Senin, 15 April 2013

Dia yang Menumpang Hujan


Hujan dengan sukses menggagalkan rencana indahku untuk mengakhiri rutinitasku dengan sebuah tidur lelap yang panjang. Sebuah hujan datang mengeroyok para mahkluk di bumi. Dan aku terkurung di sini. Mataku tak lepas dari tetes hujan yang turun deras dengan pandangan sarkastik yang penuh. Aku benci hujan.

Entah sudah yang keberapa kali aku mendengus dan mengentakkan kaki di lantai halte busway ini. Hujan masih enggan pergi. Baginya aku hanyalah sosok yang tak pantas untuk diindahkan bahkan disentuh. Itu jelas sekali tersirat dari alasan hujan turun tepat sebelum aku keluar dari halte.

Aku menyandarkan punggungku ke dinding kaca di belakangku. Aku hanya sendiri di bangku besi ini. Mataku terpejam, berusaha menjalin hubungan baik dengan hujan. Aku mulai dengan suara. Dengan terpejamnya mataku, suara hujan dengan bebas dan jelas menyeruak masuk ke dalam telingaku. Deru bus yang singgah untuk menurunkan penumpang ikut singgah ke dalam telingaku. Tidak ada yang naik, karena hanya ada aku di halte ini. Penumpang-penumpang yang baru saja turun mengeluh atas hujan, dan suaranya menemani hujan yang masuk ke dalam indera pendengaranku.

"Sial!"

Begitu pula suara itu.

 Aku membuka mataku untuk mengetahui siapa yang berteriak, dan mendapati seorang laki-laki seumuran denganku berdiri dengan sebuah gulungan kertas yang basah di ambang pintu halte yang otomatis menutup. Ia menoleh sesaat sebelum aku memejamkan mataku lagi. Dan hanya butuh waktu sesingkat itu untuk merekam dan menyimpan dengan rapi potret wajahnya.

Seperti radio rusak, benakku pun rusak karena terus mengulang rekaman potret wajahnya malam ini. Hujan kembali turun dengan riang. Sedikit berbeda kali ini karena aku tak menghujatnya. Aku suka hujan.

Seperti kata orang, hujan turun membawa berkah. Dirinya adalah berkah yang diberikan hujan. Aku suka hujan karena aku suka berkah, dan aku suka dirinya. Dirinya yang menumpang hujan.

Menunggu hujan datang adalah rutinitas baru. Menunggunya adalah hobi baruku.

Pelangi muncul lebih cepat di duniaku. Yang kutunggu muncul pada jam yang sama seperti kemarin. Aku menatapnya singkat lalu memejamkan mataku bersyukur, tanpa perasaan ingin tahu apakah dirinya menatapku balik seperti kemarin. Aku suka kemarin. Aku suka hari ini. Besok? Lusa? Kuharap,

Aku suka banyak hal karenanya. Dia adalah sesuatu yang positif bagiku. Bagaimana seperti seharusny, suatu berkah memang positif. Sesuatu yang positif adalah baik.

Agak lama setelah hujan dan dirinya pergi aku pun pergi. Dan seperti langit, aku pun punya garis lengkung di wajahku. Itu hal positif, bukan?

000

Besoknya hari berjalan seperti yang kuharapkan. Lusa pun sama. Terhitung sampai sekarang sudah tepat sebulan aku menunggunya di tempat dan jam yang sama, dan dia selalu datang.

Perasaanku berkecamuk ketika hujan yang tidak mengantarkannya untuk singgah. Kenapa? Ada apa?

Takut. Aku takut.

Ada banyak tanda tanya yang muncul saat itu juga. Detak jantungku berdegup kencang tanpa ada suara hujan yang menyamarkan. Mataku tak lagi terpejam, melainkan menatap matanya yang juga menatapku. Beberapa saat terasa sepi dan kosong. Hanya beberapa saat dan semua kembali normal. Hatiku terketuk oleh sebuah palu berukuran besar yang tak kasat mata seiring dengan langkah kakinya yang pergi meninggalkan halte, tempat favoritku.

Hari ini berbeda. Aku takut sesuatu yang berbeda. Hari ini berbeda. Aku memejamkan mataku dan menangis. Aku harap besok kembali seperti semula.

000

Besoknya ketakutanku berbuah kenyataan pahit. Hujan tak lagi mengantarnya padaku, melainkan sosok lain yang hidup. Hatiku remuk melihat genggaman itu.

Seseorang, bukan hujan, telah memilikinya.

Aku memjamkan mataku, aku takut dengan kenyataan bahwa dirinya yak lagi menatapku sebelum pergi.

Kenyataan melahapku dengan telak, membuatku sesak napas. Dan kuharap aku berhenti bernapas.

Harapanku tak terkabul. Esok hari kudapati diriku memijak lantai halte yang sempat menjadi tempat favoritku. Hari yang juga berbeda. Tempatku biasa duduk telah dihuni oleh orang lain. Potret wajah penumpang hujan itu masih tersimpan rapi jadi aku tahu bahwa dirinyalah orang lain itu.

Jantungku berhenti berdegup. Otakku berhenti bekerja. Aku terpaku melihat dirinya bangkit berdiri dan berjalan ke arahku. Pemilik barunya tidak ada. Juga tidak ada hujan. Dirinya datang sendiri.

Sebuah gulungan kertas dengan pita merah yang mengikat gulungan tersebut diulurkan ke arahku. Secarik kertas kecil terikat di pitanya.

"Terima kasih telah menungguku selama ini. Maaf telah membuatmu kecewa. Kau tahu? Kau bisa memilikiku sebagai hujan."
Dari seseorang yang suka wajah dengan mata terpejammu, Mario.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar