“Aku suka kamu.”
Itu adalah
kalimat terakhir yang aku ucapkan padanya. Itu adalah kalimat terakhir yang
menutup semua obrolan panjang kami. Itu adalah kalimat yang menjadi akhir dari
hubungan kami. Hubungan baik kami.
Pada Jumat sore
satu tahun yang lalu, di saat kami tengah melakukan ritual rutin kami:
mengobrol sampai tawa kami mencapai puncaknya. Semua berjalan baik-baik saja
sebelum kalimat itu pada akhirnya aku ucapkan padanya. Kalimat yang sudah sejak
dua tahun yang lalu ingin sekali aku ucapkan padanya. Dan bagaimana aku yang
telah begitu tidak sabar sekaligus merasakan degup kencang di jantungku pada
detik-detik sebelum aku mengucapkannya. Dengan penuh percaya diri aku
mengucapkannya, sesaat setelah tawa kami mereda. Tanpa gagap. Tegas.
Namun, sorot
matanya begitu kalimat itu terlontar dari mulutku langsung berubah. Tidak ada
lagi jejak tawa di matanya, di raut wajahnya. Aku seketika langsung mengatupkan
rahangku rapat-rapat.
Aku sadar. Aku
sadar bahwa kalimat itu tidak terdiri dan tidak tersusun dari kata-kata yang
benar dan tidak seharusnya aku ucapkan. Tapi, aku sadar bahwa itulah bagaimana
perasaanku padanya. Setelah semua yang telah aku dan dia lakukan bersama.
Setelah banyak topik yang telahaku dan dia obrolkan. Setelah banyak suka dan
duka yang telah kami saling bagi.
Aku salah.
Dan aku
menyesal.
Air mataku akan
selalu jatuh begitu ingatanitu muncul,
tentangnya yang tidak lagi menatapku beberapa jenak setelah aku
mengucapkan kalimat itu padanya. Tentangnya yang kemudian berdiri tanpa
mengulurkan tangannya untuk menuntunku berdiri seperti yang biasa ia lakukan
ketika kami ingin pulang. Tentangnya yang tanpa ragu melangkahkan kakinya
menjauh dariku yang masih duduk terpaku menyesali ucapanku. Tentangnya yang
tidak lagi menoleh ke arahku setelahnya, bukan seperti dulu, dia yang selalu
mengawasiku sampai hilang dibalik pintu rumahku baru kemudian berjalan pulang
menuju rumhanya.
Aku salah.
Hari ini adalah
tepat satu tahun dimana kalimat itu terucap. Aku melihatnya dari jarak pandang
yang cukup tanpa harus diketahui olehnya. Senyumku terulas. Dia baik-baik saja,
duduk di bawah sebuah pohon paling rindang di kampus yang selalu menjadi tempat
kami menertawakan suatu hal yang tidak penting. Tiba-tiba pandanganku kabur,
air mata sudah memenuhi pelupuk mataku dan setetes demi setetes air mataku
jatuh ke pipiku.
Aku rindu
dirinya.
Aku rindu duduk
di sebelahnya.
Hari esok
datang, begitu juga dengan lusa, minggu, dani rasa penyesalanku makin bertambah
setiap harinya. Kesedihanku tidak akan pernah hilang. Tidak akan.
Dia masih akan
selalu duduk di bawah pohon rindang itu, dna aku masih akan duduk di bangku
besi dengan jarak yang cukup untuk melihatnya tanpa ketahuan. Komik di
tangannya tertutup, kemudian kepalanya menengadah ke atas menerawang menembus
daun-daun yang hampir rapat di atasnya. Aku tahu kedua matanya tengah terpejam.
Cukup lama iya melakukannya, sampai tangannya merogoh saku celananya. Kepalanya
tertunduk menatap layar ponselnya, sementara ibu jarinya sibuk bermain di atas
keypad ponselnya.
Drrt... Drrt...
From: Tora
Come here. Aku bosan duduk sendiri sementara kamu
mengawasiku dari kejauhan. Aku rindu padamu, dan satu tahun lebih cukup untuk
membuatku yakin bahwa aku menyayangimu, Soraya.
Ia, Tora,
mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya ke arahku begitu juga aku.
Senyumnya terulas, dan aku pun membalas senyumnya. Aku membalas pesan
singkatnya sesaat sebelum aku menghampirinya.
To: Tora
Tidak ada komentar:
Posting Komentar