Sabtu, 07 Desember 2013

Akhirnya

“Gue rasa kita harus bicara lagi. Tadi buat gue bingung dan kaget.”

Hari sudah gelap, ponselmu yang sejak sore menunjukkan keheningan berdering. Sebuah pesan singkat masuk. Pesan singkat darinya.

Air matamu baru saja berhenti mengalir. Masih terlihat bekas bulir-bulir air mata yang membasahi pipimu karena kau biarkan mengering dengan sendirinya. Kau lelah menyekanya. Kau biarkan angin tahu bahwa kau sangat butuh dirinya untuk menghilangkan air matamu.

Kau membutuhkan angin, kau juga membutuhkan sosoknya untuk menghentikan air matamu. Kau butuh sosoknya untuk menghentikan semuanya. Kau hanya ingin semuanya berakhir dengan cepat, dan kau berharap kau tidak perlu menangis lagi untuknya. Kau juga membutuhkan pikiran yang bersih dari hal-hal yang sangat mengusikmu.

Karena itu, di sinilah kau berada. Duduk di sebuah bangku di kantin kampusmu yang lumayan ramai. Dengan sebuah teh kemasan dan sebuah novel yang menemanimu duduk, kau  mencoba untuk membunuh waktu yang terasa berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Kau sebenarnya sadar sepenuhnya bahwa kau sama sekali tidak menginginkan waktu untuk berjalan normal seperti biasanya, dan bahkan untuk lebih cepat dari biasanya. Kau takut menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Jadi, buat apa kau membunuh waktu?

Ya, kau sedang menunggu nanti. Nanti. Kemungkinan apa yang akan menjadi bagian dari kenyataan kisahmu sudah berada di ujung sana, dan kau sedang menunggu untuk diizinkan mengetahuinya.

Kau tidak butuh waktu yang lama untuk masuk ke dalam dunia novel yang sedang kau baca. Sesekali kau menyesap teh kemasan di depanmu. Setelah beberapa halaman novel dan beberapa sesapan teh kemasan, pada akhirnya pintu gerbang yang memagari segalanya telah terbuka. Perlahan, seiring detik yang berlalu.

Kau menyadari sosoknya dengan pasti duduk di sebelahmu, tapi kau tetap bergeming. Kau bingung. Kau membunuh waktu dengan cepat, dan kau menyesali itu sejurus kemudian.

Sejenak...

Dua jenak...

Tiga jenak...

Lalu kau mendapati tanganmu menutup novel yang sedang kau baca tanpa arahan dari otakmu yang berhenti bekerja. Kau merasakan jantungmu berdegup kencang. Ingin rasanya kau tidak menghiraukan debaran jantungmu yang membuatmu merasa ingin mati saja saat itu juga. Tapi tidak, kau menyukai debaran itu.

Kau mencoba meminum teh kemasanmu lagi tapi karena otakmu belum bekerja sepenuhnya tanganmu bergetar dan membuatmu sulit untuk memasukkan sedotan ke dalam mulutmu. Dalam hati kau berharap bahwa dia tidak menyadarinya.

Hampir lima menit berlalu, dan di antara kalian belum terucap satu patah kata pun. Diam semakin lama semakin menyesakkan. Otak dan perasaanmu berseteru dalam diam yang semakin membuatmu muak. Harusnya kau ingat bahwa kau telah memantapkan dirimu untuk menyelesaikan semuanya. Harusnya kau ingat itu. Kau ingin lupa, tapi kau harus ingat.

“Jadi...” Dan semua mengalir keluar dari bibirmu yang sudah sangat rindu untuk mengutarakan semuanya. Perasaanmu tidak lagi tertutup baginya. Kau memang ingin ia tahu.

Pintu gerbang terbuka makin lebar seiring dengan kata-kata yang juga keluar dari bibirnya. Bibir yang kau harapkan selalu mengucapkan kata-kata sayang untukmu seorang. Ya, harapanmu.
Kau memaksa dirimu untuk kuat mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan, sampai kau mendengar derit pintu gerbang yang akhirnya terbuka lebar. Kau melangkah masuk diringi dengan suaranya yang terasa seperti mengalun indah sekali di telingamu.

“...Gue suka sama lo... Gue nyaman...” Hanya itu yang terdengar oleh dirimu. Hanya itu yang kau butuhkan untuk menghapus semua kesedihanmu selama ini. Kau menyadari potongan kalimat itu sangat kau damba.
Kau sungguh tidak mengharapkan kalimat itu yang akan keluar, tapi takdir berkata lain...

Potongan kalimat yang kemudian menjadi kenyataan yang telah kauketahui itu tidak masuk ke dalam kemungkinan yang sebelumnya kau asumsikan. Kau tidak mempersiapkan untuk ini sebelumnya, maka setelah dia selesai dengan kalimatnya kau tidak juga bicara. Kau bingung, tapi benakmu bicara dengan keras, “Untuk apa kau bingung?”

Ya, kau tidak seharusnya bingung.

Kau memang tidak menatap langsung matanya, kau tidak berani. Tapi, bukankah itu yang selama ini tanpa sadar kau inginkan? Kau harapkan?

Kau bertanya padanya, “Lagi deketin orang ya?”

Suaranya pelan, tapi jelas mengatakan ‘ya’. Kau bersikap normal karena kau sudah mempersiapkan situasi ini. Kau bersikap normal di luar, dan menjerit sedih di dalam. Dengan rapat kau menutupi kesedihanmu, tidak membiarkan apa dan siapa pun masuk untuk mengetahuinya.

Setelah itu pembicaraan berjalan sedikit lebih ringan dengan diselingi sedikit tawa dari kalian. Tapi kau lebih banyak diam, dan mendapati dirimu dimaki oleh waktu. Waktu dengan sukses meremehkanmu.

Pertanyaan yang sosoknya utarakan sebenarnya mudah saja kau jawab, karena jelas kau tahu jawabannya. Tapi, entah mengapa kau menahannya. Bibirmu terkunci rapat.

Tapi, pada akhirnya dengan sebuah ‘ya’ yang terlontar dari bibirmu, kau berhasil mendapatkannya. Sosok yang kau cintai menjadi milikmu.

Kau memiliki yang kau cintai.

Dan kau bahagia karena itu. Karena dia milikmu. Dan karena kau mencintainya.


Pada akhirnya yang kau cintai menjadi milikmu. Ya, pada akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar