Minggu, 17 April 2016

ICEMAN



Kau mulai bisa menggambarkan keadaanmu.
Rumput hijau di bawah telapak kakimu.
Langit kelabu sebagai atap tempatmu bernaung.
Terlalu berawan untuk memberi ruang pada matahari agar memamerkan sinarnya.
Tidak cukup berawan untuk menghadirkan hujan.
Tidak ada matahari, tidak ada hujan.

Tunggu. Bukan rumput. Hanya lantai beton berwarna abu-abu.
Langit tetap sama, kelabu. Mendung.
Orang-orang lalu-lalang di sekitarmu, membuat bayangan kabur.
Celoteh orang-orang di sekitarmu terdengar bagai dengungan lebah yang memekakkan telingamu.
Ya, dan bukan hijau tapi hanya kelabu.
Kau benci, tapi kau hanya diam.

Kau menatap langit kelabu yang membawa mendung bersamanya.
Kau bertanya, kenapa mendung saja dan tak kunjung hujan?
Sebernarnya sama seperti dirimu, sekarat tapi tak kunjung mati.
Kau tersenyum getir, hampir tertawa. Tawa khasmu, sarkastis.

Kau sadar.
Kau sekarat.

Kau memejamkan matamu, memberikan seluruh kekuatan indramu pada kulit putih pucatmu.
Hanya gelap yang mengisi indera pengelihatanmu.
Hanya dengungan lebah menyebalkan yang mengisi indera pendengaranmu.
Hanya kokain yang mengisi paru-paru serta darahmu.
Sejenak kemudian kau merasakan kristal dingin jatuh tepat di kelopak matamu yang terpejam.
Kau rasakan kristal itu menyatu dengan kulitmu, dan terus menjalar ke seluruh tubuhmu.
Yang kau lihat hanya kegelapan.
Yang kau rasakan hanya dingin.
Hanya kabut beku yang mengisi pikiranmu.
Kini, hatimu juga beku. Hanya berisi es, tak ada lagi yang lain.

Angin berembus semakin kencang dan semakin dingin yang kau rasakan pada seluruh kulitmu. Begitu pula dengan hatimu. Dingin.
Kau rasakan wajahmu memucat.
Putih.
Kini, kau bukan lagi abu-abu.
Bukan.
Kau putih.
Dingin.

Perlahan kau membuka matamu.
Kristal dingin mulai menyerbu dirimu, dan menyelubungi tubuhmu sebagai baju zirah. Melindungimu dari semua keabu-abuan.
Kau rasakan kau mulai hidup, di bawah dingin sebagai sumber kekuatanmu.
Kau menatap langit yang masih mendung, dan merasakan ia berpesan, “Kukirimkan dingin ini untukmu.”
Kembali kau memandang sekitarmu, lebah-lebah sekarat tapi tak kunjung mati.
Kau pun sekarat, tapi kau tak lagi abu-abu.
Dan kau tak boleh mati.
Karena, dunia tak boleh menang.


Yah, nggak sebagus yang lu buat sih. Gue juga masih amatir.
Sekali lagi, selamat ulang tahun, hmm teman? Hahaha.
Happy birthday, Iceman. And keep being green and lonely. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar