Terdiam. Hanya itu yang
dapat kulakukan selama seminggu ini. Terdiam dalam kediamanku, tanpa ada
peningkatan meski hanya sebuah gerakan mata. Saat dirinya masuk dalam jarak
pandangku, aku langsung terdiam terpaku. Diamku sudah sangat menunjukan bagaimana
perasaanku, dan bahkan jika degup jantungku dapat terdengar mungkin akan
menambah irama kediamanku yang kaku.
Aku tak ingin bergerak,
seolah aku tak ingin menunjukan keberadaanku. Aku tak ingin terlihat. Entah
kenapa. Aku hanya ingin bisa melihatnya tanpa harus terlihat olehnya. Ada
sebuah perasaan yang mengharuskanku untuk tidak menunjukan diriku. Aku benci
padanya, aku benci diriku.
Aku bangga pada kedua
mataku yang pasti akan selalu menemukan keberadaannya meski dalam radius 20
meter. Di antara keramaian yang mengerubunginya, kedua mataku seakan memiliki
kekuatan yang luar biasa karna mampu menemukannya ikut dalam keriuhan di
sekitarnya. Dari ekor mataku aku dapat melihat beberapa orang mengerubunginya
sampai menutupi kemunculannya di mataku. Tapi, aku dibuat bingung oleh kedua
mataku yang masih mampu mengunci pandangannya pada sosok itu meski hanya ujung
rambut atau sepatu yang melekat pada tubuhnya saja.
Kerumunan orang orang
di sekitarnya mulai berkurang. Satu per satu mereka kembali ke tempat mereka
semula. Beruntung, sosok itu tidak pergi meninggalkan tempatnya. Tubuh utuhnya
kembali terlihatoleh kedua mataku. Kedua mataku menatap lurus ke arah kedua
matanya, seakan mampu melihat jauh ke dalam sorot matanya yang menunjukan
kelelahan. Kelelahan yang membuahkan hasil kemenangan baginya dan teman teman
satu timnya.
Bagai memiliki kekuatan
super, telingaku seolah menjadi tajam luar biasa. Dapat kudengar deru napas
memburunya seiring dengan dada yang naik turun. Meski di tengah keriuhan sorak
sorai dalam ruangan cukup luas ini. Beberapa orang datang lagi menghampirinya,
bicara sesuatu. Dan selanjutnya dapat kudengar bagaiamana suara tawa renyah
keluar dari bibirnya. Dengan mataku, kulihat kedua matanya ikut tertawa. Tawa
bahagia, karna memang ia pantas untuk bahagia.
Kedua mataku menangkap
gerakan dari tangan ajaibnya yang bergerak menyeka peluh di wajahnya. Seperti
yang kubilang tadi, kedua mataku hanya mengunci sosoknya seorang. Tapi,
bagaikan gelas rapuh yang terjatuh bebas ke lantai dan pecah begitu saja,
tatapanku diisi oleh kehadiran orang lain. Sebuah tangan menyodorkan sebuah
handuk pada sosok yang menjadi objek utama mataku. Sosok utama milik mataku
menerima dengan senang hati sodoran handuk itu. Dengan berat kedua mataku
beralih pada objek baru itu dan seketika mataku basah dibuatnya. Pelupuk mataku
penuh dengan air kesedihan dan keperihan yang mendalam. Entah aku pun tak
mengerti kenapa ini bisa terjadi padaku, aku hanya tau aku mengagumi sosok
indah yang selama beberapa hari ini terkunci di tatapanku. Juga telinga yang
selalu mencuri dengar suaranya yang akan terdengar indah di indera
pendengaranku.
Sebuah lonceng
berdentang sangat keras. Aku tersentak dan jatuh menghantam bumi yang tidak
selembut yang pernah terpikirkan, bahkan kurasa semakin keras seiring tubuhku
bergerak menuju bumi. Dapat kurasakan semua indera milikku kehilangan fungsi
sama sekali. Pelupuk mataku mulai tak sanggup menampung bendungan yang sempat
kutahan sebelumnya. Aku tak mampu memejamkan mata, takut air kepedihanku jatuh.
Tapi aku tak mampu lagi membuka mataku jika objek indera penglihatanku dipenuhi
oleh sosok idamanku bersama sosok lain yang seketika kehadirannya membuatku
mati rasa. Kehadirannya melenyapkan segala keindahan yang sempat mampir, tanpa
bekas sekali pun. menyisakan kepiluan yang teramat sangat yang dengan cepat
mematah matahkan secuil rasa indah dalam hidupku. Rasa indah yang kudapatkan
dari sosok yang kutahu tak akan pernah kudapatkan.
Tapi aku seketika
rapuh, patah dan bukan retak lagi.
Kini kediamanku memberikan
pilu dalam hatiku. Goresan yang sangat dalam di hatiku memaksaku untuk
melepaskan sosok idamanku itu pergi. Membiarkannya hilang dari jarak pandangku.
Hilang selamanya.
Dan memang selamanya,
karna pada akhirnya aku menyadari bahwa sosoknya hanyalah abu yang terbang
terbawa angin dengan debu bersamanya. Aku juga menyadari dan mendapati diriku
menertawakan tindakan bodohku itu. Sadar bahwa sosok lain yang lebih baik
untukku dan memang ditakdirkan untukku, bukan hanya sebagai sosok idaman bagi
mataku, telah menungguku di tempat yang kini tengah kutuju.
Dan aku pun sudah
bersiap untuk dibutakan oleh sosok baru itu. Mengunci tatapanku hanya padanya.
Mengunci pendengaranku hanya pada suaranya. Aku siap.
“Hei.” Sebuah
suara membuyarkan lamunanku. “Apa kabar?”
Aku menoleh dan
tersenyum. “Baik.”
“Sudah lama
nunggu? Maaf aku terlambat lagi,” katanya lagi sebelum mengecup keningku.
“Nggak apa, kok.
Baru sekitar sepuluh menit aku nunggu kamu datang, dan itu bukan masalah yang
besar.”
“Lain kali aku
nggak akan telat, deh.” Tangannya menggenggam tanganku, menuntunku mengikuti
langkahnya.
“Nggak perlu
janji begitu, mendingan kasih izin aku untuk yang gantian telat.”
Ia terkekeh.
Tangannya bergerak mengacak rambutku lalu ke bahuku dan merangkulnya. Aku
tersenyum.
Dialah sosok
baru itu. Bukan sepenuhnya sosok baru sebenarnya. Ia merupakan sosok lama yang
hadir kembali menjadi sosok baru. Dan aku tidak begitu mementingkan soal sosok
baru ataukah lama, yang penting bagiku adalah dia milikku. Sepenuhnya milikku,
milik indera penglihatanku, milik indera pendengaranku.
Sosoknya tidak
membuatku hanya duduk terdiam saja. Meskipun sosoknya mampu membuat pandanganku
terkunci hanya pada dirinya seorang, begitu juga dengan indera pendengaranku.
Mataku yang selalu disuguhkan senyum yang merekah olehnya, juga tatapan matanya
yang selalu menatap mataku lembut. Telingaku yang selalu dibiarkan untuk
mendengar kalimat-kalimat manis darinya, kalimat-kalimat yang menenangkan
darinya. Suara-suara yang sudah menjadi candu bagi telingaku, suara-suara yang—
Tunggu. Suara apa itu?
BUK!
Aduh!
Aku mengaduh
pelan, sedikit menjerit agak kencang, dan mengerang sedikit keras. Oh, aku jadi
meracau begini.
Aku bangkit
berdiri lalu mencari-cari sumber suara yang masih berbunyi memekakan telingaku
dan berhasil membuatku terjatuh. Itu dia. Aku mengambilnya dan tanpa pikir
panjang lagi langsung melemparnya ke arah dinding di sebelah kananku. Benda itu
terbentur sangat keras, mendarat juga dengan sangat tidak halus. Bentuknya
sudah tidak seperti semula, suaranya hilang seketika. Kemudian tanpa
berlama-lama lagi aku melengos pergi ke kamar mandi.
.
“Jatoh lagi?”
tanya Ernest, teman sebangkuku, setelah melihatku berjalan sambil mengelus-elus
pinggul.
Retorik, jadi
aku diam. Sambil meringis aku berjalan menuju tempat dudukku diiringi tawanya
juga gelengan kepalanya.
Risa adalah
teman sekelasku sejak kelas satu di SMA ini. Risa adalah anak yang ceria,
selalu bahagia meskipun dirinya tengah dilanda masalah. Dia memang bukan tipe
orang yang terlalu memikirkan masalah hidupnya. Prinsipnya adalah ‘Bawa enjoy
aja’ yang kadang kuiyakan.
“Jam yang
keberapa tuh, Din?” tanyanya lagi begitu aku duduk, tawanya masih juga belum
reda.
Aku menoleh ke
arahnya, menatapnya tajam dan berniat untuk membentaknya namun kuurungkan niatku
itu. Percuma saja membentaknya, toh dia akan terus tertawa. Tidak
mengacuhkannya adalah pilihan yang tepat. Aku mengeluarkan buku pelajaran
pertama juga sebuah buku catatan bersama dengan sebuah bolpoin, sambil terus
mendengarkan tawa Ernest yang masih belum menunjukan kapan berhentinya. Aku
memutar bola mataku.
Bel masuk
berbunyi dengan begitu nyaring, namun masih belum membungkam suara dari Ernest.
Entah apa yang terjadi dengannya, kenapa sangat betah tertawa lama-lama. Dan
juga padahal hanya topik yang sangat tidak asik: aku terjatuh lagi akibat
terkejut suara jam beker. Aku menggeleng heran. Sampai pada akhirnya aku
menoleh ke arahnya, dan mendapati tawanya makin menjadi.
Duh dia temanku
atau bukan, sih?
“Heh elo tuh
nggak capek ketawain gue terus? Bu Darti dateng aja deh baru diem kayak mayat
hidup,” kataku.
“Nggak usah
lebay!” balasnya di sela-sela tawanya.
“Yeh emang
bener, kan? Elo yang lebay jadinya. Dipelototin aja lo udah jadi liliput gitu.”
“Dia melotot ya
tinggal gue timpuk.” Masih tertawa.
“Pake apaan? Doi
kan tahan pukul.”
“Jam beker lo,
lah. Hahaha.”
Aku menghela
napas kesal, tidak membalas. Aku memutar dudukku ke posisi semula, mulai
membuka buku paket pelajaran Sejarah. Helaan napasku lebih besar daripada
sebelumnya begitu melihat tulisan besar yang ada di sampul buku itu. Sejarah.
Pelajaran yang menurutku tidak penting. Buang-buang waktu saja mengungkit masa
lalu!
Tiba-tiba tawa
Ernest berhenti. Sangat tiba-tiba, jadi pasti Bu Darti sudah datang. Aku
mengalihkan pandanganku ke depan kelas, dan benar saja Bu Darti sudah hadir.
Beliau sedang berjalan menuju meja guru sambil memeluk beberapa buku dengan
satu tangan.
Aku menoleh ke
arah Ernest lagi untuk melihat bagaimana ekspresinya sekarang. Rona merah di
pipinya akibat tertawa tadi masih sedikit kentara, tapi raut wajahnya begitu
tidak enak karena memaksakan tawa lepasnya untuk berhenti begitu saja.
Aku tersenyum
sinis. “Ha!”
“Diem, lo!”
balasnya kesal.
“Dan bahkan Ibu
belum sempat untuk memberikan salam, tapi sudah ada yang mendahului Ibu?” Jeda
sebentar namunterasa menyekik leher. “Ernest, Dinda?” Bu Darti dengan nada
datar namun dinginnya mengeluarkan kalimat yang tertuju pada kami.
Aku langsung
menoleh cepat. Dan langsung menyesali apa yang aku lakukan selanjutnya.
Cengiran muncul
di bibirku sambil menyapa beliau, “Pagi, Bu.”
Wajahnya masih
datar, dan tanpa membalas sapaanku beliau berbalik menghadap papan tulis lalu
menuliskan sesuatu di papan tulis. Cengiranku menghilang tanpa komando.
“Ha!” Suara
Ernest tepat di telingaku. “Satu sama.”
Aku memonyongkan
mulutku dengan mata yang tertuju ke papan tulis. Seperti biasa, Bu Darti
menuliskan sebuah kata di papan tulis dengan huruf-huruf kapital yang sangat
besar: S E J A R A H. Aku mengangkat alisku lalu menoleh ke arah cowok yang
duduk di pojok depan karena ekor mataku menangkap dirinya tengah menatapku.
Ibu jari tangan
kirinya teracungkan. Aku mengangkat sebelah alisku sambil tersenyum sombong.
Detik berikutnya Bu Darti menyita seluruh perhatianku, juga yang lainnya.
Beruntung bagi cowok itu, Tomi, sudah menghadap ke depan dengan sempurna
sebelum Bu Darti berbalik badan ke arah para muridnya.
Seisi kelas
diselimuti keheningan luar biasa hanya dengan tatapan dari Guru Sejarah paling
disegani di sekolah ini.
“Ayam jantan
dari timur,” katanya begitu mendapatkan suasana hening yang selalu beliau
inginkan. “Tentu kalian pernah mendengarnya sebelumnya...”
Tidak ada yang
bergeming sedikit pun.
“...Kalau kalian
peduli akan sejarah, apalagi sejarah Indonesia,” lanjut Bu Darti. Masih tidak
ada yang bergeming sedikit pun. Matanya bergerak menatap satu per satu murid di
kelas. Sudah pasti mencari korban.
Aku yang tidak
ingin menarik perhatian hanya duduk diam dengan wajah super datar yang bisa
kukeluarkan. Orang di sebelahku juga sama. Kami lumayan ahli dalam menghindar
dari perhatian guru, ditambah soal tadi yang sudah dipastikan Bu Darti malas
untuk menjadikan kami sebagai korban. Entahlah, karena seharusnya malah kami
adalah korban paling utama beliau, tapi begitulah dia. Guru yang sangat unexpectable.
“Damar?” kata Bu
Darti akhirnya.
Terlihat jelas
raut wajah dari murid-murid lain yang kelewat lega, tapi juga menunjukan raut
wajah yang memberikan semangat untuk cowok yang baru saja disebut namanya oleh
Bu Darti. Si empunya nama menatap Bu Darti dengan takut dan kaku, tapi
beruntung dia tahu apa yang harus ia katakan.
“I-itu
julukan untuk Sultan Hasanuddin, Bu.
Berhubungan dengan Kesultanan Gowa dan Tallo,” jelasnya.
Beruntung lagi,
Bu Darti tidak bertanya lebih lanjut. Ekspresi lega terpancar sangat jelas di
wajah Damar Prakoso, salah satu siswa yang dikenal brutal di sekolah, namun
anehnya dia selalu berhasil menjawab pertanyaan dari guru. Padahal setiap
istirahat dia akan selalu menyambangi kelas sahabat karibnya, Dio, yang berbeda
jurusan dengan Damar. Saat pulang sekolah juga sama, ia akan menyambangi kelas
Dio baru setelahnya ke tongkrongan. Ia jarang peduli akan PR atau tugas juga
ulangan. Hidupnya terkesan sangat santai, lebih santai dari Ernest yang kadang
suka panik berlebihan jika PR-nya belum selesai. Dan setahuku Damar juga tidak
mengikuti bimbingan belajar. Atau di rumahnya ia belajar dengan tekun? Aku
tidak tahu.
“...Jadi, siapa
yang memberikan julukan itu kepada Sultan Hasanuddin, Arshadinda Radina?”
Deg.
Nama itu...
sperti pernah dengar. Di mana? Aduh! Punggungku panas seketika. Itu namaku
sendiri. Itu namaku! Sial! Kenapa harus namaku?!
Mataku masih
belum teralihkan dari Damar. Dan sepertinya ia menganggap tatapanku ini adalah
tatapan yang butuh pertolongan darinya, jadi dia menggerakan mulutnya
mengatakan satu kata tanpa suara. Karena aku juga tidak tahu, dan kurasa aku
bisa percaya padanya, jadi aku mencoba menangkap maksud dari gerakan itu.
Begitu aku tahu maksudnya, Bu Darti memanggil namaku lagi, dengan sedikit
membentak.
“Arshadinda?!”
“Sa-saya, Bu,”
kataku kaget bukan main. “Belanda, Bu.”
“Karena?”
Sial! Kenapa ada
lagi pertanyaannya? Sial! Sial! Sial!
“Akui bahwa kamu
melamun saat saya bicara dan kamu bisa bebas dari pertanyaan Ibu.”
Mampus!
“Juga kamu
diperbolehkan, mendapatkan izin secara gratis dari Ibu untuk menutup pintu
kelas ini dari luar.”
Mampus lagi!
Aku tidak berani
menatap matanya langsung, yang dari tadi kutatap adalah papan tulis di belaang
beliau. Papan tulis yang menyerukan tulisan di atasnya. Perutku mendadak mual.
Oke, Dinda. Ini
nggak begitu sulit. Pertama-tama coba buat sensasi.
“Karena...”
kataku menggantung.
Semua menungguku
untuk meneruskan, termasuk Bu Darti. Sabar, kawan.
Tomi!
Aku mencuri
pandang ke arahnya tapi sangat disayangkan karena Bu Darti berdiri tepat di
sebelahnya. Aku merutuki diriku sendiri mendapat tatapan kemenangan dari Bu
Darti. Aku juga bisa merasakan tatapan dari yang lainnya, tatapan yang
macam-macam. Dan aku hanya mau berterima kasih pada orang yang memberikan
tatapan kasihan padaku. Persetan dengan kenyataan bahwa aku tengah dikasihani,
toh memang aku butuh itu.
“Karena apa,
Arshadinda?” Suara itu lagi!
Oke, Dinda,
fokus.
Julukan itu
diberikan oleh Belanda, jadi si Hasan ini orangnya hebat. Iya hebat. Kemudian,
masalahnya hebat yang menguntungkan atau merugikan?
Ayam jantan,
bisa diartikan sebagai jagoan. Hasan jelas hebat. Dari timur. Indonesia ada di
bagian timur, dan Belanda ada di bagian Barat. Jadi, Hasan adalah orang hebat
yang merugikan Belanda. Kalau begitu, apa kata yang tepat?
“Karena si Hasan
merusak Belanda, Bu.”
Bu Darti diam,
menatapku tajam. Jika diteliti akan terlihat kilatan di sana. Beberapa
terdengar menahan tawa, entah kenapa.
Mampus salah
ngomong!
Merusak. Apa
kata okenya?
“Menghancurkan,
Bu, maksud saya.” Gue dia sejenak menunggu reaksi dari Bu Darti. Tatapannya
berubah, gue semakin selamat.
Apa kata
kerennya?
“Si Hasan punya
keberanian yang mantap untuk memporak-porandakan...”
Apaaaa????
“...pasukan
Belanda...”
Boom! Otakku
meledak. Aku tidak tahu harus melanjutkannya dengan apa. Sialnya Bu Darti masih
belum bicara, yang sudah jelas menuntut jawaban yang lebih dariku.
Oke. Kalo
pasukan Belanda diisengin, berarti...
Gue menarik
napas agak panjang lalu mangulang jawabanku dengan lumayan lancar.
“Hasan punya
keberanian yang mantap untuk memporak-porandakan pasukan Belanda sehingga
Belanda semakin terdesak daripada sebelumnya, di masa-masa sebelum Hasan yang
berperan.”
“Kamu selamat
kali ini,” kata Bu Darti lalu berjalan menuju meja guru.
Lega! It feels
like heaven! Aku pun bisa mendengar riuh tepuk tangan yang ditujukan padaku.
“Selanjutnya
adalah Kesultanan Ternate dan Tidore,” Bu Darti memulai bahasan selanjutnya.
Semua murid tertunduk menatap bukunya. Sesekali memerhatikan Bu Darti yang
dengan antusias berkisah.
Sebenarnya Bu
Darti sangat baik dalam mengajar, hanya saja wajahnya yang dingin dan mampu
membuat orang yang menatapnya langsung menjadi liliput milik liliput. Bukan
menjadi meleleh tapi menguap. Pokoknya mengintimidasi sekali.
Sikutku
tiba-tiba disenggol, membuayarkan lamunanku. Beruntung tidak ada pertanyaan
yang ditujukan padaku, melainkan bisikan Ernest yang tidak mengenakan.
“Kalau mau mati
jangan sekarang, nanti ada ulangan Matematika.”
Aku memutar bola
mataku lalu menegakan dudukku.
“... Kerjakan
Uji Kemampuan 1 dan dikumpul siang ini. Minggu depan kalian menjelaskan kembali
apa yang telah kalian pelajari di bab ini. Akan ada enam kelompok yang maksimal
terdiri dari enam orang di masing-masing kelompok. Dan masing-masing kelompok
akan mendapat bagian yang nanti kalian diskusikan sendiri.”
Syukur deh ini
tugas kelompok. Tapi kok... perasaanku nggak enak ya?
“Ditambah satu
kelompok lagi yang akan menjelaskan ulang dari awal bab hingga akhir bab.
Kelompok tersebut terdiri dari Ernest Anindita dan Arshadinda Radina.”
Tuhkan!
“Ta-tapi, Bu...”
Ernest mencoba protes tapi langsung kembali menciut begitu dipotong oleh Bu
Darti.
“Tapi apa,
Ernest?” Sungguh, tatapannya sangat mematikan.
Gue coba angkat
bicara, “Paling tidak... bertiga, Bu?”
Rasa harap dan
takut menjalar ke seluruh tubuh. Tapi...
“Baiklah, kalian
dipersilakan mencari satu korban.”
Sedikit lega
bercampur bahagia. Tidak jadi berdua dan pelajaran yang berlangsung sangat lama
ini berakhir juga.
“Selamat pagi,”
kata Bu Darti lalu bergegas pergi meninggalkan kelas.
Riuh ramai
terdengar begitu dirasakan Bu Darti sudah agak menjauh dari kelas. Namun
kelegaan mereka tidak lebih besar dariku, dan mungkin juga dari Ernest dan
Damar.
“GILA!” teriak
Damar dari kursinya. Bertepatan dengan Ernest yang langsung tersungkur di
mejanya.
Sementara aku...
tidak ada salahnya mengikuti Ernest.
Tuhan sangat
baik padaku hari ini. Sepertinya kelegaanku kali ini belum berakhir. Rasa
bahagia langsung membuncah dari dalam diriku ketika pengeras suara menyerukan
informasi yang berbunyi: “...rapat. Jadi bagi seluruh murid diminta untuk tidak
meninggalkan sekolah sebelum bel berbunyi. Terima kasih.”
Dan tanpa ada
aba-aba kami semua bersorak dengan sangat berlebihan. Kami tidak peduli.
Setelah selama 45 menit bersama Bu Darti yang terasa seperti bertahun-tahun
lamanya, kami serasa seperti mendapat jackpot
yang luar biasa menggembirakan. Jadi, bersorak dengan sangat berlebihan
bukanlah hal yang memalukan diri kami sendiri, wajar dan sangat diperlukan
malah. Sesungguhnya seluruh bagian tubuh kami yang kaku butuh gerakan.
“Hei, hei, gue
minta perhatiannya!” Suara Sandy, ketua kelas ini, sangat keras. Ya, memang
harus begitu.
Sandy adalah
murid terpintar di kelas, dan di akhir tahun ajaran kemarin pun ia mendapat
posisi sebagai juara umum satu angkatan. Wajahnya cukup membuat orang lain
segan terhadapnya, maka dari itu ia terpilih menjadi ketua kelas. Anehnya,
cowok yang berperawakan tinggi dan berisi ini adalah teman baik Damar dan Dio.
Tidak jarang aku melihatnya ikut nongkrong di tempat tongkrongan angkatan kami.
Lalu kapan ia belajar sehingga menjadi pintar?
Arrghhh aku
merasa hidup itu tidak adil!
“Oke, gini.
Seperti yang dibilang Bu Darti tadi,” lanjut Sandy begitu seisi kelas lumayan
tenang, tapi langsung kembali berisik dengan erangan panjang dan malas begitu
mendengar nama itu disebut.
Sandy yang sadar
akan perubahan ekspresi teman-temannya langsung berkata, “Kalian pikir gue
nggak males? Udah deh, kita pura-pura aja nggak kenal sama dia. Oke, deh. Kita
sekelas kan ada 39 anak, dikurangin tiga tinggal 36 jadi pas untuk enam
kelompok yang masing-masing enam orang. Untuk kelompok gue serahin sepenuhnya
sama kalian buat milih sendiri.”
Beberapa cewek
mulai sibuk mengajak teman-teman yang sudah sering menjadi teman kelompok
mereka. Dan kalaupun aku bisa, aku juga akan sibuk sama seperti mereka. Aku
menghela napas pasrah sambil menyandarkan punggungku ke sandaran kursi, hampir
bersamaan dengan Ernest. Aku menoleh ke arahnya yang juga menoleh ke arahku,
dan kami tertawa. Cukup keras untuk menyita perhatian dari yang lainnya. Kami
pun dihadiahi tatapan aneh dari mereka.
“Oke, oke. Belom
selesai. Jadi, sekarang siapa yang mau mengajukan diri sebagai pahlawan buat
mereka?” Sandy mengedarkan pandangan berkeliling, begitu juga denganku dan
Ernest.
Pandanganku
berhenti pada Tomi yang sepertinya menyadari posisinya sebagai yang terpilih.
Gue kembali menoleh ke arah Ernest dan mendapati tatapannya juga tertuju pada
Tomi. Kami saling bertukar cengiran, kedua alisnya naik. Kami kembali
memusatkan pandangan kami pada Tomi yang terlihat terpuruk di mejanya.
“Tomi,” panggil
kami dengan intonasi yang menjijikan. Tomi makin terpuruk mendengar namanya
kami sebut. Kami berdua tertawa lepas bahagia, begitu juga yang lain.
“Oke, selesai,
ya urusan kelompok. Dan, Tomi, gue turut prihatin, Tom,” kata Sandy dengan raut
wajah sedih yang dibuat-buat.
“Ya, ya, ya,”
gumam Tomi dibalik tangannya yang menutupi wajahnya di atas meja.
Kami semua
kontan tertawa. Kemudian Sandy kembali dengan tugasnya, sekarang ia tengah
membagi-bagikan bagian tugas pada masing-masing kelompok yang ajaibnya sudah
terbentuk.
Aku dan Ernest
masih terus tertawa, sementara Tomi masih sibuk dengan keterpurukannya
mendapatkan peran sebagai pahlawan yang menjadi korban. Tomi Fabiantoro adalah
teman baikku selain Ernest. Kami bertiga sering menghabiskan waktu istirahat
dengan mengobrol. Tomi adalah anak yang pintar, setelah Sandy, dan baik-baik.
Ia hampir tidak pernah berbuat kesalahan di sekolah. Dan maksudku hampir adalah
hampir, karena ia sempat beberapa kali terlambat masuk kelas akibat kupaksa
untuk menemaniku sarapan di kantin. Singkatnya, ia sahabatku yang pintar dan
baik-baik. Ya, sahabat Ernest juga.
Mereka sahabat
yang paling oke yang pernah kupunya. Kami saling melengkapi. Kalau butuh
suasana ramai dan menyenangkan suasana muram, serahkan pada Ernest. Kalau butuh
temat curhat yang akan serius menanggapi, serahkan pada Tomi. Kalau butuh
kalimat sok tahu, serahkan padaku. Kalau butuh tumbal, serahkan pada Tomi.
“Udah ah, Din,
capek,” ucap Ernest di sela-sela tawanya. Gue mengangguk. Namun kami masih
terus tertawa hingga setengah jam berikutnya.
Dan kembali
tertawa begitu melihat Tomi duduk di kursi di depan gue. Wajahnya datar dan
dingin, hampir mirip dengan Bu Darti, jadi kami berdua diam dengan teratur.
Mengatur napas baru mendengarkannya bicara.
“Lusa libur jadi
kita bikin ringkasan sama slide show
lusa. Di rumah gue. Soal kapan waktunya nanti gue kasih tau lagi.”
“Buset! Santai
aja dulu, Bro,” kataku.
“Mending ketawa
bareng kita aja dulu,” kata Ernest lalu mulai tertawa lagi. Aku mengikuti, dan
tak lama Tomi ikut tertawa.
Saat itu adalah saat di mana aku merasa bahagia. Saat di mana aku bisa tertawa lepas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar