Kini hidupku
terasa berbeda. Sangat berbeda.
Tambah
satu orang yang masuk ke dalam kehidupanku sekarang. Artinya ada satu orang
baru yang memungkinkan untukku memberitahu isi kehidupanku kepadanya. Begitu.
Tapi,
masih terasa sulit bagiku.
Aku
menyayanginya, mencintainya, dengan sepenuh hatiku. Aku yakin itu. Entah
kenapa, tapi aku yakin.
Aku
bahagia. Paling tidak itulah yang aku rasakan di hari pertama secara resmi ia
masuk ke dalam hidupku.
Awan
kelabu bersama badai yang sebelumnya menaungi hidupku hilang oleh terpaan
kata-kata yang melayang terembus menuju telingaku, terbawa oleh angin dingin
saat itu. Hidupku yang dahulu kelabu disertai hujan-hujan tangis yang
menemaniku di setiap malamnya dengan perlahan tersentuh oleh sinar matanya.
Dan, seperti yang sudah ditakdirkan kepada air dan sinar ketika mereka bersatu,
pelangi muncul.
Pelangi
muncul. Ya, pelangi. Warna-warni itu mencerminkan kebahagiaan yang tengah aku
rasakan. Kebahagiaan yang berbeda dari kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah aku
rasakan. Kebahagiaan yang didasari oleh perasaan lega yang amat luar biasa.
Sebuah hadiah yang tanpa sadar sangat aku dambakan diberikan kepadaku.
Aku
menangis dalam kebahagiaanku, dan pelangi itu masih di sana.
Malam
menjadi sangat berbeda setelah aku mendapatkan hadiah indah itu. Tidak ada lagi
tangis kesedihan yang menyiksa tidurku, tapi tangis bahagia yang sarat akan
kesenangan. Pelangi itu masih di sana.
Malam
selanjutnya aku masih menangis, tapi aku bahagia. Malam selanjutnya lagi masih
sama, hingga malam-malam berikutnya, aku masih menangis. Aku tahu aku terlalu
bahagia hingga air mata pun iri pada senyum.
Suatu
malam benakku berbisik dalam tanya dengan desiran angin sebagai tumpangan. Apakah tangis bahagiamu akan abadi? Hatiku
diam. Aku diam. Dan malam itu adalah kali pertama air mata muncul bukan atas
dasar rasa irinya kepada senyum. Mataku terpejam. Sinar itu sedikit redup dan
terasa jauh sekali. Pelangi itu hilang tanpa kata selamat tinggal. Tapi
jejaknya tertangkap oleh mata hatiku.
Jejak
itu menuntunku untuk menjemput kembali pelangi milikku.
Aku menyayangimu. Aku
berbisik dalam diam, hatiku ikut berbisik mengulang kalimat tersebut.
Aku juga menyayangimu. Ia
dan sinarnya membalas dalam bisikkannya. Memancing pelangiku lebih kuat.
Dengan
air mata yang masih tersisa, dan sinarnya yang menyiramiku, pelangi datang
dengan kecepatan yang sangat aku kagumi.
Dengan
sadar, aku mengizinkan air mata menemani senyum kebahagiaanku untuk menelusuri
kehidupan yang bertambah satu tokoh utama di dalamnya.
Dengan
sadar, aku membiarkan dengan senang hati takdir berkonspirasi dengan
keinginanku untuk terus memberikan hatiku padanya agar sianarnya abadi. Dan
hanya untukku seorang.
Dengan
sadar, aku berharap takdir tidak akan berubah.
Aku
terus menangis dalam kebahagiaanku, berpasrahkan siraman sinar miliknya, dan
menghasilkan pelangi indah yang menjadi payung utama dalam kehidupanku.
Tambah satu lagi dan
kesempurnaan dapat terjamah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar