“Pernahkah
terbersit di pikiranmu, atau pernahkah kau menanyakan apa arti dari hubungan
kita ini?”
Punggungku
terasa panas ketika pertanyaan itu terlontar dari perempuan di sebelahku. Angin
malam menerpa lembut, dingin menggigit kulitku yang tak tertutup jaket. Sangat
kontras.
Aku
menautkan jari-jari tanganku gelisah.
Apa
yang harus kukatakan?
“Kau
mendengarku, Dave? David?” perempuan itu menyentuh pergelangan tangaku,
mengguncangnya. Kurasakan kedua matanya menatapku. Tapi aku?
“Sore
sudah lama pergi, ayo kita pergi juga,” kataku. Aku bangkit berdiri, tak
mengindahkan jemarinya yang hampir tertaut di jemariku. Beberapa langkah
menjauh darinya, yang masih duduk sambil menatap punggungku, membuat rasa
bersalahku makin besar.
Yang kuperbuat selama
ini salah besar. Sekarang aku hanya tinggal menunggu puncak dari rasa
penyesalanku yang sudah mulai muncul ke permukaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar