepatnya ke arah Dira--karena sebelah kiri gue itu dinding. Yang gue lihat Dira sangat sibuk mengerjakan soal-soal di hadapannya, tapi gue tidak pernah tahu apa sebenarnya yang dilakukan Dira. Gue beralih pada orang yang duduk di depan gue, Tio, yang juga lagi sibuk entah melakukan apa. Gue menoleh ke belakang gue dan harus mendapati dinding yang diam terpaku.

Oke. Kesimpulan yang gue peroleh: belum saatnya buat gue bertanya pada yang lain. Option yang akan gue pakai adalah membuat teori ngaco dadakan yang sotoy abis. Dua belas nomor hitungan dalam lima belas menit waktu yang tersisa. Tidak jadi masalah, bikin teori ngaco tidak butuh waktu yang lama.

Gue memandang sekeliling. Anak-anak yang lain sudah mulai terlihat gelisah di kursi masing-masing, dan menjadi panik seketika saat terdengar sebuah kalimat dari pengeras suara di kelas.

"Waktu mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi. Sekali lagi, waktu mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi." Suara itu keras sekali, terdengar makin keras dan jelas di tengah suasana hening ini.

Sekarang gue sudah betul-betul tidak peduli keadaan sekitar. Meskipun gue tahu mereka tengah sibuk berkutat dengan rasa pabik mereka masing-masing. Gue pun tahu mereka akan sibuk bertanya sana-sini, apa jawaban nomor ini-nomor itu. Bahkan gue tahu mereka akan dengan cepat kembali ke posisi normal sambil mengumpat tidak keruan begitu mata pengawas terjaga. Walaupun gue tahu semua itu, gue tidak peduli. Persetan dengan tawa gue yang mungkin gue keluarkan saat melihat semua kejadian tadi.

Betapa kontrasnya keadaan di dalam kelas dengan keadaan di luar sana. Burung-burung hinggap di kabel listrik sambil mungkin bercicit ria di luar sana. Gue sama sekali tidak peduli. Yang gue pedulikan, dan yang gue inginkan hanyalah lembar jawaban gue terisi dengan sempurna.

Gue merasakan gerakan-gerakan yang menunjukan bahwa pwngawas bangkit berdiri lalu berjalan keliling. Formalitas. Gue menghela napas dalam dan panjang, agar gue tidak kalap. Gue frustasi. Dengan ngeri dan jijik, gue tatap rupa soal-soal di depan gue lekat-lekat. Satu halaman itu betsih dari coret-coretan gue. Satu halaman itu soal-soal integral.

Gue merasakan ada sepasang mata yang tengah menatap gue, dan gue yakini itu adalah sepasang mata pengawas. Tanpa menghiraukannya gue coba membuat teori ngaco, otak gue langsung bekerja tanpa disuruh. Tapi, ternyata otak gue tidak mampu membuat teori untuk integral. Sedih. Gue makin frustasi. Gue pasrah. Gue bakalan tanya Dira! Jadi, gue menoleh ke Dira setelah gue melihat nomor-nomor yang akan gue tanyakan: enam belas, tujuh belas, dan delapan belas.

Bagus! Dira juga menoleh ke arah gue. Bahagia menggerayangi gue seketika, dan seketika juga sirna begitu Dira bertanya pada gue lebih dulu. Gue mengalah, dan gue pun memasang raut wajah bertanya, 'nomor berapa?'. Dira, tanpa buang waktu lagi langsung menggerakan jari-jari tangan kanannya dan mengisyaratkan nomor enam belas. Gue menggeleng sambil senyum bete. Dira ikut tersenyum bete. Seketika raut wajah gue berganti menjadi 'gue juga mau nanya' dan akhirnya dia mengangkat dagunya singkat dengan gestur nomor-berapa?. Dengan isyarat yang sama jari-jari gue bergerak mengisyaratkan nomor tujuh belas. Dia melihat jawaban miliknya lalu menggeleng disertai senyum bete.

Lagi, jari Dira bergerak, namun kali ini mengisyaratkan nomor lima belas. Gue melirik ke kertas jawaban gue setelah memerhatikan gerakan jari-jarinya, lalu membuka telunjuk kiri gue. Dengan cara yang sama, gue bertanya lagi. Nomor delapan belas. Tapi tiba-tiba gue langsung merinding saat mendengar suara kewras itu.

"Ibu yakin kalian gak akan ada yang nyontek. Kalian semua pinter-pinter kan."

Mampus.

Gue menoleh ke Dira, memasang raut wajah kita-disindir-Dir. Dira juga menoleh ke arah gue, juga memasang raut wajah yang membalas raut wajah gue dengan arti iya-Ris. Dan tatap-tatapan kami diakhiri dengan senyum bete.

Dua menit setelahnya gue masih shock. Tapi empat menit berikutnya gue sudah berhasil mengisi enam jawaban berkat teori super ngaco gue yang ajaib.

Nomor 32. Tidak perlu melihat soal lagi. Langsung saja. Ada empat digit di masing-masing option. Digit pertama yang paling dominan itu angka satu, jadi option B dan D dieliminasi. Kemudian, digit paling terakhir yang paling dominan itu angka nol, dari yang tersisa tinggal option C dan A untuk dieliminasi. Akhirnya jawaban yang tersisa adalah E.

Lalu, karena tahu Dira tidak tahu soal integral, jadi percuma gue bertanya lagi. Gue pasrah. Nomor 16, B--karena 'benar'. Nomor 17, E--karena Kemang benar'. Nomor 18, A--karena 'amat benar'. Tiga nomor maut selesai.

Gue tidak kapok. Gue menoleh ke Dira, yang langsung menoleh begitu sadar gerakan gari gue. Tanpa buang-buanhg waktu, jari gue bergerak mengisyaratkan angka empat. Dira menjawab setelah melirik sekilas ke lembar jawabannya.

Selanjutnya, nasib dua nomor yang tersisa adalah mendapatkan masing-masing salah satu dari C dan B. Kenapa? Gue tidak tahu.

Bel berbunyi begitu gue selesai memasukan alat-alat tulis gue ke dalam tempatnya. Sebelum gue bangkit berdiri lalu berjalan dengan lembar jawaban di tangam, gue sempatkan untuk berdoa, mengucap hamdallah atas 'semua' yang telah dimudahkan. Gue perhatikan lagi lembar jawaban gue dengan bangga. Semuanya terisi dengan sempurna.

Namun, sebelumnya gue mengarahkan pandangan gue ke arag luar jendela tak bertirai. Lagit oranye muda dua jam yang lalu telah berubah menjadi langit biru. Bukan biru cemerlang. Ini Jakarta, di mana langit biru cemerlang hanyalah kalimat di cerita-cerita singkat pada buku pelajaran Bahasa Indonesia milik anak SD.

Gue berjalan menuju meja pengawas sambil membawa lembar jawaban, sementara di luar sana awan-awan bergerak dengan perlahan di langit biru. Beberapa burung masih hinggap di kabel listrik, memerhatikan ramainya jalan raya di bawah mereka.

Selama dua kali penuh bel melantunkan instrumen lagu soleram. Percakapan-percakapan lecil mulai terdengar dari hampir semua yang ada di kelas. Gue sudah kembali ke tempat duduk gue, tapi bel masih terus berdering. Bahkan ketika gue kembali ke depan kelas untuk mengambil tas sekolah gue yang diharuskan diletakan di sana selama ujian berlangsung. Pengawas kami keluar dari kelas dan bel berhenti seketika. Secara tidak langsung, kepergian pengwas kami dapat dikatakan gerakan penghenti bel.
Hai hai hai hai hai haiiiiiiii~

Apa kabar? Baik doong pasti yakan? Yakan? Yakan? Iya.

Oke.

Hem udah lama ya gue gak posting blog. Dan yah, tentu gue punya buanyaaak banget topik yang mau gue ceritain. Tapi, gue udah keburu sibuk sendiri sama pikiran gue jadi mungkin ada beberapa yang gak gue ceritain.

Hem mulai dari yang paling baru aja deh ya.
Begini, sekarang (saat gue nulis ini) tanggal 21 April. Tepat dua hari setelah pelaksanaan Ujian Nasional bagi Sekolah Menengah Atas. Gilaaaaaaaaaaa!!!!! Soalnya buset some' banget gak boong-_- Terus jadwalnya itu loh yang gue heran. Masa Bahasa Indonesia gak punya temen. Maksud gue, jadi dalam satu hari itu cuma ujian Bahasa Indonesia doang gitu, gak bareng yang lain. Sedangkan Kimia sama Biologi dajadiin satu hari. Gila kan-_-

Tapi alhamdulillah gue bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, ehem, yah 'baik' sama dengan 'semampu gue'. Dan alhamdulillah juga gue mengerjakan semua ujian dengan jujur. Tanpa nyontek. Tanpa bikin contekan sebelum ujian dimulai. Tanpa beli contekan apa pun. Tanpa menerima tawaran contekan gratis dari siapa pun. Yah oke, gue gak mau munafik, gue juga tergiur untuk pake contekan, tapi kata nyokap jangan. Jadi daripada gak berkah yakan? Akhirnya ya gue gak pake. Alhamdulillah.
Oh ya, oh ya. Di hari Selasa sama Kamis (hari di mana ujiannya dua mata ujian) kami dapet makan. Seneng hahaha. Iyalah. Makan itu nikmat. Jadi selagi ada makan yang makan aja itu makanan, gak usah mikirin takut gendut atau apa. Kan banyak orang yang gak punya kesempatan makan tiga kali sehari atau kayak gue yang makan hampir lima kali sehari. Nah! Jangan sia-siain.

Setelah ujian, di hari terakhir, hari di mana Tia ulang tahun. Cieeeee happu 17th!!! Di hari itu kita berencana mau kasih kejutan di rumahnya. Sebenernya sih diajak nyokapnya Tia. Makan gratis, siapa yang gak tergiur coba? Gak ada! Jadilah kita semua ke sana, minus Tara yang harus jagain adik sematawayangnya di rumah. Tapi tak apalah. Gak ada hal-hal konyol, cuma mau bikin dia kaget aja. Gak ada siram-siraman. Gak ada ceplokan telor. Gak ada repot-repotan.
Oke. Jadi, biar semua disiapin dulu sebelum dateng pasti gak boleh ada Tia dulu dong ya. Jadilah, Hani, Amrina, Dina bertugas buat ajak jalan-jalan si Tia dulu. Mereka ke Gramedia sebelum pulang. Sementara mereka di Gramedia, di rumah tia sibuk beresin semuanya. Gak semuanya ikut beres-beres. Cuma beberapa aja. Gue, Nisa, Pakel, Kiki-O, dan semua anak laki-laki diem di teras depan. Gue sama anak cewek yang tadi gue sebutin duduk-ketawa ngeliatin anak-anak cowok main-mainan-yang-gue-gak-tau-apa-namanya. Seru deh, si ketua semacam di-bully secara gak langsung gitu. Seruuuuu!!!

Selesai main-main, akhirnya kita semua masuk ke dalem rumah karena si empunya hari spesial mau dateng. Pas dateng kita semua langsung nyanyi lagu yang sewajarnya dinyanyiin. Suruh dia tiup lilin. Potong kue. Makan kue. Ketawa-ketawa. Makan bakso. Ketawa-ketawa. Eh eh sebelumnya kita ngomongin acara refreshing kita dulu deng, tapi gak dapet sebuah kesepakatan yang pasti.

Terus, besoknya, Hari Jumat. Adalah hari spesialnya adek gue yang imut dan bohai!!! Cieee happy 16th!!! Gak ada kejutan, karna rumahnya jauh. Jadi tuh gue kira mau ngerjain gitu kan tapi enggak. Padahal gue udah sengaja nge-read bbm dari dia tapi gak gue abaikan. Terus gue ketusin eh tetep aja gak ngefek. Orang juga tiap hari diketusin. Di hari itu, Pakel abis-abisan dibajaknya. Entah itu Display Name di bbm, Personal Message di bbm, tweet di twitter. Hahaha kacoooosss hahaha. Ampun yak kel--v. Di hari itu juga sebenernya dia gak mau dateng tapi gue paksa dateng. Adek yang baik nurut sama kakak yang galak~ Terus-terus di hari itu ada yang berantem! Yuri-Dina. Mereka begitu orangnya jadi gak salahlah. Cuma gara-gara punya ide buat video kelas aja. Gue beruntung gak ikut berantem karna takdir gue gak kreatif jadi gue gak punya ide, gak ikutan. Setelah akhirnya selesai dan pintu gerbang sekolah dibuka, kita semua pulang.

Sampe rumah kerjaan gue gak jelas. Gue cuma nonton Fast & Furious 5 sambil makan Fettucini. Terus makan nasi. Terus gue keluar nonton spongebob. Terus twiteran. Terus bbm-an. Terus nge-charge. Terus menghayal sampe ketiduran dan bangun sekitar jam delapan-an.

Besoknya, Hari Sabtu, hari ini. Hal-hal yang gue lakukan tetep gak jelas. Makan-tiduran doang. Gue berencana Hari Senin gue akan belajar buat snmptn. Tapi semoga gue lolos snmptn undangan deh. Amin!

Besok. Gue masih belom tau gue bakal ngapain. Mungkin nonton dvd atau makan terus.

Mungkin cukup dulu kali ya. Capek ngetik di hape. Kalo besok gue full service lagi mungkin gue bakal nge-blog lagi.

Oke. See ya!!