Senin, 15 April 2013

Tambah Satu


Kini hidupku terasa berbeda. Sangat berbeda.
Tambah satu orang yang masuk ke dalam kehidupanku sekarang. Artinya ada satu orang baru yang memungkinkan untukku memberitahu isi kehidupanku kepadanya. Begitu.
Tapi, masih terasa sulit bagiku.
Aku menyayanginya, mencintainya, dengan sepenuh hatiku. Aku yakin itu. Entah kenapa, tapi aku yakin.
Aku bahagia. Paling tidak itulah yang aku rasakan di hari pertama secara resmi ia masuk ke dalam hidupku.
Awan kelabu bersama badai yang sebelumnya menaungi hidupku hilang oleh terpaan kata-kata yang melayang terembus menuju telingaku, terbawa oleh angin dingin saat itu. Hidupku yang dahulu kelabu disertai hujan-hujan tangis yang menemaniku di setiap malamnya dengan perlahan tersentuh oleh sinar matanya. Dan, seperti yang sudah ditakdirkan kepada air dan sinar ketika mereka bersatu, pelangi muncul.
Pelangi muncul. Ya, pelangi. Warna-warni itu mencerminkan kebahagiaan yang tengah aku rasakan. Kebahagiaan yang berbeda dari kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah aku rasakan. Kebahagiaan yang didasari oleh perasaan lega yang amat luar biasa. Sebuah hadiah yang tanpa sadar sangat aku dambakan diberikan kepadaku.
Aku menangis dalam kebahagiaanku, dan pelangi itu masih di sana.
Malam menjadi sangat berbeda setelah aku mendapatkan hadiah indah itu. Tidak ada lagi tangis kesedihan yang menyiksa tidurku, tapi tangis bahagia yang sarat akan kesenangan. Pelangi itu masih di sana.
Malam selanjutnya aku masih menangis, tapi aku bahagia. Malam selanjutnya lagi masih sama, hingga malam-malam berikutnya, aku masih menangis. Aku tahu aku terlalu bahagia hingga air mata pun iri pada senyum.
Suatu malam benakku berbisik dalam tanya dengan desiran angin sebagai tumpangan. Apakah tangis bahagiamu akan abadi? Hatiku diam. Aku diam. Dan malam itu adalah kali pertama air mata muncul bukan atas dasar rasa irinya kepada senyum. Mataku terpejam. Sinar itu sedikit redup dan terasa jauh sekali. Pelangi itu hilang tanpa kata selamat tinggal. Tapi jejaknya tertangkap oleh mata hatiku.
Jejak itu menuntunku untuk menjemput kembali pelangi milikku.
Aku menyayangimu. Aku berbisik dalam diam, hatiku ikut berbisik mengulang kalimat tersebut.
Aku juga menyayangimu. Ia dan sinarnya membalas dalam bisikkannya. Memancing pelangiku lebih kuat.
Dengan air mata yang masih tersisa, dan sinarnya yang menyiramiku, pelangi datang dengan kecepatan yang sangat aku kagumi.
Dengan sadar, aku mengizinkan air mata menemani senyum kebahagiaanku untuk menelusuri kehidupan yang bertambah satu tokoh utama di dalamnya.
Dengan sadar, aku membiarkan dengan senang hati takdir berkonspirasi dengan keinginanku untuk terus memberikan hatiku padanya agar sianarnya abadi. Dan hanya untukku seorang.
Dengan sadar, aku berharap takdir tidak akan berubah.
Aku terus menangis dalam kebahagiaanku, berpasrahkan siraman sinar miliknya, dan menghasilkan pelangi indah yang menjadi payung utama dalam kehidupanku.
Tambah satu lagi dan kesempurnaan dapat terjamah.

Dia yang Menumpang Hujan


Hujan dengan sukses menggagalkan rencana indahku untuk mengakhiri rutinitasku dengan sebuah tidur lelap yang panjang. Sebuah hujan datang mengeroyok para mahkluk di bumi. Dan aku terkurung di sini. Mataku tak lepas dari tetes hujan yang turun deras dengan pandangan sarkastik yang penuh. Aku benci hujan.

Entah sudah yang keberapa kali aku mendengus dan mengentakkan kaki di lantai halte busway ini. Hujan masih enggan pergi. Baginya aku hanyalah sosok yang tak pantas untuk diindahkan bahkan disentuh. Itu jelas sekali tersirat dari alasan hujan turun tepat sebelum aku keluar dari halte.

Aku menyandarkan punggungku ke dinding kaca di belakangku. Aku hanya sendiri di bangku besi ini. Mataku terpejam, berusaha menjalin hubungan baik dengan hujan. Aku mulai dengan suara. Dengan terpejamnya mataku, suara hujan dengan bebas dan jelas menyeruak masuk ke dalam telingaku. Deru bus yang singgah untuk menurunkan penumpang ikut singgah ke dalam telingaku. Tidak ada yang naik, karena hanya ada aku di halte ini. Penumpang-penumpang yang baru saja turun mengeluh atas hujan, dan suaranya menemani hujan yang masuk ke dalam indera pendengaranku.

"Sial!"

Begitu pula suara itu.

 Aku membuka mataku untuk mengetahui siapa yang berteriak, dan mendapati seorang laki-laki seumuran denganku berdiri dengan sebuah gulungan kertas yang basah di ambang pintu halte yang otomatis menutup. Ia menoleh sesaat sebelum aku memejamkan mataku lagi. Dan hanya butuh waktu sesingkat itu untuk merekam dan menyimpan dengan rapi potret wajahnya.

Seperti radio rusak, benakku pun rusak karena terus mengulang rekaman potret wajahnya malam ini. Hujan kembali turun dengan riang. Sedikit berbeda kali ini karena aku tak menghujatnya. Aku suka hujan.

Seperti kata orang, hujan turun membawa berkah. Dirinya adalah berkah yang diberikan hujan. Aku suka hujan karena aku suka berkah, dan aku suka dirinya. Dirinya yang menumpang hujan.

Menunggu hujan datang adalah rutinitas baru. Menunggunya adalah hobi baruku.

Pelangi muncul lebih cepat di duniaku. Yang kutunggu muncul pada jam yang sama seperti kemarin. Aku menatapnya singkat lalu memejamkan mataku bersyukur, tanpa perasaan ingin tahu apakah dirinya menatapku balik seperti kemarin. Aku suka kemarin. Aku suka hari ini. Besok? Lusa? Kuharap,

Aku suka banyak hal karenanya. Dia adalah sesuatu yang positif bagiku. Bagaimana seperti seharusny, suatu berkah memang positif. Sesuatu yang positif adalah baik.

Agak lama setelah hujan dan dirinya pergi aku pun pergi. Dan seperti langit, aku pun punya garis lengkung di wajahku. Itu hal positif, bukan?

000

Besoknya hari berjalan seperti yang kuharapkan. Lusa pun sama. Terhitung sampai sekarang sudah tepat sebulan aku menunggunya di tempat dan jam yang sama, dan dia selalu datang.

Perasaanku berkecamuk ketika hujan yang tidak mengantarkannya untuk singgah. Kenapa? Ada apa?

Takut. Aku takut.

Ada banyak tanda tanya yang muncul saat itu juga. Detak jantungku berdegup kencang tanpa ada suara hujan yang menyamarkan. Mataku tak lagi terpejam, melainkan menatap matanya yang juga menatapku. Beberapa saat terasa sepi dan kosong. Hanya beberapa saat dan semua kembali normal. Hatiku terketuk oleh sebuah palu berukuran besar yang tak kasat mata seiring dengan langkah kakinya yang pergi meninggalkan halte, tempat favoritku.

Hari ini berbeda. Aku takut sesuatu yang berbeda. Hari ini berbeda. Aku memejamkan mataku dan menangis. Aku harap besok kembali seperti semula.

000

Besoknya ketakutanku berbuah kenyataan pahit. Hujan tak lagi mengantarnya padaku, melainkan sosok lain yang hidup. Hatiku remuk melihat genggaman itu.

Seseorang, bukan hujan, telah memilikinya.

Aku memjamkan mataku, aku takut dengan kenyataan bahwa dirinya yak lagi menatapku sebelum pergi.

Kenyataan melahapku dengan telak, membuatku sesak napas. Dan kuharap aku berhenti bernapas.

Harapanku tak terkabul. Esok hari kudapati diriku memijak lantai halte yang sempat menjadi tempat favoritku. Hari yang juga berbeda. Tempatku biasa duduk telah dihuni oleh orang lain. Potret wajah penumpang hujan itu masih tersimpan rapi jadi aku tahu bahwa dirinyalah orang lain itu.

Jantungku berhenti berdegup. Otakku berhenti bekerja. Aku terpaku melihat dirinya bangkit berdiri dan berjalan ke arahku. Pemilik barunya tidak ada. Juga tidak ada hujan. Dirinya datang sendiri.

Sebuah gulungan kertas dengan pita merah yang mengikat gulungan tersebut diulurkan ke arahku. Secarik kertas kecil terikat di pitanya.

"Terima kasih telah menungguku selama ini. Maaf telah membuatmu kecewa. Kau tahu? Kau bisa memilikiku sebagai hujan."
Dari seseorang yang suka wajah dengan mata terpejammu, Mario.

Aku Suka Kamu


“Aku suka kamu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan padanya. Itu adalah kalimat terakhir yang menutup semua obrolan panjang kami. Itu adalah kalimat yang menjadi akhir dari hubungan kami. Hubungan baik kami.
Pada Jumat sore satu tahun yang lalu, di saat kami tengah melakukan ritual rutin kami: mengobrol sampai tawa kami mencapai puncaknya. Semua berjalan baik-baik saja sebelum kalimat itu pada akhirnya aku ucapkan padanya. Kalimat yang sudah sejak dua tahun yang lalu ingin sekali aku ucapkan padanya. Dan bagaimana aku yang telah begitu tidak sabar sekaligus merasakan degup kencang di jantungku pada detik-detik sebelum aku mengucapkannya. Dengan penuh percaya diri aku mengucapkannya, sesaat setelah tawa kami mereda. Tanpa gagap. Tegas.
Namun, sorot matanya begitu kalimat itu terlontar dari mulutku langsung berubah. Tidak ada lagi jejak tawa di matanya, di raut wajahnya. Aku seketika langsung mengatupkan rahangku rapat-rapat.
Aku sadar. Aku sadar bahwa kalimat itu tidak terdiri dan tidak tersusun dari kata-kata yang benar dan tidak seharusnya aku ucapkan. Tapi, aku sadar bahwa itulah bagaimana perasaanku padanya. Setelah semua yang telah aku dan dia lakukan bersama. Setelah banyak topik yang telahaku dan dia obrolkan. Setelah banyak suka dan duka yang telah kami saling bagi.
Aku salah.
Dan aku menyesal.
Air mataku akan selalu jatuh begitu ingatanitu muncul,  tentangnya yang tidak lagi menatapku beberapa jenak setelah aku mengucapkan kalimat itu padanya. Tentangnya yang kemudian berdiri tanpa mengulurkan tangannya untuk menuntunku berdiri seperti yang biasa ia lakukan ketika kami ingin pulang. Tentangnya yang tanpa ragu melangkahkan kakinya menjauh dariku yang masih duduk terpaku menyesali ucapanku. Tentangnya yang tidak lagi menoleh ke arahku setelahnya, bukan seperti dulu, dia yang selalu mengawasiku sampai hilang dibalik pintu rumahku baru kemudian berjalan pulang menuju rumhanya.
Aku salah.
Hari ini adalah tepat satu tahun dimana kalimat itu terucap. Aku melihatnya dari jarak pandang yang cukup tanpa harus diketahui olehnya. Senyumku terulas. Dia baik-baik saja, duduk di bawah sebuah pohon paling rindang di kampus yang selalu menjadi tempat kami menertawakan suatu hal yang tidak penting. Tiba-tiba pandanganku kabur, air mata sudah memenuhi pelupuk mataku dan setetes demi setetes air mataku jatuh ke pipiku.
Aku rindu dirinya.
Aku rindu duduk di sebelahnya.
Hari esok datang, begitu juga dengan lusa, minggu, dani rasa penyesalanku makin bertambah setiap harinya. Kesedihanku tidak akan pernah hilang. Tidak akan.
Dia masih akan selalu duduk di bawah pohon rindang itu, dna aku masih akan duduk di bangku besi dengan jarak yang cukup untuk melihatnya tanpa ketahuan. Komik di tangannya tertutup, kemudian kepalanya menengadah ke atas menerawang menembus daun-daun yang hampir rapat di atasnya. Aku tahu kedua matanya tengah terpejam. Cukup lama iya melakukannya, sampai tangannya merogoh saku celananya. Kepalanya tertunduk menatap layar ponselnya, sementara ibu jarinya sibuk bermain di atas keypad ponselnya.
Drrt... Drrt... 
From: Tora
Come here. Aku bosan duduk sendiri sementara kamu mengawasiku dari kejauhan. Aku rindu padamu, dan satu tahun lebih cukup untuk membuatku yakin bahwa aku menyayangimu, Soraya.
Ia, Tora, mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya ke arahku begitu juga aku. Senyumnya terulas, dan aku pun membalas senyumnya. Aku membalas pesan singkatnya sesaat sebelum aku menghampirinya.
To: Tora
Ada banyak hal yang dapat kita tertawakan seharian penuh.