Sabtu, 07 Desember 2013

Lega

Terdiam. Hanya itu yang dapat kulakukan selama seminggu ini. Terdiam dalam kediamanku, tanpa ada peningkatan meski hanya sebuah gerakan mata. Saat dirinya masuk dalam jarak pandangku, aku langsung terdiam terpaku. Diamku sudah sangat menunjukan bagaimana perasaanku, dan bahkan jika degup jantungku dapat terdengar mungkin akan menambah irama kediamanku yang kaku.

Aku tak ingin bergerak, seolah aku tak ingin menunjukan keberadaanku. Aku tak ingin terlihat. Entah kenapa. Aku hanya ingin bisa melihatnya tanpa harus terlihat olehnya. Ada sebuah perasaan yang mengharuskanku untuk tidak menunjukan diriku. Aku benci padanya, aku benci diriku.

Aku bangga pada kedua mataku yang pasti akan selalu menemukan keberadaannya meski dalam radius 20 meter. Di antara keramaian yang mengerubunginya, kedua mataku seakan memiliki kekuatan yang luar biasa karna mampu menemukannya ikut dalam keriuhan di sekitarnya. Dari ekor mataku aku dapat melihat beberapa orang mengerubunginya sampai menutupi kemunculannya di mataku. Tapi, aku dibuat bingung oleh kedua mataku yang masih mampu mengunci pandangannya pada sosok itu meski hanya ujung rambut atau sepatu yang melekat pada tubuhnya saja.

Kerumunan orang orang di sekitarnya mulai berkurang. Satu per satu mereka kembali ke tempat mereka semula. Beruntung, sosok itu tidak pergi meninggalkan tempatnya. Tubuh utuhnya kembali terlihatoleh kedua mataku. Kedua mataku menatap lurus ke arah kedua matanya, seakan mampu melihat jauh ke dalam sorot matanya yang menunjukan kelelahan. Kelelahan yang membuahkan hasil kemenangan baginya dan teman teman satu timnya.

Bagai memiliki kekuatan super, telingaku seolah menjadi tajam luar biasa. Dapat kudengar deru napas memburunya seiring dengan dada yang naik turun. Meski di tengah keriuhan sorak sorai dalam ruangan cukup luas ini. Beberapa orang datang lagi menghampirinya, bicara sesuatu. Dan selanjutnya dapat kudengar bagaiamana suara tawa renyah keluar dari bibirnya. Dengan mataku, kulihat kedua matanya ikut tertawa. Tawa bahagia, karna memang ia pantas untuk bahagia.

Kedua mataku menangkap gerakan dari tangan ajaibnya yang bergerak menyeka peluh di wajahnya. Seperti yang kubilang tadi, kedua mataku hanya mengunci sosoknya seorang. Tapi, bagaikan gelas rapuh yang terjatuh bebas ke lantai dan pecah begitu saja, tatapanku diisi oleh kehadiran orang lain. Sebuah tangan menyodorkan sebuah handuk pada sosok yang menjadi objek utama mataku. Sosok utama milik mataku menerima dengan senang hati sodoran handuk itu. Dengan berat kedua mataku beralih pada objek baru itu dan seketika mataku basah dibuatnya. Pelupuk mataku penuh dengan air kesedihan dan keperihan yang mendalam. Entah aku pun tak mengerti kenapa ini bisa terjadi padaku, aku hanya tau aku mengagumi sosok indah yang selama beberapa hari ini terkunci di tatapanku. Juga telinga yang selalu mencuri dengar suaranya yang akan terdengar indah di indera pendengaranku.

Sebuah lonceng berdentang sangat keras. Aku tersentak dan jatuh menghantam bumi yang tidak selembut yang pernah terpikirkan, bahkan kurasa semakin keras seiring tubuhku bergerak menuju bumi. Dapat kurasakan semua indera milikku kehilangan fungsi sama sekali. Pelupuk mataku mulai tak sanggup menampung bendungan yang sempat kutahan sebelumnya. Aku tak mampu memejamkan mata, takut air kepedihanku jatuh. Tapi aku tak mampu lagi membuka mataku jika objek indera penglihatanku dipenuhi oleh sosok idamanku bersama sosok lain yang seketika kehadirannya membuatku mati rasa. Kehadirannya melenyapkan segala keindahan yang sempat mampir, tanpa bekas sekali pun. menyisakan kepiluan yang teramat sangat yang dengan cepat mematah matahkan secuil rasa indah dalam hidupku. Rasa indah yang kudapatkan dari sosok yang kutahu tak akan pernah kudapatkan.

Tapi aku seketika rapuh, patah dan bukan retak lagi.

Kini kediamanku memberikan pilu dalam hatiku. Goresan yang sangat dalam di hatiku memaksaku untuk melepaskan sosok idamanku itu pergi. Membiarkannya hilang dari jarak pandangku. Hilang selamanya.

Dan memang selamanya, karna pada akhirnya aku menyadari bahwa sosoknya hanyalah abu yang terbang terbawa angin dengan debu bersamanya. Aku juga menyadari dan mendapati diriku menertawakan tindakan bodohku itu. Sadar bahwa sosok lain yang lebih baik untukku dan memang ditakdirkan untukku, bukan hanya sebagai sosok idaman bagi mataku, telah menungguku di tempat yang kini tengah kutuju.

Dan aku pun sudah bersiap untuk dibutakan oleh sosok baru itu. Mengunci tatapanku hanya padanya. Mengunci pendengaranku hanya pada suaranya. Aku siap.

“Hei.” Sebuah suara membuyarkan lamunanku. “Apa kabar?”

Aku menoleh dan tersenyum. “Baik.”

“Sudah lama nunggu? Maaf aku terlambat lagi,” katanya lagi sebelum mengecup keningku.

“Nggak apa, kok. Baru sekitar sepuluh menit aku nunggu kamu datang, dan itu bukan masalah yang besar.”

“Lain kali aku nggak akan telat, deh.” Tangannya menggenggam tanganku, menuntunku mengikuti langkahnya.

“Nggak perlu janji begitu, mendingan kasih izin aku untuk yang gantian telat.”

Ia terkekeh. Tangannya bergerak mengacak rambutku lalu ke bahuku dan merangkulnya. Aku tersenyum.

Dialah sosok baru itu. Bukan sepenuhnya sosok baru sebenarnya. Ia merupakan sosok lama yang hadir kembali menjadi sosok baru. Dan aku tidak begitu mementingkan soal sosok baru ataukah lama, yang penting bagiku adalah dia milikku. Sepenuhnya milikku, milik indera penglihatanku, milik indera pendengaranku.

Sosoknya tidak membuatku hanya duduk terdiam saja. Meskipun sosoknya mampu membuat pandanganku terkunci hanya pada dirinya seorang, begitu juga dengan indera pendengaranku. Mataku yang selalu disuguhkan senyum yang merekah olehnya, juga tatapan matanya yang selalu menatap mataku lembut. Telingaku yang selalu dibiarkan untuk mendengar kalimat-kalimat manis darinya, kalimat-kalimat yang menenangkan darinya. Suara-suara yang sudah menjadi candu bagi telingaku, suara-suara yang— Tunggu. Suara apa itu?

BUK!

Aduh!

Aku mengaduh pelan, sedikit menjerit agak kencang, dan mengerang sedikit keras. Oh, aku jadi meracau begini.

Aku bangkit berdiri lalu mencari-cari sumber suara yang masih berbunyi memekakan telingaku dan berhasil membuatku terjatuh. Itu dia. Aku mengambilnya dan tanpa pikir panjang lagi langsung melemparnya ke arah dinding di sebelah kananku. Benda itu terbentur sangat keras, mendarat juga dengan sangat tidak halus. Bentuknya sudah tidak seperti semula, suaranya hilang seketika. Kemudian tanpa berlama-lama lagi aku melengos pergi ke kamar mandi.

.

“Jatoh lagi?” tanya Ernest, teman sebangkuku, setelah melihatku berjalan sambil mengelus-elus pinggul.

Retorik, jadi aku diam. Sambil meringis aku berjalan menuju tempat dudukku diiringi tawanya juga gelengan kepalanya.

Risa adalah teman sekelasku sejak kelas satu di SMA ini. Risa adalah anak yang ceria, selalu bahagia meskipun dirinya tengah dilanda masalah. Dia memang bukan tipe orang yang terlalu memikirkan masalah hidupnya. Prinsipnya adalah ‘Bawa enjoy aja’ yang kadang kuiyakan.

“Jam yang keberapa tuh, Din?” tanyanya lagi begitu aku duduk, tawanya masih juga belum reda.

Aku menoleh ke arahnya, menatapnya tajam dan berniat untuk membentaknya namun kuurungkan niatku itu. Percuma saja membentaknya, toh dia akan terus tertawa. Tidak mengacuhkannya adalah pilihan yang tepat. Aku mengeluarkan buku pelajaran pertama juga sebuah buku catatan bersama dengan sebuah bolpoin, sambil terus mendengarkan tawa Ernest yang masih belum menunjukan kapan berhentinya. Aku memutar bola mataku.

Bel masuk berbunyi dengan begitu nyaring, namun masih belum membungkam suara dari Ernest. Entah apa yang terjadi dengannya, kenapa sangat betah tertawa lama-lama. Dan juga padahal hanya topik yang sangat tidak asik: aku terjatuh lagi akibat terkejut suara jam beker. Aku menggeleng heran. Sampai pada akhirnya aku menoleh ke arahnya, dan mendapati tawanya makin menjadi.

Duh dia temanku atau bukan, sih?

“Heh elo tuh nggak capek ketawain gue terus? Bu Darti dateng aja deh baru diem kayak mayat hidup,” kataku.

“Nggak usah lebay!” balasnya di sela-sela tawanya.

“Yeh emang bener, kan? Elo yang lebay jadinya. Dipelototin aja lo udah jadi liliput gitu.”

“Dia melotot ya tinggal gue timpuk.” Masih tertawa.

“Pake apaan? Doi kan tahan pukul.”

“Jam beker lo, lah. Hahaha.”

Aku menghela napas kesal, tidak membalas. Aku memutar dudukku ke posisi semula, mulai membuka buku paket pelajaran Sejarah. Helaan napasku lebih besar daripada sebelumnya begitu melihat tulisan besar yang ada di sampul buku itu. Sejarah. Pelajaran yang menurutku tidak penting. Buang-buang waktu saja mengungkit masa lalu!

Tiba-tiba tawa Ernest berhenti. Sangat tiba-tiba, jadi pasti Bu Darti sudah datang. Aku mengalihkan pandanganku ke depan kelas, dan benar saja Bu Darti sudah hadir. Beliau sedang berjalan menuju meja guru sambil memeluk beberapa buku dengan satu tangan.

Aku menoleh ke arah Ernest lagi untuk melihat bagaimana ekspresinya sekarang. Rona merah di pipinya akibat tertawa tadi masih sedikit kentara, tapi raut wajahnya begitu tidak enak karena memaksakan tawa lepasnya untuk berhenti begitu saja.

Aku tersenyum sinis. “Ha!”

“Diem, lo!” balasnya kesal.

“Dan bahkan Ibu belum sempat untuk memberikan salam, tapi sudah ada yang mendahului Ibu?” Jeda sebentar namunterasa menyekik leher. “Ernest, Dinda?” Bu Darti dengan nada datar namun dinginnya mengeluarkan kalimat yang tertuju pada kami.

Aku langsung menoleh cepat. Dan langsung menyesali apa yang aku lakukan selanjutnya.

Cengiran muncul di bibirku sambil menyapa beliau, “Pagi, Bu.”

Wajahnya masih datar, dan tanpa membalas sapaanku beliau berbalik menghadap papan tulis lalu menuliskan sesuatu di papan tulis. Cengiranku menghilang tanpa komando.

“Ha!” Suara Ernest tepat di telingaku. “Satu sama.”

Aku memonyongkan mulutku dengan mata yang tertuju ke papan tulis. Seperti biasa, Bu Darti menuliskan sebuah kata di papan tulis dengan huruf-huruf kapital yang sangat besar: S E J A R A H. Aku mengangkat alisku lalu menoleh ke arah cowok yang duduk di pojok depan karena ekor mataku menangkap dirinya tengah menatapku.

Ibu jari tangan kirinya teracungkan. Aku mengangkat sebelah alisku sambil tersenyum sombong. Detik berikutnya Bu Darti menyita seluruh perhatianku, juga yang lainnya. Beruntung bagi cowok itu, Tomi, sudah menghadap ke depan dengan sempurna sebelum Bu Darti berbalik badan ke arah para muridnya.

Seisi kelas diselimuti keheningan luar biasa hanya dengan tatapan dari Guru Sejarah paling disegani di sekolah ini.

“Ayam jantan dari timur,” katanya begitu mendapatkan suasana hening yang selalu beliau inginkan. “Tentu kalian pernah mendengarnya sebelumnya...”

Tidak ada yang bergeming sedikit pun.

“...Kalau kalian peduli akan sejarah, apalagi sejarah Indonesia,” lanjut Bu Darti. Masih tidak ada yang bergeming sedikit pun. Matanya bergerak menatap satu per satu murid di kelas. Sudah pasti mencari korban.
Aku yang tidak ingin menarik perhatian hanya duduk diam dengan wajah super datar yang bisa kukeluarkan. Orang di sebelahku juga sama. Kami lumayan ahli dalam menghindar dari perhatian guru, ditambah soal tadi yang sudah dipastikan Bu Darti malas untuk menjadikan kami sebagai korban. Entahlah, karena seharusnya malah kami adalah korban paling utama beliau, tapi begitulah dia. Guru yang sangat unexpectable.

“Damar?” kata Bu Darti akhirnya.

Terlihat jelas raut wajah dari murid-murid lain yang kelewat lega, tapi juga menunjukan raut wajah yang memberikan semangat untuk cowok yang baru saja disebut namanya oleh Bu Darti. Si empunya nama menatap Bu Darti dengan takut dan kaku, tapi beruntung dia tahu apa yang harus ia katakan.

“I-itu julukan  untuk Sultan Hasanuddin, Bu. Berhubungan dengan Kesultanan Gowa dan Tallo,” jelasnya.

Beruntung lagi, Bu Darti tidak bertanya lebih lanjut. Ekspresi lega terpancar sangat jelas di wajah Damar Prakoso, salah satu siswa yang dikenal brutal di sekolah, namun anehnya dia selalu berhasil menjawab pertanyaan dari guru. Padahal setiap istirahat dia akan selalu menyambangi kelas sahabat karibnya, Dio, yang berbeda jurusan dengan Damar. Saat pulang sekolah juga sama, ia akan menyambangi kelas Dio baru setelahnya ke tongkrongan. Ia jarang peduli akan PR atau tugas juga ulangan. Hidupnya terkesan sangat santai, lebih santai dari Ernest yang kadang suka panik berlebihan jika PR-nya belum selesai. Dan setahuku Damar juga tidak mengikuti bimbingan belajar. Atau di rumahnya ia belajar dengan tekun? Aku tidak tahu.
“...Jadi, siapa yang memberikan julukan itu kepada Sultan Hasanuddin, Arshadinda Radina?”

Deg.

Nama itu... sperti pernah dengar. Di mana? Aduh! Punggungku panas seketika. Itu namaku sendiri. Itu namaku! Sial! Kenapa harus namaku?!

Mataku masih belum teralihkan dari Damar. Dan sepertinya ia menganggap tatapanku ini adalah tatapan yang butuh pertolongan darinya, jadi dia menggerakan mulutnya mengatakan satu kata tanpa suara. Karena aku juga tidak tahu, dan kurasa aku bisa percaya padanya, jadi aku mencoba menangkap maksud dari gerakan itu. Begitu aku tahu maksudnya, Bu Darti memanggil namaku lagi, dengan sedikit membentak.

“Arshadinda?!”

“Sa-saya, Bu,” kataku kaget bukan main. “Belanda, Bu.”

“Karena?”

Sial! Kenapa ada lagi pertanyaannya? Sial! Sial! Sial!

“Akui bahwa kamu melamun saat saya bicara dan kamu bisa bebas dari pertanyaan Ibu.”

Mampus!

“Juga kamu diperbolehkan, mendapatkan izin secara gratis dari Ibu untuk menutup pintu kelas ini dari luar.”

Mampus lagi!

Aku tidak berani menatap matanya langsung, yang dari tadi kutatap adalah papan tulis di belaang beliau. Papan tulis yang menyerukan tulisan di atasnya. Perutku mendadak mual.

Oke, Dinda. Ini nggak begitu sulit. Pertama-tama coba buat sensasi.

“Karena...” kataku menggantung.

Semua menungguku untuk meneruskan, termasuk Bu Darti. Sabar, kawan.

Tomi!

Aku mencuri pandang ke arahnya tapi sangat disayangkan karena Bu Darti berdiri tepat di sebelahnya. Aku merutuki diriku sendiri mendapat tatapan kemenangan dari Bu Darti. Aku juga bisa merasakan tatapan dari yang lainnya, tatapan yang macam-macam. Dan aku hanya mau berterima kasih pada orang yang memberikan tatapan kasihan padaku. Persetan dengan kenyataan bahwa aku tengah dikasihani, toh memang aku butuh itu.

“Karena apa, Arshadinda?” Suara itu lagi!

Oke, Dinda, fokus.

Julukan itu diberikan oleh Belanda, jadi si Hasan ini orangnya hebat. Iya hebat. Kemudian, masalahnya hebat yang menguntungkan atau merugikan?

Ayam jantan, bisa diartikan sebagai jagoan. Hasan jelas hebat. Dari timur. Indonesia ada di bagian timur, dan Belanda ada di bagian Barat. Jadi, Hasan adalah orang hebat yang merugikan Belanda. Kalau begitu, apa kata yang tepat?

“Karena si Hasan merusak Belanda, Bu.”

Bu Darti diam, menatapku tajam. Jika diteliti akan terlihat kilatan di sana. Beberapa terdengar menahan tawa, entah kenapa.

Mampus salah ngomong!

Merusak. Apa kata okenya?

“Menghancurkan, Bu, maksud saya.” Gue dia sejenak menunggu reaksi dari Bu Darti. Tatapannya berubah, gue semakin selamat.

Apa kata kerennya?

“Si Hasan punya keberanian yang mantap untuk memporak-porandakan...”

Apaaaa????

“...pasukan Belanda...”

Boom! Otakku meledak. Aku tidak tahu harus melanjutkannya dengan apa. Sialnya Bu Darti masih belum bicara, yang sudah jelas menuntut jawaban yang lebih dariku.

Oke. Kalo pasukan Belanda diisengin, berarti...

Gue menarik napas agak panjang lalu mangulang jawabanku dengan lumayan lancar.

“Hasan punya keberanian yang mantap untuk memporak-porandakan pasukan Belanda sehingga Belanda semakin terdesak daripada sebelumnya, di masa-masa sebelum Hasan yang berperan.”

“Kamu selamat kali ini,” kata Bu Darti lalu berjalan menuju meja guru.

Lega! It feels like heaven! Aku pun bisa mendengar riuh tepuk tangan yang ditujukan padaku.

“Selanjutnya adalah Kesultanan Ternate dan Tidore,” Bu Darti memulai bahasan selanjutnya. Semua murid tertunduk menatap bukunya. Sesekali memerhatikan Bu Darti yang dengan antusias berkisah.

Sebenarnya Bu Darti sangat baik dalam mengajar, hanya saja wajahnya yang dingin dan mampu membuat orang yang menatapnya langsung menjadi liliput milik liliput. Bukan menjadi meleleh tapi menguap. Pokoknya mengintimidasi sekali.

Sikutku tiba-tiba disenggol, membuayarkan lamunanku. Beruntung tidak ada pertanyaan yang ditujukan padaku, melainkan bisikan Ernest yang tidak mengenakan.

“Kalau mau mati jangan sekarang, nanti ada ulangan Matematika.”

Aku memutar bola mataku lalu menegakan dudukku.

“... Kerjakan Uji Kemampuan 1 dan dikumpul siang ini. Minggu depan kalian menjelaskan kembali apa yang telah kalian pelajari di bab ini. Akan ada enam kelompok yang maksimal terdiri dari enam orang di masing-masing kelompok. Dan masing-masing kelompok akan mendapat bagian yang nanti kalian diskusikan sendiri.”

Syukur deh ini tugas kelompok. Tapi kok... perasaanku nggak enak ya?

“Ditambah satu kelompok lagi yang akan menjelaskan ulang dari awal bab hingga akhir bab. Kelompok tersebut terdiri dari Ernest Anindita dan Arshadinda Radina.”

Tuhkan!

“Ta-tapi, Bu...” Ernest mencoba protes tapi langsung kembali menciut begitu dipotong oleh Bu Darti.

“Tapi apa, Ernest?” Sungguh, tatapannya sangat mematikan.

Gue coba angkat bicara, “Paling tidak... bertiga, Bu?”

Rasa harap dan takut menjalar ke seluruh tubuh. Tapi...

“Baiklah, kalian dipersilakan mencari satu korban.”

Sedikit lega bercampur bahagia. Tidak jadi berdua dan pelajaran yang berlangsung sangat lama ini berakhir juga.

“Selamat pagi,” kata Bu Darti lalu bergegas pergi meninggalkan kelas.

Riuh ramai terdengar begitu dirasakan Bu Darti sudah agak menjauh dari kelas. Namun kelegaan mereka tidak lebih besar dariku, dan mungkin juga dari Ernest dan Damar.

“GILA!” teriak Damar dari kursinya. Bertepatan dengan Ernest yang langsung tersungkur di mejanya.

Sementara aku... tidak ada salahnya mengikuti Ernest.

Tuhan sangat baik padaku hari ini. Sepertinya kelegaanku kali ini belum berakhir. Rasa bahagia langsung membuncah dari dalam diriku ketika pengeras suara menyerukan informasi yang berbunyi: “...rapat. Jadi bagi seluruh murid diminta untuk tidak meninggalkan sekolah sebelum bel berbunyi. Terima kasih.”

Dan tanpa ada aba-aba kami semua bersorak dengan sangat berlebihan. Kami tidak peduli. Setelah selama 45 menit bersama Bu Darti yang terasa seperti bertahun-tahun lamanya, kami serasa seperti mendapat jackpot yang luar biasa menggembirakan. Jadi, bersorak dengan sangat berlebihan bukanlah hal yang memalukan diri kami sendiri, wajar dan sangat diperlukan malah. Sesungguhnya seluruh bagian tubuh kami yang kaku butuh gerakan.

“Hei, hei, gue minta perhatiannya!” Suara Sandy, ketua kelas ini, sangat keras. Ya, memang harus begitu.

Sandy adalah murid terpintar di kelas, dan di akhir tahun ajaran kemarin pun ia mendapat posisi sebagai juara umum satu angkatan. Wajahnya cukup membuat orang lain segan terhadapnya, maka dari itu ia terpilih menjadi ketua kelas. Anehnya, cowok yang berperawakan tinggi dan berisi ini adalah teman baik Damar dan Dio. Tidak jarang aku melihatnya ikut nongkrong di tempat tongkrongan angkatan kami. Lalu kapan ia belajar sehingga menjadi pintar?

Arrghhh aku merasa hidup itu tidak adil!

“Oke, gini. Seperti yang dibilang Bu Darti tadi,” lanjut Sandy begitu seisi kelas lumayan tenang, tapi langsung kembali berisik dengan erangan panjang dan malas begitu mendengar nama itu disebut.

Sandy yang sadar akan perubahan ekspresi teman-temannya langsung berkata, “Kalian pikir gue nggak males? Udah deh, kita pura-pura aja nggak kenal sama dia. Oke, deh. Kita sekelas kan ada 39 anak, dikurangin tiga tinggal 36 jadi pas untuk enam kelompok yang masing-masing enam orang. Untuk kelompok gue serahin sepenuhnya sama kalian buat milih sendiri.”

Beberapa cewek mulai sibuk mengajak teman-teman yang sudah sering menjadi teman kelompok mereka. Dan kalaupun aku bisa, aku juga akan sibuk sama seperti mereka. Aku menghela napas pasrah sambil menyandarkan punggungku ke sandaran kursi, hampir bersamaan dengan Ernest. Aku menoleh ke arahnya yang juga menoleh ke arahku, dan kami tertawa. Cukup keras untuk menyita perhatian dari yang lainnya. Kami pun dihadiahi tatapan aneh dari mereka.

“Oke, oke. Belom selesai. Jadi, sekarang siapa yang mau mengajukan diri sebagai pahlawan buat mereka?” Sandy mengedarkan pandangan berkeliling, begitu juga denganku dan Ernest.

Pandanganku berhenti pada Tomi yang sepertinya menyadari posisinya sebagai yang terpilih. Gue kembali menoleh ke arah Ernest dan mendapati tatapannya juga tertuju pada Tomi. Kami saling bertukar cengiran, kedua alisnya naik. Kami kembali memusatkan pandangan kami pada Tomi yang terlihat terpuruk di mejanya.

“Tomi,” panggil kami dengan intonasi yang menjijikan. Tomi makin terpuruk mendengar namanya kami sebut. Kami berdua tertawa lepas bahagia, begitu juga yang lain.

“Oke, selesai, ya urusan kelompok. Dan, Tomi, gue turut prihatin, Tom,” kata Sandy dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.

“Ya, ya, ya,” gumam Tomi dibalik tangannya yang menutupi wajahnya di atas meja.

Kami semua kontan tertawa. Kemudian Sandy kembali dengan tugasnya, sekarang ia tengah membagi-bagikan bagian tugas pada masing-masing kelompok yang ajaibnya sudah terbentuk.

Aku dan Ernest masih terus tertawa, sementara Tomi masih sibuk dengan keterpurukannya mendapatkan peran sebagai pahlawan yang menjadi korban. Tomi Fabiantoro adalah teman baikku selain Ernest. Kami bertiga sering menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol. Tomi adalah anak yang pintar, setelah Sandy, dan baik-baik. Ia hampir tidak pernah berbuat kesalahan di sekolah. Dan maksudku hampir adalah hampir, karena ia sempat beberapa kali terlambat masuk kelas akibat kupaksa untuk menemaniku sarapan di kantin. Singkatnya, ia sahabatku yang pintar dan baik-baik. Ya, sahabat Ernest juga.

Mereka sahabat yang paling oke yang pernah kupunya. Kami saling melengkapi. Kalau butuh suasana ramai dan menyenangkan suasana muram, serahkan pada Ernest. Kalau butuh temat curhat yang akan serius menanggapi, serahkan pada Tomi. Kalau butuh kalimat sok tahu, serahkan padaku. Kalau butuh tumbal, serahkan pada Tomi.

“Udah ah, Din, capek,” ucap Ernest di sela-sela tawanya. Gue mengangguk. Namun kami masih terus tertawa hingga setengah jam berikutnya.

Dan kembali tertawa begitu melihat Tomi duduk di kursi di depan gue. Wajahnya datar dan dingin, hampir mirip dengan Bu Darti, jadi kami berdua diam dengan teratur. Mengatur napas baru mendengarkannya bicara.

“Lusa libur jadi kita bikin ringkasan sama slide show lusa. Di rumah gue. Soal kapan waktunya nanti gue kasih tau lagi.”

“Buset! Santai aja dulu, Bro,” kataku.

“Mending ketawa bareng kita aja dulu,” kata Ernest lalu mulai tertawa lagi. Aku mengikuti, dan tak lama Tomi ikut tertawa.

Saat itu adalah saat di mana aku merasa bahagia. Saat di mana aku bisa tertawa lepas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar