Dari kejauhan kau akan melihat sesosok manusia, melangkah dengan gontai. Di tengah keabu-abuan ini sosoknya terlihat sangat hitam, pekat. Tanpa celah.
Aku, adalah sosok itu.
Waktu dan memori telah mengubahku menjadi hitam pekat, dan dunia di sekelilingku menjadi abu-abu. Sangat kelabu. Sangat kelam.
Tak ada tujuan, kakiku tetap melangkah. Tak ada tujuan, aku terus tersesat, di duniaku sendiri. Tidak, aku bahkan tidak mengenali duniaku lagi.
Kejujuran menghancurkan. Ya, dalam hidupku hal baiklah yang merusak sampai yang kuharapkan dalam hidupku kini hanyalah hal buruk.
Kuberi tahu, duniaku sangatlah sempit sekarang. Hanya berupa lorong berwarna abu-abu dengan memori-memori terpasang di bagian kanan dan kiri. Tinggallah pilihanku untuk menoleh atau
terus menatap ke depan. Pilihanku adalah jalanan aspal yang kulewati. Aku terus berjalan.
Langkahku terhenti. Ada suatu sosok di sana.
Aku bisa melihatnya.
Aku bisa merasakan keberadaannya.
Aku bisa melihatnya kesakitan.
Aku bisa merasakan sakitnya.
Aku bisa melihat semuanya.
Aku bisa lihat itu saat bercermin.
Aku menghela napas, kemudian kembali berjalan. Bukan lagi lorong abu-abu penuh memori, tak tau di mana aku tengah berada. Kurasa aku hanya perlu terus berjalan,
membiarkan diri terbawa takdir. Ya, takdir, pilihan terakhirku. Biarkan takdir yang mengarahkan langkahku. Aku tak peduli lagi jalan cerita apa yang ditakdirkan untuk diriku, sungguh aku tak peduli lagi. Berikan aku sebuah
pena agar aku dapat meberikan titik pada ceritaku, agar semua berakhir. Tak perlu akhir bahagia, aku hanya perlu ini berakhir.
Aku menghela napas lagi.
Aspal yang kupijak perlahan berubah menjadi rumput dan angin mulai menerpa kulit. Langkahku kembali terhenti. Langit masih kelabu, membawa mendung bersamanya. Masih abu-abu, meski
tanpa lorong menyesakkan. Langit tak cukup berawan untuk membuat hujan, tapi cukup berawan untuk membuat duniaku semakin redup. Akankah pelangi tetap hadir meski tanpa hujan?
Ya, aku berharap sesuatu hal baik terjadi padaku sekarang.
Kupejamkan mataku, dan kurasakan cairan dingin jatuh di wajahku. Tetes demi tetes jatuh menyerangku, tapi aku tersenyum. Belum pernah aku merasa bahagia hanya karena hujan. Perlahan
seiring dengan terbukanya mataku, tetes-tetesan mulai ikut berhenti. Sebuah pelangi di sana, sangat indah. Dan, di sana, di ujung sana berdiri sebuah pohon yang menaungi sebuah sosok. Tanpa sadar aku kembali melangkah.
Di sanakah takdirku?
Kalau iya, tolong jangan beri aku pena. Aku perlu pastikan ceritaku berakhir bahagia terlebih dahulu.
Masih abu-abu, memang. Tapi tak ada lagi lorong kemalangan. Jangan beri aku pena, beri aku kuas dan akan kulukis kisahku sendiri. Dengan apa? Tentu saja dengan pelangi yang di sana
itu.
Terima kasih, hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar