Senin, 21 November 2016

Nyata dalam Gelap


Terangku berubah gelap dalam sekejap
Sinar duniaku seketika lenyap
Cahaya yang sempat ada kini menguap
Hitam pekat sekarang menjadi atap

Dahulu, yang kukira nyata kini kabur berubah semu
Entah, mungkin memang semu sejak dulu
Sekarang terasa seperti lagu romansa indah berubah lagu sendu
Dan sesederhana dua menjadi satu

Harapanku ternyata tidaklah sempat terdengar merdu
Yang awalnya indah kemudian berlalu
Bodoh sekali aku sempat terpedaya racun cumbu
Pahit rasanya memaksa berteriak, tapi kelu

Kebodohan menyerang jantungku dengan telak
Kekeliruan menyumbat aliran darah, dan membunuhku kelak
Keluguan menguasai akal sehat, rusak
Keindahan sementara merebut oksigen dari paru-paru, sesak

Lalu gelap menyeruak, tapi di sinilah kutemukan nyata
Nyata dirimu berdiri di sana menungguku menyapa
Kau terlihat tenang tak ingin merusak yang ada
Dan akulah yang selama ini buta

Maafkan aku tak sempat melirikmu
Maafkan aku sempat menganggapmu batu
Maafkan aku membiarkan belati mengisi hatiku
Maafkan aku bila terlambat mengucap aku mencintaimu

Sabtu, 19 November 2016

Sampai Kau Hadir

Apalah aku
Hanya berteman dengan angin
Hanya berteman dengan malam dingin
Hanya berteman dengan langit malam yang beku

Apalah aku
Seperti kopi yang merindukan gula
Seperti kopi yang rela mengirim kepulnya untuk mencari gula miliknya
Seperti kopi yang pasrah kehabisan kepulnya

Tapi, tak apalah
Masih ada dingin yang menyelimutiku
Masih ada pahit yang memenuhi duniaku
Sungguh, tak apa

Mungkin, kalau diizinkan
Aku ingin sekali berharap dapat hidup di suatu senja
Aku ingin sekali berharap dapat menyesap manisnya gula

Aku ingin sekali merasakan rindu yang sempat tiada

Sempat kurasakan semua itu
Sempat aku hanya mampu berharap

Sampai kau hadir
Menciptakan pelangi di suatu senja dan membawaku ke sana
Membawa manis serta hangat untuk kopiku
Memberikan teduh, manis, serta hangat yang dahulu hanya mampu kuimpikan

Sungguh aku bingung
Bagaimana caraku untuk berterima kasih?

Sungguh aku takut
Bagaimana aku membuatmu bertahan?
Atau,
Bolehkah kau membuat dirimu sendiri bertahan?

Terima kasih, aku bahagia.
Tapi, aku juga takut.

Matematika


Prosesnya selalu sama. Pertama-tama ruangan di sekelilingku berputar, kemudian terlihat kabur. Sampai pada akhirnya menyisakan warna putih. Dan kuyakin mataku masih terbuka.

Prosesnya selalu sama. Pertama-tama terdengar bisik-bisik menyeramkan, kemudian hilang terganti oleh dengungan yang memekakkan. Sampai akhirnya tidak ada suara sama sekali.

Kepalaku pening.

Matematika.

Entah sihir apa yang telah dilancarkan makhluk itu padaku.Tapi yang jelas tubuhku seperti terbelah-belah menjadi potongan-potongan kecil yang jumlahnya tak terhingga.

Perih.

Aku sakit kepala.

Aku gila.

Jumat, 04 November 2016

Terima Kasih, Hujan


Dari kejauhan kau akan melihat sesosok manusia, melangkah dengan gontai. Di tengah keabu-abuan ini sosoknya terlihat sangat hitam, pekat. Tanpa celah.

Aku, adalah sosok itu.

Waktu dan memori telah mengubahku menjadi hitam pekat, dan dunia di sekelilingku menjadi abu-abu. Sangat kelabu. Sangat kelam.

Tak ada tujuan, kakiku tetap melangkah. Tak ada tujuan, aku terus tersesat, di duniaku sendiri. Tidak, aku bahkan tidak mengenali duniaku lagi.

Kejujuran menghancurkan. Ya, dalam hidupku hal baiklah yang merusak sampai yang kuharapkan dalam hidupku kini hanyalah hal buruk.

Kuberi tahu, duniaku sangatlah sempit sekarang. Hanya berupa lorong berwarna abu-abu dengan memori-memori terpasang di bagian kanan dan kiri. Tinggallah pilihanku untuk menoleh atau terus menatap ke depan. Pilihanku adalah jalanan aspal yang kulewati. Aku terus berjalan.

Langkahku terhenti. Ada suatu sosok di sana.

Aku bisa melihatnya.

Aku bisa merasakan keberadaannya.

Aku bisa melihatnya kesakitan.

Aku bisa merasakan sakitnya.

Aku bisa melihat semuanya.

Aku bisa lihat itu saat bercermin.

Aku menghela napas, kemudian kembali berjalan. Bukan lagi lorong abu-abu penuh memori, tak tau di mana aku tengah berada. Kurasa aku hanya perlu terus berjalan, membiarkan diri terbawa takdir. Ya, takdir, pilihan terakhirku. Biarkan takdir yang mengarahkan langkahku. Aku tak peduli lagi jalan cerita apa yang ditakdirkan untuk diriku, sungguh aku tak peduli lagi. Berikan aku sebuah pena agar aku dapat meberikan titik pada ceritaku, agar semua berakhir. Tak perlu akhir bahagia, aku hanya perlu ini berakhir.

Aku menghela napas lagi.

Aspal yang kupijak perlahan berubah menjadi rumput dan angin mulai menerpa kulit. Langkahku kembali terhenti. Langit masih kelabu, membawa mendung bersamanya. Masih abu-abu, meski tanpa lorong menyesakkan. Langit tak cukup berawan untuk membuat hujan, tapi cukup berawan untuk membuat duniaku semakin redup. Akankah pelangi tetap hadir meski tanpa hujan?

Ya, aku berharap sesuatu hal baik terjadi padaku sekarang.

Kupejamkan mataku, dan kurasakan cairan dingin jatuh di wajahku. Tetes demi tetes jatuh menyerangku, tapi aku tersenyum. Belum pernah aku merasa bahagia hanya karena hujan. Perlahan seiring dengan terbukanya mataku, tetes-tetesan mulai ikut berhenti. Sebuah pelangi di sana, sangat indah. Dan, di sana, di ujung sana berdiri sebuah pohon yang menaungi sebuah sosok. Tanpa sadar aku kembali melangkah.

Di sanakah takdirku?

Kalau iya, tolong jangan beri aku pena. Aku perlu pastikan ceritaku berakhir bahagia terlebih dahulu.
Masih abu-abu, memang. Tapi tak ada lagi lorong kemalangan. Jangan beri aku pena, beri aku kuas dan akan kulukis kisahku sendiri. Dengan apa? Tentu saja dengan pelangi yang di sana itu.

Terima kasih, hujan.

Minggu, 17 April 2016

ICEMAN



Kau mulai bisa menggambarkan keadaanmu.
Rumput hijau di bawah telapak kakimu.
Langit kelabu sebagai atap tempatmu bernaung.
Terlalu berawan untuk memberi ruang pada matahari agar memamerkan sinarnya.
Tidak cukup berawan untuk menghadirkan hujan.
Tidak ada matahari, tidak ada hujan.

Tunggu. Bukan rumput. Hanya lantai beton berwarna abu-abu.
Langit tetap sama, kelabu. Mendung.
Orang-orang lalu-lalang di sekitarmu, membuat bayangan kabur.
Celoteh orang-orang di sekitarmu terdengar bagai dengungan lebah yang memekakkan telingamu.
Ya, dan bukan hijau tapi hanya kelabu.
Kau benci, tapi kau hanya diam.

Kau menatap langit kelabu yang membawa mendung bersamanya.
Kau bertanya, kenapa mendung saja dan tak kunjung hujan?
Sebernarnya sama seperti dirimu, sekarat tapi tak kunjung mati.
Kau tersenyum getir, hampir tertawa. Tawa khasmu, sarkastis.

Kau sadar.
Kau sekarat.

Kau memejamkan matamu, memberikan seluruh kekuatan indramu pada kulit putih pucatmu.
Hanya gelap yang mengisi indera pengelihatanmu.
Hanya dengungan lebah menyebalkan yang mengisi indera pendengaranmu.
Hanya kokain yang mengisi paru-paru serta darahmu.
Sejenak kemudian kau merasakan kristal dingin jatuh tepat di kelopak matamu yang terpejam.
Kau rasakan kristal itu menyatu dengan kulitmu, dan terus menjalar ke seluruh tubuhmu.
Yang kau lihat hanya kegelapan.
Yang kau rasakan hanya dingin.
Hanya kabut beku yang mengisi pikiranmu.
Kini, hatimu juga beku. Hanya berisi es, tak ada lagi yang lain.

Angin berembus semakin kencang dan semakin dingin yang kau rasakan pada seluruh kulitmu. Begitu pula dengan hatimu. Dingin.
Kau rasakan wajahmu memucat.
Putih.
Kini, kau bukan lagi abu-abu.
Bukan.
Kau putih.
Dingin.

Perlahan kau membuka matamu.
Kristal dingin mulai menyerbu dirimu, dan menyelubungi tubuhmu sebagai baju zirah. Melindungimu dari semua keabu-abuan.
Kau rasakan kau mulai hidup, di bawah dingin sebagai sumber kekuatanmu.
Kau menatap langit yang masih mendung, dan merasakan ia berpesan, “Kukirimkan dingin ini untukmu.”
Kembali kau memandang sekitarmu, lebah-lebah sekarat tapi tak kunjung mati.
Kau pun sekarat, tapi kau tak lagi abu-abu.
Dan kau tak boleh mati.
Karena, dunia tak boleh menang.


Yah, nggak sebagus yang lu buat sih. Gue juga masih amatir.
Sekali lagi, selamat ulang tahun, hmm teman? Hahaha.
Happy birthday, Iceman. And keep being green and lonely. 

Rabu, 16 Maret 2016

Apa yang Harus Kukatakan?



“Pernahkah terbersit di pikiranmu, atau pernahkah kau menanyakan apa arti dari hubungan kita ini?”
Punggungku terasa panas ketika pertanyaan itu terlontar dari perempuan di sebelahku. Angin malam menerpa lembut, dingin menggigit kulitku yang tak tertutup jaket. Sangat kontras.
Aku menautkan jari-jari tanganku gelisah.
Apa yang harus kukatakan?
“Kau mendengarku, Dave? David?” perempuan itu menyentuh pergelangan tangaku, mengguncangnya. Kurasakan kedua matanya menatapku. Tapi aku?
“Sore sudah lama pergi, ayo kita pergi juga,” kataku. Aku bangkit berdiri, tak mengindahkan jemarinya yang hampir tertaut di jemariku. Beberapa langkah menjauh darinya, yang masih duduk sambil menatap punggungku, membuat rasa bersalahku makin besar.
Yang kuperbuat selama ini salah besar. Sekarang aku hanya tinggal menunggu puncak dari rasa penyesalanku yang sudah mulai muncul ke permukaan.