Senin, 15 April 2013

Aku Suka Kamu


“Aku suka kamu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan padanya. Itu adalah kalimat terakhir yang menutup semua obrolan panjang kami. Itu adalah kalimat yang menjadi akhir dari hubungan kami. Hubungan baik kami.
Pada Jumat sore satu tahun yang lalu, di saat kami tengah melakukan ritual rutin kami: mengobrol sampai tawa kami mencapai puncaknya. Semua berjalan baik-baik saja sebelum kalimat itu pada akhirnya aku ucapkan padanya. Kalimat yang sudah sejak dua tahun yang lalu ingin sekali aku ucapkan padanya. Dan bagaimana aku yang telah begitu tidak sabar sekaligus merasakan degup kencang di jantungku pada detik-detik sebelum aku mengucapkannya. Dengan penuh percaya diri aku mengucapkannya, sesaat setelah tawa kami mereda. Tanpa gagap. Tegas.
Namun, sorot matanya begitu kalimat itu terlontar dari mulutku langsung berubah. Tidak ada lagi jejak tawa di matanya, di raut wajahnya. Aku seketika langsung mengatupkan rahangku rapat-rapat.
Aku sadar. Aku sadar bahwa kalimat itu tidak terdiri dan tidak tersusun dari kata-kata yang benar dan tidak seharusnya aku ucapkan. Tapi, aku sadar bahwa itulah bagaimana perasaanku padanya. Setelah semua yang telah aku dan dia lakukan bersama. Setelah banyak topik yang telahaku dan dia obrolkan. Setelah banyak suka dan duka yang telah kami saling bagi.
Aku salah.
Dan aku menyesal.
Air mataku akan selalu jatuh begitu ingatanitu muncul,  tentangnya yang tidak lagi menatapku beberapa jenak setelah aku mengucapkan kalimat itu padanya. Tentangnya yang kemudian berdiri tanpa mengulurkan tangannya untuk menuntunku berdiri seperti yang biasa ia lakukan ketika kami ingin pulang. Tentangnya yang tanpa ragu melangkahkan kakinya menjauh dariku yang masih duduk terpaku menyesali ucapanku. Tentangnya yang tidak lagi menoleh ke arahku setelahnya, bukan seperti dulu, dia yang selalu mengawasiku sampai hilang dibalik pintu rumahku baru kemudian berjalan pulang menuju rumhanya.
Aku salah.
Hari ini adalah tepat satu tahun dimana kalimat itu terucap. Aku melihatnya dari jarak pandang yang cukup tanpa harus diketahui olehnya. Senyumku terulas. Dia baik-baik saja, duduk di bawah sebuah pohon paling rindang di kampus yang selalu menjadi tempat kami menertawakan suatu hal yang tidak penting. Tiba-tiba pandanganku kabur, air mata sudah memenuhi pelupuk mataku dan setetes demi setetes air mataku jatuh ke pipiku.
Aku rindu dirinya.
Aku rindu duduk di sebelahnya.
Hari esok datang, begitu juga dengan lusa, minggu, dani rasa penyesalanku makin bertambah setiap harinya. Kesedihanku tidak akan pernah hilang. Tidak akan.
Dia masih akan selalu duduk di bawah pohon rindang itu, dna aku masih akan duduk di bangku besi dengan jarak yang cukup untuk melihatnya tanpa ketahuan. Komik di tangannya tertutup, kemudian kepalanya menengadah ke atas menerawang menembus daun-daun yang hampir rapat di atasnya. Aku tahu kedua matanya tengah terpejam. Cukup lama iya melakukannya, sampai tangannya merogoh saku celananya. Kepalanya tertunduk menatap layar ponselnya, sementara ibu jarinya sibuk bermain di atas keypad ponselnya.
Drrt... Drrt... 
From: Tora
Come here. Aku bosan duduk sendiri sementara kamu mengawasiku dari kejauhan. Aku rindu padamu, dan satu tahun lebih cukup untuk membuatku yakin bahwa aku menyayangimu, Soraya.
Ia, Tora, mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya ke arahku begitu juga aku. Senyumnya terulas, dan aku pun membalas senyumnya. Aku membalas pesan singkatnya sesaat sebelum aku menghampirinya.
To: Tora
Ada banyak hal yang dapat kita tertawakan seharian penuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar