Kamis, 02 Oktober 2014

Kentut dan Closet

Kapan sih kalian merasa pengen banget kentut? Saat mules? Yeh semuanya juga begitu kali. Gue juga kalo mules bawaannya pengen banget kentut, kalau belum bisa punya kesempatan buat pup. Tapi, selain saat lagi mules, gue juga bakalan ngerasa pengen kentut setelah wudhu. Cobaan banget. Gue pernah diceritain nyokap di suatu siang yang sangat terik dan mengundang peluh untuk berpesta pora. Nyokap cerita, "Masa Bapak tadi subuh, kan abis wudhu tuh terus pake sarung terus gelar alas, terus bukannya langsung solat malah muter-muter aja tuh. Kan Mama tanya, 'Ngapain sih muter-muter, bukannya solat.', terus jawabnya apaan coba?"

"Apaan?" tanya gue, penasaran juga.

"Katanya pengen kentut," jawab Nyokap sambil ketawa. Gue ikut ketawa.

Kalo kalian yang lagi baca ini nggak ketawa, gue ngerti. Tapi sumpah saat itu saat diceritain nyokap gue itu lucu bangetttttttttt.

Hahaha :'( masih nggak lucu juga ya? :(

Oke.

Beberapa kali gue juga ngerasain setelah wudhu gue juga ngerasa pengen kentut bawaannya. Makanya abis itu gue langsung buru-buru solat biar nggak terlanjur kentut.

Selain setelah wudhu, gue juga sering banget ngerasa pengen kentut saat berada di ruang AC. Berhubung di rumah gue nggak pake AC, jadi tempat-tempat ber-AC yang sering gue kunjungi dan sering gue kentutin seperti misalnya ruang kelas di kampus (biasanya pas pagi), atau bahkan di bus TransJakarta yang warna oren atau yang baru dan masih mulus itu (biasanya sore). Kalo di ruang kelas sih jarang, palingan kalo cuma ada beberapa orang di kelas, yaaah misalnya 40 oranganlah. Selain di ruang kelas di kampus, gue juga pernah kentut di bus TransJakarta, biasanya sih pas gue lagi berdiri. Untung di bis berdirinya itu belakang-belakangan dan jadi ada penghalang antara yang duduk sama pantat gue jadinya mereka-mereka yang duduk nggak akan tercium aroma kentut gue secara langsung. Jadi, gue aman. Lagian di bis juga cuma ada larangan dilarang makan, minum, dan ngerokok, sama anjuran kasih tempat duduk untuk manula, wanita hamil, atau yang lagi sakit. Nggak ada larangan untuk kentut. Dan lagian juga orang-orang pada pake masker.

Pokoknya gue aman.

Lagian juga kalo misalkan kita nggak bisa kentut kan bisa jadi malah kita berpenyakit.

Lebih baik kentut daripada bayar obat dan dokter.

Nah, kalo kita ngomongin kentut dan mules, pasti kita juga akan ngomongin closet.

Gue cuma bakalan cerita sedikit soal closet.

Bagi gue closet itu sebuah tempat ajaib yang selalu gue tuju, entah di rumah, di sekolah, di kampus, di mekdi, di mall, atau di masjid. Closet juga gue cari entah saat pagi, siang, sore, malam, atau dini hari. Kapan pun gue akan cari toilet, dan di mana pun gue berada. Saat di mall, gue akan cari keberadaan toilet dulu supaya besok-besok gue akan mudah cari toilet kalau datang ke mall itu lagi.

Bagi gue juga, closet adalah awal. Saat hari libur itu biasanya males banget ngapa-ngapain, yang ada cuma bangun tidur, makan, tidur, makan, tidur, makan. Udah. Nah, kalo gue mules saat hari libur (misalnya), pasti setelah gue pup gue bakalan waras. Biasanya gue pup sambil baca novel, jadi setelah pup gue akan lanjutin baca novel di kamar. Terus gue bakalan mulai berimajinasi sendiri untuk selanjutnya gue buat jadi tulisan gue sendiri. Tapi sampai sekarang juga hampir semua tulisan gue nggak pernah selesai sampai tamat, selalu gantung. Maksudnya gantung di sini itu ya emang nggak ada lanjutannya karena gue mulai bosen atau malah kepikiran ide lain. Gue masih belum bisa untuk combine ide0ide baru yang muncul saat lagi nulis untuk gue campur ke tulisan itu. Susah, tapi lagi gue coba.

Closet bikin gue waras. Iya, kayak misalnya gue bisa mulai untuk beres-beres lemari buku gue yang berantakan bangetttttt. Tapi setiap beres-beres lemari buku pasti nggak akan selesai karena barang-barangnya ternyata terlalu banyak dan pada akhirnya gue cari kardus sepatu terus gue masukin situ semua terus gue udahin beresin lemari bukunya.

Udah kayaknya nggak ada lagi. Gue bingung mau tulis apa lagi.

Bye :*

XOXO

Minggu, 28 September 2014

CARA MENYELESAIKAN PR

PR, Pekerjaan Rumah, bagi gue adalah sebuah nina bobo yang sangat efektif. PR bagi gue adalah sebuah pengganggu ketenangan hidup. PR juga bagi gue adalah sebuah awal dari banyak hal.

Bagaimana awal mula PR muncul?

Pada awalnya kita lahir ke dunia ini dengan menjerit 'oek' yang disetai tangisan. Ya, sejak lahir kita secara tidak diketahui bagaimana caranya kita tahu bahwa akan ada PR di dunia ini. Semacam firasat buruk. Karena kita dilahirkan belum mampu berbicara dengan fasih, maka kita pun hanya menjerit sambil menangis, bukannya malah curhat ke temen. Lagian juga yang kita lihat pertama kali saat lahir kan suster, atau bidan, atau dokter, atau siapa pun yang bantu mama kita melahirkan kita. Masa iya kita curhat ke mereka, nanti kalo mereka malah cerita-cerita ke bayi-bayi lain yang mereka bantu lahirin gimana? Kan malu u,u

Setelah lahir, kita akan mulai belajar melakukan banyak hal, seperti berbicara, duduk, berjalan, sampai berlari. Bukan jenis berlari yang memungkinkan kita untuk lari dari kenyataan, bukan. Sama sekali bukan. Tapi berlari yang mengakibatkan kita berkeringat, rambut lepek, muka lepek, badan bau, semuanya jelek.

Kita mahir berlari, maka kita pun merasa butuh rival yang setara. Maka  kita pun butuh suatu tempat di mana rival kita yang setara itu berkumpul: Taman Kanak-kanak.

Di sinilah semua berawal.

Di Taman Kanak-kanak kita mulai belajar hal lain, seperti bernyanyi, menggambar, mewarnai, dan menulis.

Denger baik-baik, ya.

Waktu kita untuk berada di Taman Kanak-kanak tidak lama, ada batasan waktu. Kita sedang belajar menulis satu huruf yang ditulis belasan kali dengan bantuan titik-titik yang membentuk huruf tersebut sehingga kita hanya perlu mengikuti titik-titik tersebut. Kita baru menyelesaikan sekitar lima huruf, dan waktu habis. Semua senang karena waktu habis dan kita bisa berhenti dari penyiksaan itu. Tapi, ...

"Anak-anak, menulisnya dilanjutkan untuk PR, ya."

JEDUAARRRRRRRRR!!!!!!!!

Begitulah asal mula PR muncul.

Seiring berjalannya waktu, kita pun tumbuh dewasa. Seiring kita tumbuh dewasa, PR juga ikut tumbuh menyeramkan. Tapi seiring kita tubuh dewasa, semua juga ikut dewasa.

Seperti ini contohnya.



Google muncul sebagai pahlawan. Sebagai pahlawan tanpa jasa, ia datang menyelamatkan malam kita dari keseraman yang menakutkan. Berkat Google, hidup kita menyenangkan.

Berikut tips gue untuk menyelesaikan PR kalian.

Silakan mencoba :)

XOXO


Minggu, 21 September 2014

Come On Over Kembali :')

Sebelum pos ini gue pernah nyebutin gue baca novel Come On Over. Sebelum pos ini juga gue pernah nyebutin kalo novel Come On Over itu hilang entah di mana. Menghilang tanpa jejak di ingatan gue, tanpa bisa gue selidiki keberadaannya, tanpa bisa gue laporkan ke polisi. Gue pun nggak sanggup untuk melupakan novel itu, bahkan gue juga nggak sanggup untuk mengingat-ingat terus. Novel itu resmi jadi mantan gue.

Mantan memang selalu menjadi penyebab utama semua kegalauan yang dramatis. Come On Over gue pun menyebabkan gue galau. Gue panik berlebihan, uring-uringan, gue bete, dan langit pun mendung. Ah jadi inget Pakel, adek gue, sama Jepri, partner petir-kilat gue. Mereka percaya langit mendung ketika gue bete. Gue juga percaya. Serius, hal ini kayak nggak bisa dibantah, karena memang beberapa kali gue bete pasti langit mendung. Hem atau gue nggak mau mengakui kalau malah langit mendung yang membuat gue bete.

Well, kembali ke topik mantan. Mantan dan gue--kita--nggak bisa dipungkiri bahwa punya memori yang sulit untuk dibuang. Karena memori itu sulit dibuang atau dilupakan, makanya mantan juga sulit untuk dilupakan. Mantan sulit dilupakan, move on sulit dilakukan. Meskipun move on itu bukan berarti lupain mantan, tapi... yah kita pilih arti move on yang bisa mendukung tulisan gue ini.

Move on. Sekarang yang harus gue lakukan adalah move on. Seharusnya nggak sulit karena gue pernah punya mantan yang harus gue move on-in, jadi di sinilah gue di tempat di mana memori hanya memori, kenangan hanya kenangan, dan mantan novel gue yang masih mulus itu sudah gue relakan. Ya, gue sudah merelakan kepergiannya. Gue yakin dia pasti udah melupakan gue lebih dulu. Yah, jujur, walaupun gue udah move on dan merelakannya gue masih punya tempat untuk dia jika suatu saat dia akan kembali.

And... he's back. DIA KEMBALI!

Secara dramatis dia kembali, meskipun gue masih belum melihat dia, tapi dia meyakinkan gue bahwa da akan kembali. Semua memori tentang kami terulang bagai film. Dan kami pun menjadi bintang film. Bahagia rasanya :')

Seua berawal dari...

Beberapa hari sebelum memulai semester baru gue menghubungi beberapa teman gue untuk menanyakan soal novel-novel gue yang mereka pinjam. Sampai pada saat salah seorang teman gue membalas, "Len minjem novel-novelnya Christian Simamora dong." Gue mengiyakan. Lalu, hal mengerikan itu terjadi. Gue bolak-balik buka lemari buku gue, cek satu persatu novel-novel gue, cek selipan-selipan satu rumah, sampai pada akhirnya gue pasrah dan tanya ke sana ke mari ke teman-teman gue yang mungkin pinjam novel itu. Gue juga tanya Irma karena seingat gue dia yang terakhir kali pinjam. Begini isi percakapannya:

22:38, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Ma come on over masih di elu kan ya?
22:38, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Gue lupa nig
22:38, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Nih

22:58, Sep 7 - Irma Rahmayani: Eh udah gue balikin pas sp len
22:58, Sep 7 - Irma Rahmayani: Dipinjem jen bukan?

23:03, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Oh iya ding
23:03, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Di mana ya?
23:03, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Jen nggak nyebutin co2
23:03, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Duh lupa

23:00, Sep 7 - Irma Rahmayani: Udah tanya jen?
23:00, Sep 7 - Irma Rahmayani: Alpin?

23:04, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Sms gue nggak deliv

23:01, Sep 7 - Irma Rahmayani: Bbm?

23:06, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Ke jen
23:06, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Alpin minjem 2 gue nggak inget
23:06, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Duh
23:08, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Bukan di alpin ma
23:08, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Duh lupa nih
23:08, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Inget banget lu nggak selesai
23:08, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Duh
23:09, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Ma besok numpang ya ma

23:06, Sep 7 - Irma Rahmayani: Ooooh iya bener
23:06, Sep 7 - Irma Rahmayani: Temen lu ga ada yg minjem?

23:11, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Enggak ma
23:11, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Gue baru beli pas ketemu ines, terus nggak ketemu dia lagi
23:11, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Lupaaaaa
23:13, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Inget nggak ma balikinnya pas kapan?
23:14, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Pokoknya pas lu sama timah
23:14, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Diajak timah buru buru gitu

23:27, Sep 7 - Irma Rahmayani: Kayaknya elu yg lagi buru2 ?
23:27, Sep 7 - Irma Rahmayani: Langsung gue kasih gitu aja

23:41, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Masa?
23:41, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Lupa-,-
23:42, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Have no idea ada di mana
23:42, Sep 7 - Leny Wiji Astuti: Argh

23:46, Sep 7 - Irma Rahmayani: Trus lu langsung pergi

00:04, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Mau pasrah tapi susah

00:02, Sep 8 - Irma Rahmayani: Duh ada kali len yg minjem cuma lu lupa

00:06, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Iya kali ya
00:06, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Duh

00:17, Sep 8 - Irma Rahmayani: Tunggu besok tanyain yg lain

00:35, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Iya ma
00:35, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Ada interlude ma?

00:43, Sep 8 - Irma Rahmayani: Maaf ya len
00:44, Sep 8 - Irma Rahmayani: Belom gue bawa, waktu itu dipenjemin ke temen ade gue
Trus gue ga pulang

06:12, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Oke ma nggak apa
06:12, Sep 8 - Leny Wiji Astuti: Duh come on over nggak di jen nih

Begitulah isi percakapan gue sama Irma via Whatsapp. Setelah itu gue gue pasrah dan nggak lagi mengingat-ingat. Tapi hal itu cuma bertahan sebentar karena gue terpaksa melihat iklan novel Come On Over bekas dijual, dan ingatan gue tentangnya mulai bermunculan. Gue pun sempet mengira si penjual novel bekas itu yang nemu novel gue :( Tapi setelah itu gue kembali baik-baik saja.

Sampai gue tiba pada sebuah momen dramatis semalam.

18:36, Sep 20 - Irma Rahmayani:

18:39, Sep 20 - Mella Apriliani: Irma kenapa?

18:52, Sep 20 - ziezie: Ada apaan nih?

18:55, Sep 20 - Siti Khotimah: Kenapa?

18:57, Sep 20 - ziezie: kalian jangan bertengkar

18:57, Sep 20 - Siti Khotimah: Jangan mecucu

18:58, Sep 20 - Nurlaela: Knp?

19:45, Sep 20 - Irma Rahmayani:

19:59, Sep 20 - ziezie: Maaaa aduhhh

20:00, Sep 20 - ziezie: leeeen kalian knpa

20:11, Sep 20 - Irma Rahmayani:
20:11, Sep 20 - Irma Rahmayani:

20:28, Sep 20 - Leny Wiji Astuti:

20:33, Sep 20 - Irma Rahmayani:

20:35, Sep 20 - Siti Khotimah: Iya ma dimaafin, maafin gua juga ya, gua banyak salah, banyak banget, suka berhalusinasi yang membuat kalian resah, maaf ya, itu becanda semuanya.

20:36, Sep 20 - Irma Rahmayani: Dah semua

Duh si Siti Timah ye-,- hahaha. Si Irma juga chat gue:

18:39, Sep 20 - Irma Rahmayani: (Isinya: 'Len, sebelumnya gue minta maaf banget sama lu, Len. Sorry udah bikin lu panik, udah bikin lu cemas, udah bikin lu resah. Maaf banget, Len')

Ya, dengan suara parau irma kirim VN itu ke gue dan ke Grup Cubutaan. Ya, Irma sedrama itu. Ya, dia Irma yang asli.

18:57, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Ma lu kenapa?
19:01, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Gue lagi resah sih ma, lagi panik, tapi nggak ada elunya

19:01, Sep 20 - Irma Rahmayani: Jadi gini

19:01, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Ape?

19:02, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Tadinya gue nggak resah
19:02, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Eh jadi resah
19:02, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Ah elu
19:02, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Magrib nih ma

19:03, Sep 20 - Irma Rahmayani: Kan ceritanya gue mau cek interlude udah dibalikin apa belom, gue cek rak buku

19:03, Sep 20 - Irma Rahmayani: Pas gue liat rak buku,
19:03, Sep 20 - Irma Rahmayani: Interlude nya ngga ada

19:03, Sep 20 - Leny Wiji Astuti:

19:04, Sep 20 - Irma Rahmayani: Adanya...

19:04, Sep 20 - Irma Rahmayani: Buku CO2 !!!!!!

19:04, Sep 20 - Leny Wiji Astuti:

19:04, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: KAMPRET

19:05, Sep 20 - Irma Rahmayani:

19:06, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Gila lu emang

19:06, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Drama abis
19:06, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Gila
19:06, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Gila
19:13, Sep 20 - Leny Wiji Astuti: Yaudah jagain ma

19:44, Sep 20 - Irma Rahmayani:


Begitulah sampai akhirnya novel itu kembali.

Ini bukan yang pertama. Hal yang sepertinya serupa pernah terjadi. Gue dan Irma sama-sama pelupa. Kami sering main utang-utangan satu sama lain. Sampai Irma bokek dan minta gue bayar utang, kami memutuskan untuk itung utang selama sekitar seminggu dan hasilnya adalah...


Utang kami cuma selisih Rp2.000. Tapi gue lupa siapa yang utang segitu.

Ya, kami memang terlalu dramatis dan terlalu buset.

Intinya gue senang novel itu kembali.

Muah :*

Sabtu, 20 September 2014

SNEEZING

Setelah minum es teh dan cappuccino cincau tanpa cincau saat pukul 12 siang hampir setiap harinya, gue mendapati tenggorokan gue sakit dan susah nelen bahkan ludah sendiri. Gue juga udah mulai batuk-batuk. Idung gue juga mulai mampet dan sekarang udah mulai meler-meler. Sekarang bersin-bersin yang bikin seluruh kepala rasanya nyeri banget. Sebelumnya gue sempet demam, tapi demamnya biasa aja.

Sekarang musim panas. Jangan minum es saat siang terik.

Jangan.

Bye :*

Booya!

BOOYA!

HEEEEEY KALIAN~ Apa kabar? Baik dong pasti :3

Hem langsung aja ya.

*kretek... kretek...*

Sekarang pukul 1:16 AM, dan gue masih bangun. Sebenernya sih gue udah ngantuk dari pukul 10 tadi, tapi gue tahan-tahan mumpung Deddy belum mau tidur. EH TAPI EH TAPIIIIIIIIIII saat pukul 11 lewat dia bilang mau tidur karena besoknya mau ke kampus. Abis bilang itu dia langsung ilang gitu, padahal gue bales bbmnya juga belum sampe satu menit, bahkan 5 detik. Yak, secepat itu gue ngetik. Setelah gue PING!!! sebanyak 6 kali dan chat ngambek sebanyak 5 kali, serta missed call sebanyak 7 kali akhirnya gue menyerah dan pergi memeluk guling. Kalo udah ditinggal tidur mana bisa tidur-,-

Sudahlah, dia udah tidur. Biar aja.

Udah lama banget nih nggak nulis, baik di sini atau di microsoft word (cerpen dan temen-temennya). Deddy bener, dia distraction banget. Bahkan sekarang gue susah fokus saat nonton film action. Rela pause segalanya demi bales bbm dia. Abisnya ya, dia kalo bales lamaaaaaaaaaaa banget jadi selagi dia bales dan mumpung dia megang hp ya langsung gue bales jadi biar dia bisa langusng bales lagi, EH TAPIIIIIIII TETEP AJA DIBIARIN-,- Jahat emang :(

Eh balik lagi deh haha. Sebenernya gue mau cerita nih.

Jadi gini nih. Gue sama Dina sering chatting lewat LINE, dan selama liburan kemarin dia ngasih banyak link magang, freelance, dan semacamnya. Yah gue coba aja kirim CV ke link itu, dan ada 3 yang bales. Yang pertama, gue disuruh nunggu. Gue disuruh nunggu informasi kalau gue nggak akan dapet informasi selanjutnya. Ya, gue ditolak. Tapi Dina diterima. Yaudahlahya~ Yang kedua, gue disuruh bikin essay. Gue sebenernya udah berencana buat bikin essay, tapi ya itu karena distraction itu dan kemalasan gue jadinya gue nggak jadi bikin essay dan gue secara nggak maco mengundurkan diri. Yaudahlahya~ Yang ketiga, gue dapet panggilan tes. HURRAAAY!!! Gue kebingungan banget saat itu. Gue nggak tau apa-apa soal tesnya kayak apa. Gue nggak tau perusahaan yang manggil gue buat tes itu perusahaan apa. Gue belum siap. Tapi tesnya sekitar dua hari setelah email itu. Ada masalah lain juga sebenarnya, gue ada kuliah Teori Sampling di jam yang hampir bertepatan sama waktu tes. Gue kebingungan lagi deh tuh. Akhirnya gue curhat ke Deddy dan Dina, terus mereka berdua nyaranin buat minta ganti hari. DAAAAAAAAN DITERIMA! Jadi gue bisa tes di hari berikutnya. Tapi ya karena kesialan gue masih melekat, KULIAH TEORI SAMPLING TERNYATA NGGAK ADA DOSENNYA! dan saat gue mau konfirmasi kedatangan gue eh dibales kayak mereka nggak pernah bikin janji sama gue. Gue ditolak lagi. Yaudahlahya~

Tapi untungnya gue dapet tawaran ngajar lagi. Ngajar matematika untuk kelas 7. Gue ngeri, jujur, gue takut nggak bisa ngajarin. Tapi, demi sepatu merah dan biru itu, gue harus berjuang. Berjuang :') Hari Senin nanti gue rencananya mau ketemu sama orang yang nawarin gue terus ngajak gue ke rumah yang akan gue datengin setiap dua minggu sekali nanti, setelah gagal ketemu dua kali. Semoga kali ini berhasil :')

Terus mau cerita apa lagi ya...

Hem...

Ah! Laptop!

Si HePi, laptop gue tercinta sekarang udah jadi manula, udah sepuh, udah lemah. Sekarang tuh kalo gue mau mainin pasti butuh dicolokin, udah kayak PC gitu butuh listrik setiap saat T.T Soalnya baru dinyalain selama nggak sampe 15 menit aja udah mati. FAAAAAK. Kalo nanti mati kan pasti mesti beli baru, dan artinya gue butuh duit. Dari mana? T.T Jual-jualin novel-novel gue? NOOOO! Berarti mesti simpen duit gaji ngajar nih. Bye-bye sepatu :(

AAAAAAAH ngomong-ngomong soal novel. Gue baru aja kehilangan novel Come On Over, yang pernah gue ceritain, novelnya Christian Simamora itu. Gue lupa gue pinjemin ke siapa, atau malah gue lupa gue taruh di mana. Pokoknya gue nggak tau dia ada di mana. Terus semenjak gue sadar gue kehilangan dia, saat gue liat iklan yang jual novel Come On Over bekas di tokopedia.com gue langsung teriak "PASTI ITU NOVEL GUE YANG ELU TEMUIN KAN??!!! TERUS ELU JUAL KAN?!!!" Ya, gue berlebihan. Tapi beneran. Duh itu novel masih mulus :(

Hiks

Hiks

Hiks

Hiks

Hiks

Hiks

Duh udah dulu hiks deh ya hiks

Mau nangis dulu hiks hiks hiks hiks :'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''


Rabu, 09 Juli 2014

YAK!

Gue selesai baca Come On Over, barusan. Dan gue itu membuat gue untuk mulai bertekad untuk memulai lagi tulis-menulis gue yang sempat gue hentikan. Gue secara ragu berjanji dalam hati tanpa berpikir, gue nggak akan membuat ide-ide yang datang menjadi sia-sia dan malah masuk ke dalam gua kemalasan gue. Gue akan menulis lagi.

EITS!! Bukan berarti gue bakalan nulis tulisan dewasa juga ya. Bukan hanya karena novel yang bikin gue mau nulis lagi itu novel dewasa, lantas gue bakal ikutan nulis tulisan dewasa juga.

Yah gue juga bingung sih mau nulis apa nantinya. Ah masih nanti, tunggu ide aja haha.

Gue suka banget film action yang melibatkan pemeran ganteng berotot dan bertato, yang rambutnya nggak gondrong, yang matanya cool, yang sebisa mungkin bukan orang Asia. Gue suka film action yang melibatkan kejar-kejaran, entah di jalan raya pake mobil atau di atas gedung (lompat dari satu gedung ke gedung lain). Gue suka film action yang melibatkan senjata-senjata cool, dan bukan bacok-bacokan yang ada kepala putus atau usus keluar-keluar. Gue suka film action yang melibatkan agen mata-mata.

Nah bicara soal agen mata-mata, gue pernah nulis tentang itu. Tapi belum selesai. Rencananya dulu gue bakalan bikin itu jadi ada seri-serinya gitu, tapi saat itu gue kedistract sama... apa ya? Lupa.

Duh dipanggil Mama gue. Bentar ya, cabs dulu.

Balik lagiiiiii, setelah disuruh rebus gula sama air buat cincau, one of my Dad's favourite.

Oke.

Saat itu gue menyelesaikan tulisan gue itu nggak sampai 24 jam. Tapi menghabiskan waktu abis solat isya sampe jam 6 pagi. Setelah itu gue nggak boleh buat tidur pagi lagi, jadinya gue jadi males.

NAH! ITU DIA! Bukan kedistract sesuatu, tapi karna merasa nggak dikasih waktu yang tepat. Sesungguhnya gue itu best friend forever banget sama dini hari, Tapi yaudahlah, hubungan kami nggak direstui, jadi kami berpisah. Double hiks :"

Just because gue jadi sering tidur cepet, gue berhenti nulis waktu itu. Nggak. Tapi tulisan gue jadi aneh, sok-sok berfrasa dan sok-sok dark gitu. Anjir gue aja jijik bacanya haha. Dina bahkan sempet jadi orang yang maksa gue buat nulis lagi, tapi abis itu gue males lagi, dan berhenti sampai sekarang. Gue jadi lebih sering baca novel aja, nonton film aja, atau gangguin Deddy di sms, whatsapp, line, twitter, fb messanger, dan telepon-telepon mengganggu. Hahaha. He changed me, my whole life. In a good way.

YAK! GUE AKAN KEMBALI. TSAAAAAAH!!!!

Please, Don't Judge Me Anything.

Gue mau cerita nih. Sekarang-sekarang ini gue lagi suka banget baca novel-novelnya Christian Simamora yang seri J-Boyfriend. Alasan-alasan yang wajar dari gue itu karena tulisannya itu bagus, menurut gue ya. Yah novel-novelnya dewasa sih, tapi gue juga udah gede kan? Yaudahlah haha. Terus, karena ini novel-novel dewasa gue jadi ngerasa pengen banget cepet-cepet kerja. Gue nulis ini sambil cerita ke Dina juga. Kampretnya dia malah ngira gue kepengen dapet adegan dewasanya. Kampret banget. Padahal sama sekali enggak. Serius.

Dulu bacaan gue nggak lebih dari novel adaptasi film, terus berlanjut baca teenlit. Terus karena temenan sama Ines, gue jadi terus baca terus terus terus. Setelah baca teenlit, gue mulai baca-baca ke romance novel yang agak lebih banget dari teenlit. Duh sebagai penikmat novel gue belum ngerti soal gitu gituan, gue nggak tau namanya apa. Duh gagal banget. Biarin.

Gue sekarang udah kuliah, dan gue sekelas sekaligus berteman dengan Heru si penikmat film dan sekarang menjadi pemasok film buat gue. Dulu, waktu SMP gue sama Ines sering ke bioskop buat nonton film. Pengeluaran gue untuk film saat SMP dan kuliah sekarang sangat SANGAT sangat berbeda jauuuuuuh. Mana gue nontonnya di Puri, SELALU. Dulu uang jajan gue nggak sebanyak waktu gue kuliah padahal. Pasti gue jago banget nabung nih dulu... atau jago nggak makan demi nonton? Ah lupa. Hahaha. Terakhir aja waktu gue sama Ines nonton The Fault In Our Stars harga tiket hari Senin Rp40.000. Dulu berapa ya... lupa (padahal masih nyimpen tiket bioskop jaman dulu).

Novel pertama Christian Simamora yang gue baca adalah Pillow Talk. Ines sempet bilang kalo itu novel dewasa, tapi bagus. Dan jujur gue mengiyakan. Setelah itu gue beli All You Can Eat, soalnya heboh banget di timeline twitter gue dan Dewanti juga ternyata suka dia. Irma juga. Ah gue nggak sendirianlah~ Setelah itu gue dipinjemin Good Fight di rental yang suka didatengin Dewanti. Buset itu Good Fight haha. Setelah Good Fight gue beli Guilty Pleasure, dan nggak lama berselang gue beli Come On Over. Gila! Produktif banget ya dese~ Gue sebagai penikmat novel pasti punya keinginan buat bikin novel, dan setelah baca behind the scene GePe sama CO2 yang cuma diselesaikan sekitar 3 bulan gue jadi gila sendiri. Gue bukan apa-apa. Sekarang pun gue nggak nulis-nulis lagi. Hiks.

Cukup itu aja kali ini.

Intinya gue suka baca novelnya Christian Simamora yang seri J-Boyfriend bukan karena itu novel dewasa. Please don't judge me anything. Lagian gue udah nyobain semuanya kok. Dan terlepas dari kata dewasa di sampul belakang novel-novelnya, novelnya beneran bagus. Keren.

Okay, that's it.

TOLD YOU!

That one. Yang itu. Resiko yang itu.
Told you!
What should I do? You tell me.

Kamis, 03 Juli 2014

Gembul

I think I finally find someone. That one. That gembul one.
Dia indah, melepas gundah~

Sebenernya sih gue takut. Gue dulu pernah bilang begitu. Di masa lalu gue pernah merasa kalau gue akhirnya menemukannya. Tapi, kemudian gue kaget karena nggak begitu lama waktu berselang setelah gue merasakan hal tersebut gue diserang sebuah kenyataan yang sampai sekitar dua tahun lebih yang lalu gue beri nama 'Akhirnya Gue Menemukan... Siapa Ya?'.

Yah, seharusnya gue nggak perlu merasa kaget, karena di masa lalu itu pun semua dimulai dengan sebuah momen yang nggak greget dan singkat banget. Meskipun masih lebih singkat janji sebuah produk pembasmi nyamuk semprot satu detik itu dibanding momen di masa lalu itu. Kami--ya, kami. Akhirnya gue terpaksa menulis begitu--bahkan saat itu belum pernah bertemu hampir sekitar tiga tahun. Saat kata 'US' tercipta oleh kesepakatan dari kami, baru sekitar dua minggu kemudian kami bertemu kembali setelah tiga tahun tidak bertemu bahkan berkomunikasi. Saat itu pun gue memang nggak menjanjikan apa pun ke hati gue, sampai saat itu datang. Yah, saat di mana kebiasaan memanggil 'kamu' dan bukan 'elo' memaksa gue untuk takut kehilangan. Ya, gue pernah merasa takut kehilangan. Pernah. Dan gue juga nggak pernah berniat untuk menganggap perasaan itu adalah hal yang biasa. Biarkan aja begitu.

Dan, di sanalah kami saat keputusan sepihak itu mengakhiri semuanya. Di sanalah gue saat hati gue memutuskan untuk pergi. Sangat jelas dia tidak menerimanya, tapi terlambat. Sudah gue putuskan gue akan pergi. Keputusan yang gue buat untuk yang kedua kalinya, dan tidak akan pernah ada yang ketiga. Hati gue pun menuntut kebenaran atas keputusan gue. Yang sekarang hati gue puas. Sepertinya.

Air mata terus mengalir, membawa semua momen-momen yang terekam bersamanya, sampai tetes terakhir yang nggak jadi gue teteskan. Tetes yang membawa satu ketakutan itu. Gue nggak ngerti.

Gue kembali berkelana. Gue kembali berlayar. Gue kembali mendaki. Gue kembali memanjat. Sampai akhirnya gue jatuh.

Padanya, gue jatuh.

Jatuh terlalu dalam. Ke suatu tempat yang tak memiliki tangga, tali, atau akar-akar yang merambat untuk dipanjat. Tidak ada. Dan gue pun nggak pernah berencana untuk kembali ke atas. Di sini terlalu menyenangkan. Di sisinya terlalu menenangkan. Gue kembali mengambil keputusan. Sebuah keputusan untuk tinggal di sana untuk selamanya. Karena akhirnya gue menemukannya.

Gue terpaksa teringat pada ketakutan gue yang 'itu'. Ketakutan untuk kehilangan tempat tinggal gue yang baru ini lebih besar dari yang 'itu'. Sangat besar. Sangat besar sampai gue buta. Gue yang seharusnya percaya, dan membiarkannya hidup dalam hidupnya, malah membuatnya merasa terkurung oleh tangisan-tangisan berkarat. Semua ketakutan membutakan gue akan semua yang logis.

Pikiran normal yang gue miliki adalah pikiran egois yang nggak berani ambil resiko. Gue terlalu takut akan apa pun yang terjadi di masa depan. Gue takut gue akan kembali bertanya 'Siapa?'. Bodoh, kan? Pengecut, gue tahu.

Dua kali gue hampir kehilangan lagi. Dua kali dan belum sanggup membuat gue jera. Tapi ada satu saat di mana gue mulai berani ambil resiko itu. Pelan-pelan. Sedikit-sedikit, sampai-sampai nggak kentara. Tapi gue yakin gue udah memulainya. Kemudian ketakutan lain mulai menjamah pikiran gue. Sebuah ketakutan di mana gue nggak peduli akan dia.

Galau.

Sampai kapan pun gue nggak akan pernah ngerti. Ini rumit bagi gue. Gue nggak bisa apa-apa, jadi gue biarkan begitu.


"Aku minta maaf karena aku meminta terlalu banyak dan terus memaksa kamu melakukan semua hal yang aku mau. Aku minta maaf karena tanpa sadar aku memaksa kamu untuk berubah menjadi bukan kamu. Aku minta maaf atas banyak hal, semuanya. Aku minta maaf.
"Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan dan mengabulkan permintaanku yang aneh-aneh. Terima kasih kamu mengerti aku. Terima kasih atas banyak hal, semuanya. Terima kasih kamu mau kembali untuk yang kedua kali. Terima kasih banyak atas semua kata sayang yang telah kamu ucapkan dan yang akan kamu ucapkan (hehe :D)
"Aku berharap kamu selalu di sini, selamanya. Aku harap kamu biarkan aku tinggal, selamanya. Aku harap aku boleh terus memanggil nama kamu dan kamu berbalik memanggil namaku, selamanya.
"Bagiku cuma kamu, Sayang (Gembul :D)."

Selasa, 14 Januari 2014

Double

Rasanya udah lama banget gue ngerasa pengen nulis saat perasaan gue lagi buruk banget. Rasanya udah lama banget. Mungkin gue keasikkan curhat ke orang lain, atau bahkan gue kecanduan dialihkan perhatiannya. Maksudnya gue lebih milih untuk cari sesuatu, atau seseorang, untuk buat gue lupa akan masalah gue.

Yang gue dapet dari nulis saat lagi bete adalah perasaan gue bisa lumayan lega karena gue mencurahkan isi hati gue di tulisan gue, atau malah gue bikin salah satu tokoh di tulisan gue jadi mati dibunuh sama tokoh utama. Biasanya gue nulis cerpen yang sudut pandangnya orang pertama, biar berasa. Cukup berhasil.

Curhat. Beban gue bisa berasa lebih enteng setelah curhat. Kenapa? Menurut gue, beban itu keluar bersamaan dengan keluarnya air mata gue yang gue keluarin saat curhat, semakin banyak air mata keluar dan semakin berlebihannya gue sesenggukkan maka semakin banyak beban yang ikut keluar.

Satu lagi: cari pengalih perhatian. Kalau objek yang akan kita bicarakan adalah manusia, maka objek yang cocok yang gue butuhkan adalah Deddy. Pikiran gue bisa cuma mikirin dia kalau lagi ngobrol sama dia, jadi yah gue benar saat gue bilang kalau dia orang yang cocok. Semoga orangnya nggak keberatan :D

Saat ini perasaan gue lagi kacau. Seperti yang udah gue kasih tau, gue pergi ke ketiga option tadi. Deddy yang pertama gue cari, tapi dia belum muncul. Jadi gue menuju option yang lain: nulis. Ini dia tulisan gue. Isinya curhatan. Jadi gue bisa ke dua option secara sekaligus. Semoga beban gue ilangnya double.

Karena tulisan ini bakalan gue publish, jadi kayaknya sisanya bakalan gue tulis dengan sebuah tanda: titik.

.

Besok Lagi!!!

Post ini gue awali dengan: "Post ini gue awali dengan," yang kemudian gue lanjutkan dengan sebuah pertanyaan: "Apa salah satu syarat untuk dapat mempertahankan hidup?"

Pasti di antara kalian yang sekarang lagi baca post gue yang ini langsung jawab dengan jawaban yang masing-masing kalian pasti berbeda. Tapi paling enggak ada dua orang yang punya jawaban yang sama, misalnya jawaban gue sama kayak salah satu dari kalian. Jadiiiiiii siap-siap ya siapa yang bakal dapet kehormatan untuk punya jawaban yang sama kayak gue! Ayo siap-siap!!!

Siap?

...

Siap nggak nih?

...

Udah siap?

...

OKE!

MAKAN!

Yak! Itu jawaban gue. Makan. Yah untuk sebagian orang yang udah kenal gue mungkin lelah ya denger kata makan dari gue, terlebih lagi untuk beberapa orang yang sering gue ajak buat makan. Irma, Ica, dan Deddy emang orang-orang pilihan yang menurut gue tepat hahaha. Makan. Duh tolong ya siapa coba yang sanggup buat nolak makan? Nggak ada. Gue rasa. Yah terkecuali untuk orang-orang yang lagi puasa. Gimana sama orang-orang yang lagi diet? NGGAK! Mereka pasti nggak sanggup buat nolak makan. Kalau di antara kalian yang pernah dapet penolakan atas makan dari mereka yang lagi diet, kalian sebenernya lagi jadi objek iri mereka. Mereka sebenernya pengen banget makan dan nggak sanggup buat nolak tawaran makan kalian (apalagi gratis), tapi kalian tau nggak sih? mereka itu sebenernya selain lagi ditawarin makan mereka juga lagi diancem sama seseorang. Perut! Gelambir! Lemak! Mereka adalah geng jahat yang diketuai oleh Perut yang namanya udah mendunia. Perut udah punya pengaruh yang sangat luar biasa dalam bidang makan permakanan. Gila banget deh itu Perut. Sebenernya apa sih motivasi dia? Apa yang bikin dia sampe kayak gitu coba? Gue sama sekali nggak ngerti. Nggak ngerti sama sekali deh gue. Serius nggak ngerti. Sampai pada akhirnya gue merenung dan mikir semalam suntuk sampai subuh dan udah ngabisin berbotol-botol air dingin, otak gue akhirnya nyerah dan kasih jawaban ke gue. Jawabannya sebenernya masuk di akal sih.

PACAR.

Yak! Perut ngelakuin itu semua demi pacar. Demi mendapatkan pacar. Yaampun! Gilak! Keren! Gue terharu atas perjuangan Perut demi mencapai impiannya. Gue salut :') Dan gue menyampaikan keterharuan gue pada Perut yang saat itu sedang berteriak-teriak di tengah kerumunan sebuah restoran cepat saji yang sering disebut mekdi. Gue makin salut sama Perut. Singkat cerita gue akhirnya bisa akrab sama Perut. Tapi hal itu nggak berlangsung lama, cuma bertahan sekitar beberapa detik. Semua berawal ketika sebuah aroma harum menyenangkan milik burger yang menyeruak masuk ke dalam lubang hidung gue yang nggak seberapa besarnya. Dan semua berakhir ketika gue meletakkan kertas pembungkus burger di atas sebuah piring berwarna putih di hadapan gue. Keakraban kami terputus. Perut gue bungkam dengan telak. Gue menang!

GUE MENANG!

Jadi gue memutuskan untuk melawan Perut mulai detik itu. Gue sadar gue salah teman.

Jadi untuk mempercepat cerita di posting ini, gue bakal langsung aja.

Sebenernya gue suka banget olahan daging ayam. Apa aja. Tapi, gue akhirnya disadarkan oleh sebuah kenyataan yang sangat luar biasa. Gue nggak nyangka gue baru sadar hal itu setelah hampir 19 tahun gue hidup. Dia adalah ayam bakar. Seseorang mengenalkan gue dengan seporsi ayam bakar yang nama belakangnya adalah lotus. Suapan pertama dan rasanya langsung berasa di lidah gue. Nikmat bercampur perih. Rasa bumbu dari ayamnya yang udah meresap ke daging yang baru aja dibakar seperti cowok paling romantis di dunia, manjain banget! Rasa dari sambel yang warnanya merah membakar itu juga... BERASA MEMBAKAR SARIAWAN GUE!!! Yah, kesan pertama yang buruk, sangat buruk. Tapi, demi menjalin hubungan yang baik gue paksakan diri untuk menghabiskan ayam bakar itu meski sariawan gue menjerit-jerit di dalam sana.

Gue mengulang hubungan awal kami dari awal. Paling tidak membuatnya menjadi baik. Kali ini ayam bakar kantin mipa. Rasanya nggak kalah enak dari lotus. Lotus tetap masih jadi urutan pertama di lidah gue. Nggak cukup sampai di situ. Deddy, cowok yang ganteng kalau dilihat dari samping, mengajak gue untuk makan ayam goreng samping arion. Saat itu bulan puasa, dan Deddy ajak gue buka puasa bareng sebelum dia pergi bertemu bapak dan keluarganya di Kalimantan Timur.

Sssttt gue kasih tau satu rahasia ya. Ini cuma di antara kita aja loh ya. Jangan kasih tau orang lain.

Ayam bakar samping arion punya rasa ayam bakar ter-COOL! Lo mesti cobain gimana rasanya sesuap aja bisa bikin lo berasa dilamar cowok paling keren sedunia. Lo bakalan pengen ngunyah terus satu suapan itu entah sampe kapan. Lo nggak bakal rela biarin satu suapan itu jatuh ke Perut. Lidah lo bakal terlena banget sama cita rasa ayam bakar sejati.

Cuma satu yang bakal lo katakan dengan lantang:

BESOK LAGI!!!

Some Things New

HOI HOI HOI~

APA KABARE, REK?????

APIK????

EH APIK ITU KAN MAKANAN RINGAN._.

HA HA HA TAU KOK GARING, KAN MAKANAN RINGAN._.

HE HE HE TAU KOK GARING LAGI._.

KAYAKNYA NGGAK ENAK LIAT TULISAN HURUFNYA KAPITAL SEMUA YA? YAUDAH UDAHAN DEH.

*PENCET CAPSLOCK*

TADAAAAAA!!!

EH MASIH ADA YA HAHAHA. BENTAR.

...

TOMBOL CAPSLOCK DI SEBELAH MANA YA?._.

YAH GARING LAGI YA? HAHA.

SERIUS DEH KALI INI.

*PENCET CAPSLOCK, BENERAN*

Tadaaa~

:D

Halooooo, apa kabar nih? Baik-baik aja dong ya :D
Gilak! Makin jarang aja ya gue posting blog, dan lagi gue juga makin jarang nulis, bahkan di tisu, udah nggak pernah lagi. Terakhir kali gue nulis, ngarang gitu-gitu ya bukan termasuk smsan atau chatting atau nulis keyword di google, kayaknya ya waktu kuliah Matematika Diskrit yang pertemuan sebelum UAS deh. Lama banget! Tanggalnya? Lupaaaa hahaha. Pokoknya lama banget deh. Terus, terakhir kali gue posting di sini itu... *cek postingan terakhir* ...waktu tanggal 7 Desember tahun lalu. Gila ya, tahun lalu. Hahaha iya tahu ini masih awal tahun yang baru. Yak! Tahun baru!

SELAMAT TAHUN BARU!!!

Well, sekarang udah tahun 2014 nih, guys. masih tanggal 14 Januari sih, tapi ya udah agak lama dari detik-detik pergantian tahun yang waktu itu gue habisi dengan nonton film Soekarno bareng Deddy di bioskop Arion, emol deket kampus ungu gue tercinta :3, film yang nggak sempet gue tonton sampai habis karna udah kemaleman dan bapak gue udah keburu jemput. Jadilah gue tinggalin Deddy sendirian nonton Soekarno sampai habis dan pulang ke kontrakan sendirian. Gue tau dia pasti berani jalan sendirian malem-malem. Lagipula kan malam tahun baru jadi nggak mungkin sepi dongs~ Singkat cerita akhirnya gue sesampainya di rumah langsung aja mandi dan selimutan di kamar sambil nonton film di RCTI, mengabaikan ramenya orangtua gue dan saudara-saudara gue di luar kamar. Ngantuk banget. Nggak lama gue selimutan, Deddy sampai di kontrakan. Dan begitulah detik-detik sebelum pergantian tahun yang gue alami, sampai pada akhirnya mama gue bersorak-sorak waktu kembang api mulai bikin terang langit yang masih bisa dijangkau dari rumah gue. Nggak lama waktu berjalan di tahun yang baru, gue tidur.

Sekarang, sesuai judul post ini: Some Things New, gue akan membicarakan tentang hal-hal apa aja yang baru. Kayak misalnya baru aja terjadi, baru aja didapat, atau baru aja dibuang.

Di minggu pertama di tahun 2014 gue mengikuti disibukkan dengan tugas-tugas bawaan UAS yang sangat menyita waktu. Amat sangat. Analisis Regresi ikut mensponsori kesibukkan gue, yaitu dengan adanya tugas menyalin ulang jawaban UAS. Yah gue nggak terlalu sibuk sih sama tugas AnReg, karena memang gue cuma nyalin apa yang udah gue tulis di lembar jawaban UAS waktu UAS-nya diadakan. Sore aja udah kelar. Selain Analisis Regresi ada juga Metode Numerik. Lo semua mesti tau dia! Metode Numerik itu kuliah yang nyebelin. Berkali-kali gue dan temen-temen sekelas gue dibohongin. Nih ya, 'Besok ada MetNum jam 10, untuk ruangan nanti dikabarin lagi,' tapi ternyata apa? Nggak jadi ada kuliah! Gila kan! Dikabarinnya saat udah sampai kampus! Gilak! Perjalanan dari rumah ke kampus tuh tiga jam! TIGA JAM!!! Mana berdiri-_- Masih banyak momen-momen menyebalkan dari MetNum itu, tapi semua sama. Ditambah lagi, misalkan jadi kuliah pasti kuliahnya melebihi batas. Parah, nafsu banget kan-,-

Eh sorry jadi curcol haha. Tugas MetNum yang gue maksud adalah UAS take home. Gue menunda-nunda ngerjainnya jadi kena akibatnya sendiri deh. Gue ngerjain dengan tangan gemeteran dan jantung yang kayaknya berpacu melebihi kuda pacu paling jago. Parah. Panik banget berasa dicubitin sama deadline! Gue pada akhirnya ngirim UAS itu pukul 23.47. Ajaib.

Eh tapi tunggu. Format nama file yang gue kirim ternyata belum sesuai, saudara-saudara! WTF!!! Akhirnya gue rename dulu baru gue kirim. Dan lo tau gue akhirnya kirim UAS gue pukul berapa?

23.58

Huh, untungnya sih udah lewat ya masa-masa itu.

Selesai itu gue bisa tidur dengan tenang.

Dan akhirnya artinya apaaaaa?????????????

IT'S HOLIDAY!!!

IT'S WATCHING TIME!!!

:')

Gue menikmati liburan ini dengan menonton banyak film, hadiah dari laptopnya Heru Wibowo. Terima kasih banyak :')

Sekarang kita beralih ke apa aja yang baru aja didapat. Nggak banyak. Selain kesehatan, gue dapat hasil nilai akhir gue. Geometri Analitik gue C. Yah nggak apalah. Lo juga mesti tau, dosennya itu yaampun kasih nilai nggak tanggung-tanggung. A B C D E. HHHHHHHHHHHHHHHH

Gue rasa sih itu aja.

Eh tapi ada lagi ding yang lebih penting.

Ada yang baru aja gue buang. Tisu bekas menyeka air mata gue baru aja dibuang sekitar tiga atau empat hari yang lalu. Yang paling banyak sekitar lima hari yang lalu. Nggak usahlah ya gue kasih tau jelasnya. Intinya, tanggal 22 udah diganti tanggal 11.

Yeah, it was so drama. But, that's fine for me (I'm not sure for him).

Sebenernya agak nggak rela juga sih ya. Kenapa mesti tanggal 11 coba-_- Itu kan tanggal jadiannya Rick sama pacarnya dan Andri (cem-cemannya Pakel) sama pacarnya. Ah yaudahlah sama aja hehe.

Ada lagi yang gue buang. Sifat keegoisan gue, nyebelin, suka ngambek, berisik, suka ganggu, bakalan gue buang sedikit-sedikit. Demi misi yang sempat gagal. Demi cinta. Demi dia :3 <3 font="">

I swear to my laptop.

I swear to you.

Thanks :) It's absolutely great to have you back :) And please, do not ever go anymore. Just stay.

Ded, I love you.