“Gue
rasa kita harus bicara lagi. Tadi buat gue bingung dan kaget.”
Hari sudah gelap,
ponselmu yang sejak sore menunjukkan keheningan berdering. Sebuah pesan singkat
masuk. Pesan singkat darinya.
Air matamu baru saja
berhenti mengalir. Masih terlihat bekas bulir-bulir air mata yang membasahi
pipimu karena kau biarkan mengering dengan sendirinya. Kau lelah menyekanya.
Kau biarkan angin tahu bahwa kau sangat butuh dirinya untuk menghilangkan air
matamu.
Kau membutuhkan angin,
kau juga membutuhkan sosoknya untuk menghentikan air matamu. Kau butuh sosoknya
untuk menghentikan semuanya. Kau hanya ingin semuanya berakhir dengan cepat,
dan kau berharap kau tidak perlu menangis lagi untuknya. Kau juga membutuhkan
pikiran yang bersih dari hal-hal yang sangat mengusikmu.
Karena itu, di sinilah
kau berada. Duduk di sebuah bangku di kantin kampusmu yang lumayan ramai.
Dengan sebuah teh kemasan dan sebuah novel yang menemanimu duduk, kau mencoba untuk membunuh waktu yang terasa
berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Kau sebenarnya sadar sepenuhnya bahwa
kau sama sekali tidak menginginkan waktu untuk berjalan normal seperti
biasanya, dan bahkan untuk lebih cepat dari biasanya. Kau takut menghadapi
segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Jadi, buat apa kau membunuh waktu?
Ya, kau sedang menunggu
nanti. Nanti. Kemungkinan apa yang akan menjadi bagian dari kenyataan kisahmu
sudah berada di ujung sana, dan kau sedang menunggu untuk diizinkan
mengetahuinya.
Kau tidak butuh waktu
yang lama untuk masuk ke dalam dunia novel yang sedang kau baca. Sesekali kau
menyesap teh kemasan di depanmu. Setelah beberapa halaman novel dan beberapa
sesapan teh kemasan, pada akhirnya pintu gerbang yang memagari segalanya telah
terbuka. Perlahan, seiring detik yang berlalu.
Kau menyadari sosoknya
dengan pasti duduk di sebelahmu, tapi kau tetap bergeming. Kau bingung. Kau
membunuh waktu dengan cepat, dan kau menyesali itu sejurus kemudian.
Sejenak...
Dua jenak...
Tiga jenak...
Lalu kau mendapati
tanganmu menutup novel yang sedang kau baca tanpa arahan dari otakmu yang
berhenti bekerja. Kau merasakan jantungmu berdegup kencang. Ingin rasanya kau
tidak menghiraukan debaran jantungmu yang membuatmu merasa ingin mati saja saat
itu juga. Tapi tidak, kau menyukai debaran itu.
Kau mencoba meminum teh
kemasanmu lagi tapi karena otakmu belum bekerja sepenuhnya tanganmu bergetar
dan membuatmu sulit untuk memasukkan sedotan ke dalam mulutmu. Dalam hati kau
berharap bahwa dia tidak menyadarinya.
Hampir lima menit
berlalu, dan di antara kalian belum terucap satu patah kata pun. Diam semakin
lama semakin menyesakkan. Otak dan perasaanmu berseteru dalam diam yang semakin
membuatmu muak. Harusnya kau ingat bahwa kau telah memantapkan dirimu untuk
menyelesaikan semuanya. Harusnya kau ingat itu. Kau ingin lupa, tapi kau harus
ingat.
“Jadi...” Dan semua
mengalir keluar dari bibirmu yang sudah sangat rindu untuk mengutarakan
semuanya. Perasaanmu tidak lagi tertutup baginya. Kau memang ingin ia tahu.
Pintu gerbang terbuka
makin lebar seiring dengan kata-kata yang juga keluar dari bibirnya. Bibir yang
kau harapkan selalu mengucapkan kata-kata sayang untukmu seorang. Ya,
harapanmu.
Kau memaksa dirimu
untuk kuat mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan, sampai kau mendengar derit
pintu gerbang yang akhirnya terbuka lebar. Kau melangkah masuk diringi dengan
suaranya yang terasa seperti mengalun indah sekali di telingamu.
“...Gue suka sama lo...
Gue nyaman...” Hanya itu yang terdengar oleh dirimu. Hanya itu yang kau
butuhkan untuk menghapus semua kesedihanmu selama ini. Kau menyadari potongan
kalimat itu sangat kau damba.
Kau sungguh tidak
mengharapkan kalimat itu yang akan keluar, tapi takdir berkata lain...
Potongan kalimat yang
kemudian menjadi kenyataan yang telah kauketahui itu tidak masuk ke dalam
kemungkinan yang sebelumnya kau asumsikan. Kau tidak mempersiapkan untuk ini
sebelumnya, maka setelah dia selesai dengan kalimatnya kau tidak juga bicara.
Kau bingung, tapi benakmu bicara dengan keras, “Untuk apa kau bingung?”
Ya, kau tidak seharusnya
bingung.
Kau memang tidak
menatap langsung matanya, kau tidak berani. Tapi, bukankah itu yang selama ini
tanpa sadar kau inginkan? Kau harapkan?
Kau bertanya padanya,
“Lagi deketin orang ya?”
Suaranya pelan, tapi
jelas mengatakan ‘ya’. Kau bersikap normal karena kau sudah mempersiapkan
situasi ini. Kau bersikap normal di luar, dan menjerit sedih di dalam. Dengan
rapat kau menutupi kesedihanmu, tidak membiarkan apa dan siapa pun masuk untuk
mengetahuinya.
Setelah itu pembicaraan
berjalan sedikit lebih ringan dengan diselingi sedikit tawa dari kalian. Tapi
kau lebih banyak diam, dan mendapati dirimu dimaki oleh waktu. Waktu dengan
sukses meremehkanmu.
Pertanyaan yang
sosoknya utarakan sebenarnya mudah saja kau jawab, karena jelas kau tahu
jawabannya. Tapi, entah mengapa kau menahannya. Bibirmu terkunci rapat.
Tapi, pada akhirnya
dengan sebuah ‘ya’ yang terlontar dari bibirmu, kau berhasil mendapatkannya.
Sosok yang kau cintai menjadi milikmu.
Kau memiliki yang kau
cintai.
Dan kau bahagia karena
itu. Karena dia milikmu. Dan karena kau mencintainya.
Pada akhirnya yang kau
cintai menjadi milikmu. Ya, pada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar