Jumat, 12 Oktober 2012
Tanggal Dua Puluh Sembilan
Ini salah satu cerpen buatanku dari beberapa cerpen yang lainnya, satu yang berhasil keselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam, bahkan 12 jam. Aku menyadari cerpen ini masih jauh dari sempurna, jadi aku butuh saran dari kalian.
Selamat membaca :)
.
Tanggal 29
Sekarang tanggal 29 Agustus 2011.
Aku duduk di sini, di sebuah kursi di sebuah kedai kopi yang baru saja resmi dibuka pada tanggal 29 enam bulan yang lalu. Jari telunjukku memainkan gagang cangkir berisi kopi yang berwarna hitam pekat. Kopinya sudah tidak begitu panas seperti saat diantarkan tadi sekitar satu jam yang lalu. Dan isinya pun sudah habis setengahnya.
Kedua mataku tak henti-hentinya melihat jam tangaku dan sesekali mengamati jalanan di luar kedai. Mataku juga akan refleks beralih ke arah pintu masuk yang terbuka, dan akan menunduk lemah setelahnya. Beralih ke kopiku yang kini sudah benar-benar dingin, melihat betapa hitamnya kopiku. Aku menghela napas panjang lalu mengedarkan pendanganku ke seluruh penjuru ruangan. Semua pengunjung rata-rata berkelompok, atau paling tidak berpasangan. Entah mereka melakukan reuni dengan teman-teman lama, mengerjakan tugas sekolah atau kampus, mengobrol dengan pasangan, atau bahkan hanya untuk menghilangkan penat sepulang kerja.
Memang suasana di kedai ini sangat nyaman. Dinding yang tanpa repot-repot diperhalus dan dicat, memperlihatkan batu batu-batu bata yang tersusun rapi lengkap dengan semen sebagai bahan perekatnya. Ditambah dengan beberapa hiasan dinding seperti lukisan abstrak juga beberapa gambar-gambar cangkir berisi kopi sebagai contoh menu yang disediakan di kedai ini. Beberapa kipas berukuran cukup besar berwarna cokelat terlihat berputar dengan kecepatan yang sedang tergantung di langit-langit. Dan semua ini dilatarbelakangi oleh suara-suara obrolan, canda tawa, ketikan pada keyboard laptop, ketukan-ketukan yang dihasilkan oleh sepatu dan lantai, atau benturan pelan antara cangkir dangan piring kecil yang digunakan sebagai tatakan cangkir. Tidak lupa aroma berbagai jenis kopi yang memenuhi indera penciuman. Terlihat beberapa pelayan berlalu-lalang sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat lebih dari satu cangkir berisi kopi pesanan pengunjung. Aku kembali mengecek jam tanganku dan mendapati bahwa sudah satu jam lebih aku menunggu di sini.
Cukup lama aku kembali diam setelahnya. Sudah pukul sembilan malam sekarang. Kedai ini sudah mulai sepi. Hanya ada dua pasang pengunjung yang masih tinggal ditambah aku sendiri. Beberapa pelayan juga sudah mulai membersihkan meja-meja dan merapikan bangku-bangku yang tidak tersusun rapi setelah ditinggalkan pengunjung.
Terdengar suara pintu masuk terbuka, membuatku refleks mengarahkan pandanganku sepenuhnya ke pintu masuk. Dan seperti sebelum-sebelumnya aku kembali tertunduk begitu tahu hanya sepasang pengunjung yang keluar dari kedai. Sekarang hanya tinggal sepasang pengunjung lagi dan aku sendiri. Masih tertunduk, aku menyadari adanya gerakan-gerakan tepat di sebelah kiriku. Aku yakin itu adalah sepasang pengunjung lain yang juga ingin pulang, meninggalkan kedai. Tinggal aku sendiri di sini.
Beberapa lampu sudah mulai dimatikan. Beberapa pelayan juga sudah ada yang ingin pulang. Sedangkan aku, hanya duduk di sini tanpa bergeming sedikit pun. Kopiku masih belum berkurang sedikit pun sejak aku terakhir meminumnya setengah jam yang lalu.
"Maaf aku terlambat. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Sebuah kalimat itu sukses membuatku mengangkat kepala dan mendapati seorang laki-laki sudah duduk di kursi di hadapanku. Wajahnya tampak khawatir. Aku tersenyum lembut untuk membuatnya lebih tenang. Dan raut wajah khawatirnya menghilang, digantikan ulasan senyum sebagai balasannya.
"Aku minta maaf," katanya lagi. Aku hanya mengangguk dan senyumnya makin terkembang.
Aku sedikit tersentak saat tangannya tiba-tiba menyentuh tanganku lalu menggenggamnya. Aku menatapnya yang sudah menatapku lebih dulu. Hening. Tidak ada yang berkata sampai akhirnya dia bicara lebih dulu.
"Selamat tanggal 29, sayang. Terima kasih telah mengizinkanku untuk menyayangimu dan memilikimu selama setahun ini. Terima kasih telah membuat hari-hari suramku hilang. Terima kasih telah membuatku melupakan rasa sakit yang sesekali kurasakan. Terima kasih untuk satu tahun yang membuatku sangat bahagia bisa memilikimu."
Seketika kenangan demi kenangan bersamanya mulai bermunculan di benakku, dan kudapati air mataku menetes di pipiku. Tangannya yang lain, yang tidak menggenggam tanganku, bergerak ke arah pipiku untuk menyeka air mataku. Aku kembali tersentak saat tangannya menyentuh kulitku. Tapi aku tersenyum. Kupejamkan kedua mataku, menikmati tangannya yang mengusap lembut pipiku.
"Terima kasih," katanya lagi. Dan aku pun membalas, "Terima kasih." Senyumku terus terkembang tapi pelupuk mataku kembali tergenang air. Saat menetes di pipiku, tangannya langsung menyeka air mataku, lagi.
"Aku tidak mau melihatmu menangis. Pokoknya ini terakhir kalinya aku melihatmu menangis, oke?" ujarnya. Aku mengangguk yang membuatnya melebarkan senyumannya.
Kami terus bertatapan tanpa perlu repot-repot berkata sepatah kata pun. keheningan ini menenangkan kami. Kami menikmatinya. Tapi kemudian di bangkit berdiri, dan otomatis genggamannya terlepas. Aku terkejut. Aku menatapnya, masih terduduk di tempatku. Melihatnya menggerakan bibirnya mengucapkan beberapa kalimat.
"Sekali lagi, selamat tanggal 29. Aku sayang kamu." Dia menunduk sebentar lalu menatapku lagi dan melanjutkan, "aku harus pergi sekarang." Dan dia pergi meninggalkanku sendiri, bersama kopi dingin di hadapanku. Aku bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Aku masih menatap pintu masuk kedai bahkan lama setelah dirinya menghilang dari situ. Secuil harapan bahwa dia akan kembali ke pintu itu, membukanya lalu berjalan menghampiriku sambil tersenyum. Tapi, setelah hampir sepuluh menit, kurasa, dia tidak juga kembali.
"Maaf. Kami sudah mau tutup," kata seorang pelayan pria yang membuat pandanganku beralih menatapnya. Dia tersenyum. Aku pun membalas tersenyum dan membalas ucapannya tadi, "Oh, ya. Saya juga ingin pulang." Pelayan itu hanya mengangguk sambil terus tersenyum lalu pergi membersihkan meja yang berjarak tiga meja di sebelahku, tempat pengunjung terakhir tadi.
Aku mengambil tas yang sejak kedatanganku di sini tergeletak di kursi di sebelahku dan memosisikannya di bahu kananku. Belum sampai lima langkah aku meninggalkan kursiku, kudengar ponselku berbunyi. Jadi, aku berhenti sebentar untuk mengambil ponsel dari dalam tasku. Ternyata Davi yang meneleponku. Sesaat sebelum menerima panggilannya, terlintas sebuah pemikiran yang buruk yang membuatku khawatir dan sekujur tubuhku terasa dingin yang tidak wajar. Ada apa ini?
Kutekan tombol dial di ponselku lalu mendekatkan ponselku ke telingaku dan langsung mendengar suara Davi yang terdengar sangat panik. Aku pun ikut panik. Kenapa?
"Reza koma dan sekarang kondisinya sangat kritis. Bisa ke Rumah Sakit dekat rumah Tante Soraya sekarang?"
Deg.
Aku menahan napas seketika setelah mendengarnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk dapat mencerna informasi apa yang baru saja kuterima. Tubuhku kaku. Aku sangat terkejut. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku dan langsung menetes membasahi kedua pipiku. Pandanganku kabur, mengarah ke pintu masuk. Aku masih bisa merasakan dia di sana, dan menghilang di sana. Kurasakan tubuhku lemas. Tanganku jatuh di samping tubuhku, masih menggenggam ponselku dan kurasakan Davi masih memanggil-manggil namaku dari ujung sana.
Aku yang diam mendapat perhatian dari pelayan pria yang tadi menghampiriku. Aku tak begitu mendengarkan apa yang diucapkannya padaku, tapi aku menjawab dengan sebuah kalimat yang cukup membuatnya tidak berkata lagi selain kalimat "Selamat malam... Hati-hati." Itu yang kudengar sebelum pintu masuk tertutup begitu aku keluar dari kedai. Angin malam berhembus, membuat leherku yang terbuka ikut tersentuh angin malam. Dingin, tapi rasa dingin yang terus menjalar di seluruh tubuhku tidak mendapat perhatian dariku sama sekali.
.
Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat, dengan kata lain berlari. Aku menyusuri koridor dengan perasaan panik yang menggerayangiku, sama sekali tidak mengacuhkan pandangan kesal dari beberapa orang yang kutemui di koridor. Aku tidak peduli dengan mereka yang merasa terganggu denganku. Selain rasa panik, rasa takut juga ikut menguasai tubuhku. Jadi aku tidak mau repot-repot memedulikan orang-orang itu. Peluh mulai membanjiri sekujur tubuhku meskipun aku merasakan bahwa tubuhku dingin. Tidak peduli. Aku takut. Aku takut.
Begitu aku berhasil sampai di depan sebuah pintu, aku langsung menerobos masuk ke dalam. Dan mendapati tiga orang terkejut dengan kedatanganku yang tidak permisi. Aku tidak peduli.
Kedua mataku langsung menangkap sosok laki-laki yang sedang terbaring tak berdaya di sebuah ranjang. Berbagai selang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Tidak ada gerakan sama sekali kecuali dadanya yang naik-turun. Hanya gerakan itu dan sebuah alat pendeteksi jantung yang mampu memberitahu bahwa laki-laki itu masih hidup. Laki-laki yang sama dengan laki-laki yang baru saja kutemui di kedai. Laki-laki yang berkali-kali mengucapkan terima kasih. Laki-laki yang tadi menggenggam tanganku dan menyeka air mataku. Laki-laki yang... menyayangiku.
Aku melangkah mendekati laki-laki yang terbaring itu. Menatap wajahnya lekat-lekat. Menggenggam tangan kirinya, namun kali ini aku tidak tersentak begitu menyentuh kulitnya... yang dingin, sama seperti tadi. Air mataku kembali mengalir deras. Aku masih terus memandanginya meskipun pandanganku mulai kabur karena air mata.
Aku merasakan tiga pasang mata tengah memandangku. Aku tidak peduli. Aku mengeratkan genggamanku... terus lebih erat, tanpa peduli dia akan merasakan sakit atau tidak. Tapi, biar saja dia merasakan sakit, agar dia bangun. Dan... tiba-tiba kurasakan suatu gerakan kecil di genggamanku. Aku pun segera lebih mendekatkan tubuhku lagi terhadapnya. Aku juga merasakan tiga orang lain yang juga ada di ruangan ini sebelum aku ikut mendekat.
"Reza..." kataku lirih. Kurasakan sebuah tangan memegang bahu kananku, Bang Davi. Aku tidak peduli. "Reza..." kataku lagi.
"Reza. Sayang..." panggil satu dari tiga orang tadi, Ibunya. Suaranya bergetar menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Reza, kamu dengar aku? Reza, aku hanya ingin membalas semua kalimatmu tadi-"
"Tadi?" potong Davi. "Sudah tiga hari Reza di sini."
Aku melanjutkan, tanpa memedulikan ucapan Davi. "Selamat tanggal 29. Terima kasih juga untuk satu tahun yang membuatku sangat bahagia karena telah memilikimu. Aku sayang kamu. Akan selalu."
Kurasakan suatu gerakan lagi, kali ini kurasakan dia berbalik menggengam tanganku. Sangat erat. Sampai perlahan demi perlahan genggamannya mulai melemah dan pada akhirnya genggaman yang sempat kurasakan tadi menghilang. Sebuah genggaman yang tak akan pernah kulupakan.
Bunyi panjang yang memekakan telinga terdengar dari alat pendeteksi jantung, menyadarkanku bahwa dia telah pergi. Meninggalkanku.
Tangisan Ibunya pecah seketika. Pasti. Beliau baru saja kehilangan putranya. Sedangkan Ayahnya berusaha tegar sambil terus menenangkan istrinya. Aku sendiri berusaha tersenyum sambil menahan tangisku. Dia tak ingin melihatku menangis lagi. Aku tak akan menangisi kepergianmu, Reza.
Kulepaskan genggamanku dan kurasakan tubuhku tertarik mundur. Davi menarikku menjauh dari ranjang dan langsung memelukku. Maafkan aku, tapi aku tak mampu lagi menahan tangisku. Sehingga tangisku pecah dalam pelukan Davi yang terus menenangkanku. Aku masih terus menangis, mencoba menerima kenyataan pahit yang menghantamku dengan telak.
Bahwa Reza telah pergi. Pergi di tanggal 29.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar